Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gerakan Serentak Lawan TBC di Rutan Kelas II B Praya, Deteksi Dini, Jadi Percontohan di Nusa Tenggara Barat

Lestari Dewi • Jumat, 31 Oktober 2025 | 15:56 WIB

 

Suasana skrining TBC menyasar ratusan warga binaan Rutan Kelas II B Praya, Lombok Tengah, Kamis (30/10).
Suasana skrining TBC menyasar ratusan warga binaan Rutan Kelas II B Praya, Lombok Tengah, Kamis (30/10).

Ratusan warga binaan Rutan Kelas II B Praya antusias mengikuti skrining Tuberkulosis (TBC) masal dengan teknologi X-Ray. Di balik tembok rutan, kesadaran akan pentingnya kesehatan tumbuh, menghadirkan harapan baru untuk hidup lebih sehat.

-----

PAGI itu, Rutan Praya tidak seperti biasanya. Suasana yang biasanya didominasi oleh derit gerbang dan langkah penjaga, kini diselimuti aura kesibukan yang berbeda.

Aula utama yang terbuka, atau area lapang yang biasa digunakan warga binaan pemasyarakatan (WBP) beraktivitas, telah disulap menjadi sebuah klinik darurat namun tetap profesional.

Antrean WBP teratur memanjang, membentuk barisan yang tenang namun penuh ekspektasi. Bukan barisan untuk makan atau apel pagi, melainkan antrean menuju masa depan yang lebih sehat.

Mereka datang dari sel-sel mereka, sebagian dengan tatapan serius, sebagian dengan senyum tipis, namun semuanya menunjukkan kesadaran akan pentingnya momen ini.

Inilah “Gerak Serentak Lawan TBC”, sebuah inisiatif yang menjadikan Rutan Kelas IIB Praya sebagai mercusuar pertama di NTB. Di sini, sejarah ditulis saat ratusan WBP menyambut intervensi skrining Tuberkulosis (TBC) yang belum pernah sekomprehensif ini, dengan teknologi Chest X-Ray (CXR) massal.

Petugas medis dari Tirta Medical Centre dan Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Tengah sibuk di pos-pos mereka. Di satu sisi, meja-meja skrining gejala awal dipenuhi kuesioner dan pertanyaan sederhana.

“Apakah ada batuk berkepanjangan? Demam? Penurunan berat badan?” Para petugas rutan dan sukarelawan sigap membantu mengarahkan, menjelaskan, dan memastikan proses berjalan lancar.

Pusat perhatian adalah mobil unit X-Ray bergerak. Ini bukan pemandangan umum di dalam rutan. Alat canggih ini, yang biasanya beroperasi di luar tembok, kini ada di tengah-tengah mereka, membawa harapan deteksi dini.

WBP satu per satu memasuki unit, mengikuti arahan untuk berpose di depan mesin yang akan memindai paru-paru mereka.

Cahaya singkat dan suara mesin yang berdenyut menandakan proses sedang berjalan, sebuah jendela kecil ke kondisi kesehatan internal mereka.

Sementara di sudut lain, bagi mereka yang menunjukkan gejala atau hasil CXR yang mencurigakan, Tes Cepat Molekular (TCM) menunggu. Sebuah langkah lanjutan yang presisi, untuk mengidentifikasi jejak TBC dengan akurasi tinggi.

Bau alkohol medis dan bisikan penjelasan tim medis menyertai setiap proses pengambilan sampel sputum.

Kabid Kanwil DitjenPas NTB Amam Saifulhaq, dan Kabid P3KL Dikes Loteng Putrawangsa, terlihat berkeliling, mengawasi dengan seksama, dan sesekali berbincang dengan WBP atau petugas.

Ekspresi mereka memancarkan kepuasan atas kelancaran dan komitmen yang ditunjukkan Rutan Praya. Ini bukan hanya sebuah laporan di atas kertas, ini adalah bukti nyata dedikasi pada Asta Cita Presiden, sebuah janji untuk kesehatan yang tak mengenal batas.

Kepala Rutan Kelas II B Praya M Syaripuddin Hazri, berdiri di tengah keramaian, tatapannya menyapu seluruh area. Ada kebanggaan di matanya. “Kami bersyukur dapat menjadi UPT pertama. Deteksi dini TBC sangat penting, karena kesehatan WBP adalah prioritas kami,” ungkapnya, Kamis (30/10).

Di setiap wajah WBP yang melangkah keluar dari area skrining, ada secercah kelegaan dan harapan. Harapan untuk mengetahui, untuk diobati, dan untuk kembali hidup lebih sehat. Di dalam Rutan Praya, pada dua hari yang bersejarah ini, tembok-tembok yang memisahkan mereka dari dunia luar sejenak luruh, digantikan oleh jembatan sinergi, kemanusiaan, dan komitmen untuk melawan TBC.

Kabid P3KL Dikes Loteng Putrawangsa menjelaskan, sebanyak 1.080 kasus TBC di Loteng dan membawa Loteng menjadi kabupaten dengan kasus TBC terendah se-NTB. Dalam Asta Cita Presiden, kesehatan adalah komponen utama termasuk tatalaksana pengendalian TBC secara nasional.

“Karena itu, kami memandang kegiatan seperti ini harus dilaksanakan dengan serius, terutama di lingkungan pemasyarakatan yang berisiko tinggi,” ujarnya.

Kegiatan Active Case Finding (ACF) TBC di Rutan Praya menjadi contoh konkret bagaimana sinergi antara pemasyarakatan dan sektor kesehatan dapat memberikan kontribusi bagi upaya nasional eliminasi TBC.

Melalui deteksi dini yang menyeluruh, penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat, sehingga meningkatkan kualitas hidup WBP dan menjaga kesehatan lingkungan rutan.

Editor : Kimda Farida
#Nusa Tengara Barat #Rutan Kelas II B #Lawan #gerakan #warga binaan #Rutan Praya #serentak #TBC #percontohan