KASUS pembunuhan berencana yang dilakukan Herman Jayadi alias Belo sempat viral di media sosial. Sebelum membunuh korban, Belo si Potasium sempat meminta petunjuk dengan salat dan melempar uang koin. Keluarga korban pun histeris ketika reka adegan korban meminum “air sumpah”, yang ternyata beracun.
----
Sejak pagi halaman Polres Lombok Tengah dipadati warga. Bukan untuk berdemo, melainkan keluarga dan tetangga korban M Erwin 20 tahun yang tewas usai meminum air sumpah beracun. Mereka datang untuk menyaksikan rekonstruksi pembunuhan berencana yang diduga dilakukan Herman Jayadi alias Belo si Potasium 30 tahun.
Rekonstruksi dimulai pukul 10.19 Wita hingga 11.35 Wita di area kantin depan ruang Kanit Pidum Polres Lombok Tengah. Sebanyak 16 saksi dihadirkan. Dari 35 adegan, rekonstruksi memperlihatkan bagaimana Belo memberikan racun potasium dengan dalih air sumpah dari tuan guru.
Warga Desa Montong Ajan, Kecamatan Praya Barat itu menjalani adegan sejak malam ketika ia dan korban tidur dalam satu kamar sambil memegang ponselnya. Pada adegan kedua terlihat Belo bangun pagi tetapi ponselnya sudah tidak ada.
Geram karena korban tidak mengaku, Belo merencanakan pembunuhan. Ia sempat ragu. Dalam adegan 4 dan 6 diperlihatkan ia salat dan melempar uang koin dua kali sebelum memutuskan langkahnya.
“Seakan bimbang, mencari petunjuk mau bunuh atau tidak, koin dilempar dua kali, kalau muncul tulisan Rp 500 maka putuskan dibunuh,” ujar Kanit Pidum Polres Loteng Ipda Ferdinan Martin di sela-sela reka adegan, (Kamis 10/12).
Pada adegan kesepuluh Belo membeli potasium di warung milik saksi Laili Mustika. Selanjutnya ia membeli dua botol air mineral untuk mencampur racun pada adegan ke-12.
Setelah itu Belo menemui korban dan meminta korban meminum campuran racun tersebut dengan alasan air sumpah dari tokoh agama untuk membuktikan siapa yang mencuri ponsel miliknya. Yakin tidak bersalah, korban tanpa ragu meminumnya.
Usai meneguk air sumpah, korban berkumpul dengan beberapa saksi. Ia mengaku air tersebut terasa manis tetapi pahit seperti rebusan daun sirih. Tak lama kemudian korban kejang-kejang hingga warga panik.
Mirisnya, Belo dari dalam rumah ternyata menyaksikan korban kejang. Adegan ini memicu kemarahan keluarga korban yang hadir sehingga sempat terjadi ketegangan antara petugas dan warga.
Puluhan emak-emak menangis histeris tak kuat melihat adegan yang menimpa keluarga mereka. Beruntung Belo segera diamankan aparat sehingga situasi kembali kondusif sampai massa membubarkan diri.
Kanit Pidum Polres Loteng Ipda Ferdinan Martin menegaskan rekonstruksi dilakukan di halaman Mapolres untuk menjaga kamtibmas. Di lokasi kejadian masih ada gesekan dari pihak keluarga yang belum menerima peristiwa tersebut.
“Yang mana itu memang berkaitan dengan kamtibmas maka kami lakukan di Polres Loteng,” katanya.
Sementara itu, Halim selaku perwakilan pihak keluarga korban menuntut keadilan agar tersangka diberikan hukuman yang seberat-beratnya. Keluarga merasa kehilangan terhadap korban yang dikenal santun dan baik dalam kesehariannya.
"Kami hanya meminta keadilan, dia (tersangka, red) diberikan hukuman seberat-beratnya," katanya sembari menahan air mata.
Editor : Marthadi