Penemuan bayi perempuan di dalam kardus pada sebuah poskamling membuat warga Kampung Tiwu Lekong, Lingkungan Pengendong, Kelurahan Perapen, Praya geger.
Masih lengkap dengan tali pusar, bayi mungil yang diberi nama Cahaya Illahi itu dibawa ke puskesmas terdekat.
----
Malam Jumat itu, poskamling tua di tepi bendungan Batujai berdiri sunyi.
Dinding kayunya kusam, atap sengnya berkarat, seolah menjadi saksi malam-malam panjang tanpa penjaga.
Udara lembap setelah hujan, menyelimuti suasana yang dingin dan lengang.
Di sisi kiri poskamling, kandang kolektif sapi tampak remang. Bau kotoran bercampur jerami kering terbawa angin.
Sesekali terdengar napas berat sapi yang sedang beristirahat, suara kunyahan mereka menjadi satu-satunya tanda kehidupan di sekitar.
Sementara di sisi kanan, air bendungan Batujai tampak tenang, memantulkan cahaya bulan.
Gemericik kecil di celah dinding bendungan terdengar lembut, seolah mengingatkan bahwa dunia di luar poskamling itu masih terus bergerak.
Namun malam yang tenang itu tiba-tiba terusik. Bukan oleh lenguhan sapi, melainkan suara lirih dari tangisan bayi.
“Ditemukan Pak Muksin usai salat Isya saat hendak mengecek sapi di kandang. Belum sempat buka pintu kandang, dia mendengar suara (bayi) eeeek eeeek. Karena tidak bawa senter dan tidak berani, dia pun memanggil beberapa warga, tahu-tahu ada bayi,” ungkap Ahyar Rosidi, Ketua RT 03 Kampung Tiwu Lekong, Lingkungan Pengendong, Kelurahan Perapen, Praya, Jumat (7/11).
Warga segera melapor kepadanya. Sumber suara itu ternyata berasal dari atas kayu panjang poskamling. Di sana tergeletak sebuah kardus bekas.
Di dalamnya, bayi mungil terbungkus kain jilbab hitam yang tipis.
Wajahnya merah padam dengan bekas gigitan nyamuk, bibirnya terbuka, tangisnya lemah namun cukup membuktikan bahwa nyawa kecil itu masih berjuang.
“Lengkap dengan tali pusar dan darah-darahnya, sehingga kuat dugaan bayi itu baru lahir kurang sejam dan ditinggalkan di sana,” jelas Ahyar.
Sebelum dibawa ke puskesmas, bayi itu lebih dulu dibawa ke rumah seorang ustad.
Warga berbondong-bondong datang melihat bayi perempuan seberat 3,2 kilogram dengan panjang 38 sentimeter itu.
Di tengah keramaian, para ketua RT saling bertanya siapa ibu dari bayi malang tersebut. Namun dugaan sementara, pelakunya bukan warga sekitar.
“Kemungkinan orang luar, tidak ada yang mencurigai warga kami apakah ada yang hamil atau bagaimana,” terang Ahyar.
Kini bayi yang ditemukan di dalam kardus itu berada di Puskesmas Praya.
Ia tak lagi berjuang melawan dingin dan gelap malam.
Para perawat memberinya nama sementara, Cahaya Illahi, lambang harapan baru bagi kehidupan kecil yang ditinggalkan itu.
Di ruang perawatan khusus, tubuh mungilnya kini terbaring tenang dalam inkubator sederhana.
Udara hangat menggantikan hawa dingin bendungan.
Kulitnya yang sempat pucat kini mulai merona, napasnya teratur, dan tangisnya yang dulu lirih kini terdengar nyaring saat lapar.
“Ia sudah dimandikan dengan air hangat, rambutnya dikeringkan, dan kini dibalut popok bersih serta kain bedong tebal,” ujar bidan jaga setempat singkat.
Editor : Kimda Farida