Di bawah langit Gumi Tatas Tuhu Trasna yang mendung, Papuq Risah tetap tenang melinting tembakau meski luapan sungai mulai mengepung benteng batakonya. Pandangan yang kabur pasca-operasi mata tak sedikit pun menyurutkan tekadnya untuk bertahan demi menjaga rumah dan lima ekor sapi titipan.
----
Kecemasan menjadi karib yang datang setiap kali mendung menggelayut. Belakangan, langit Gumi Tatas Tuhu Trasna memang sedang tak bersahabat. Pascahujan lebat dengan intensitas ekstrem beberapa hari lalu, sungai di samping kediaman Papuq (Kakek, red) Risah tak lagi mampu menampung debit air.
Akibatnya, luapan air berwarna cokelat pekat sempat mengepung permukiman tersebut. Di halaman rumahnya, ketinggian air dilaporkan sempat mencapai pinggang orang dewasa, menyisakan lumpur dan sampah yang tersangkut di halaman serta sumur miliknya.
Mengenakan kaus putih atribut Pilgub 2024, Risah tampak duduk santai di dekat pintu rumah. Ia menyaksikan kedatangan kepala desa dan sejumlah wartawan yang disusul anggota BPBD Lombok Tengah untuk melihat lebih dekat kondisi sejumlah rumah yang berada tak jauh dari bibir sungai tanpa bronjong.
Luapan air sungai yang sempat setinggi pinggang orang dewasa itu mulai berangsur surut. Namun, genangan air semata kaki tetap harus diwaspadai mengingat lokasi rumah yang berada tepat di pinggir sungai.
Risah berkali-kali dibujuk untuk dievakuasi ke tempat pengungsian yang lebih aman. Ia tetap bersikukuh tinggal karena yakin air sungai akan segera surut. Baginya, rumah berdinding batako itu adalah satu-satunya benteng yang ia miliki.
“Belum masuk ke dalam (airnya), masih sebatas tembok bawah rumah dan halaman saja. Nanti kalau sudah benar-benar tinggi, baru saya mengungsi,” ucapnya kepada wartawan sambil melinting tembakau iris.
Keengganan Risah mengungsi disebabkan kondisi fisiknya yang baru saja menjalani operasi mata. Penglihatannya masih kabur dan ia tidak ingin merepotkan orang lain. Risah lebih memilih memantau air sungai yang berada tepat di depan rumahnya.
“Kabur-kabur saya melihat, habis operasi mata,” cetus Risah.
Secara kasat mata, kondisi rumah Risah sangat rentan jika sewaktu-waktu arus sungai menguat. Terjangan air setinggi pinggang di area luar rumah seharusnya sudah menjadi sinyal bahaya.
Namun, rasa enggan meninggalkan harta benda dan ikatan batin dengan rumah tersebut mengalahkan rasa takutnya akan ancaman banjir susulan.
“Ada titipan lima ekor sapi punya saudara di sini, saat tergenang sapi di pindah ke luar rumah pinggir jalan,” bebernya.
Kepala Desa Tanak Rarang Deboh mengaku hanya bisa memberikan peringatan, memberikan bantuan logistik, dan memantau kondisi Papuq Risah dari jarak dekat.
“Kami terus berupaya membujuk, karena status daerah kita sudah Tanggap Darurat. Cuaca diprediksi masih akan ekstrem hingga Maret,” tutupnya.
Editor : Akbar Sirinawa