LombokPost-Dekranasda NTB menegaskan pentingnya pengarusutamaan gender (PUG) di sektor pariwisata untuk memastikan perempuan dan laki-laki mendapat akses dan manfaat yang setara.
Upaya ini didorong melalui partisipasi perempuan, keterwakilan dalam pengambilan keputusan, serta penciptaan destinasi wisata yang aman dan inklusif.
“Kesetaraan sudah mulai terbuka pelan-pelan, namun harus didukung juga dengan legalitas,” kata Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia Iqbal dalam seminar nasional PUG Menuju Industri Pariwisata yang Inklusif dan Berkelanjutan di deBalen Soultan Hotel, Senin (17/11).
Sinta menyebut salah satu implementasi PUG adalah menciptakan destinasi wisata yang aman dan inklusif, dengan memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan, khususnya perempuan dan anak-anak.
Hal ini termasuk penegakan regulasi untuk mencegah kekerasan dan eksploitasi serta penyediaan informasi yang memadai.
“Bagaimana menciptakan destinasi wisata yang aman dan nyaman,” ucapnya.
Sementara itu Praktisi Pariwisata Berkelanjutan Giri Adnyani mendorong penguatan PUG.
Ini sebagai upaya meningkatkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan melalui perencanaan dan penganggaran program yang lebih responsif gender.
Menurutnya kesenjangan gender masih terjadi karena kebijakan, perencanaan program, dan implementasinya cenderung netral gender dan belum memperhitungkan peran serta kebutuhan perempuan dan laki-laki.
“Pelaksanaan PUG harus terefleksikan dalam proses penyusunan kebijakan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender,” kata Giri.
Giri melanjutkan PUG harus dilakukan secara kolaboratif untuk menelurkan ide dan menyelesaikan persoalan gender menuju visi bersama.
Hal ini telah dilaksanakan Kemenparekraf/Baparekraf melalui penyusunan rencana kerja PUG Tahun 2024 dan persiapan Rencana Aksi 2025-2029 yang sejalan dengan RPJMN 2025-2029.
“Ini juga sebagai wujud gender sudah menjadi bagian integral dari setiap aspek perencanaan dan penganggaran sebagai langkah yang luar biasa,” kata Giri.
Giri juga mengajak semua pihak menjadi agen perubahan bagi masa depan pariwisata dan ekonomi kreatif yang lebih inklusif.
“Sehingga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat menjadi pelopor kesetaraan gender dan mampu memberikan ruang yang adil bagi perempuan untuk berkreasi dan berkarya demi terwujudnya pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan,” katanya.
Direktur Poltekpar Lombok Dr Ali Muhtasom berharap seminar ini dapat diimplementasikan. Ia menyebut Poltekpar Lombok menginisiasi penguatan peran perempuan agar lebih aktif di luar rumah. Kesetaraan ini harus dirasakan baik oleh laki-laki maupun perempuan.
“Agar peran ini bisa dipakai, maka kemampuan perempuan harus ditingkatkan agar peluang ini bisa dimanfaatkan. Jika tidak maka hanya laki-laki saja yang menempati peluang tersebut,” singkatnya.
Editor : Jelo Sangaji