Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tambang dan Wisata Tak Bisa 'Satu Atap' di Mandalika

Lestari Dewi • Selasa, 10 Februari 2026 | 09:36 WIB
Lalu Muhammad Putria
Lalu Muhammad Putria

 

LombokPost-Di tengah ambisi pemerintah memoles wajah pariwisata kelas dunia, isu aktivitas pertambangan di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika mulai memicu reaksi keras.

Kali ini, kritik tajam datang dari kalangan budayawan lokal yang menilai bahwa pertambangan dan pariwisata adalah dua entitas yang tidak akan pernah bisa berjalan berdampingan di Gumi Tatas Tuhu Trasna.

Budayawan Lombok Lalu Muhammad Putria menyatakan bahwa memaksakan pertambangan di dekat kawasan wisata premium ibarat mencampur minyak dengan air.

Menurutnya, pariwisata Mandalika dijual berdasarkan narasi keaslian alam dan keluhuran budaya, yang keduanya terancam sirna jika eksploitasi lahan terus dilakukan.

“Leluhur kita mengatakan bahwa kehidupan yang diberikan Pencipta semua harus dijaga, tidak boleh disia-siakan. Pariwisata dan pertambangan tidak bisa berjalan sejajar atau beriringan di Mandalika,” ucapnya pada Lombok Post, Senin (9/2).

​Bagi para budayawan, alam Mandalika bukan sekadar komoditas, melainkan ruang sakral yang memuat legenda Putri Nyale.

Selain itu, sebagian besar pantai di KEK Mandalik aini menjadi destinasi wisata unggulan nasional. Di mana kepentingannya bukan hanya untuk masyarakat lokal, tetapi seluruh masyarakat dunia yang hendak menikmati pariwisata di Mandalika.

“Melestarikan alam dari aktivitas tambang ilegal dengan fokus pengembangan pariwisata, saya yakin dan insyaallah akan meningkatkan taraf hidup kita lebih baik (dari sektor pariwisata),” terang Datu Kedatuan Raja Siledendeng bagian dari Kerajaan Selaparang ini.

Ada beberapa poin krusial yang menjadi landasan Budayawan agar kelestarian alam Mandalika tetatp dijaga. Pertama, wisatawan datang mencari keaslian bukit dan pantai. Aktivitas tambang, sekecil apa pun, akan mengubah topografi yang menjadi daya tarik utama fotografi alam Mandalika.

Kedua, standar wisata internasional menuntut kenyamanan. Deru alat berat dan polusi udara dari aktivitas tambang dianggap sebagai racun bagi pengalaman menginap wisatawan.

Ketiga, budayawan khawatir bahwa alih fungsi lahan besar-besaran untuk tambang akan mencabut akar masyarakat agraris dan pesisir. Di mana mengubah mereka menjadi buruh kasar ketimbang pelaku wisata yang berdaulat.

“Pariwisata itu bicara tentang rasa, estetika, dan kelestarian. Sementara tambang bicara tentang pengerukan dan sisa-sisa. Bagaimana mungkin tamu mau menikmati kelapa muda di pinggir pantai jika di balik bukit suara ledakan dinamit terdengar,” kata dia mengingatkan.

Budayawan mendesak agar pemkab Loteng melarang total segala bentuk aktivitas pertambangan ilegal di sekitar kawasan pariwisata. ​Tanpa ketegasan ini, dikhawatirkan citra Mandalika sebagai destinasi eksklusif akan merosot menjadi kawasan industri yang kehilangan identitas budaya lokalnya. 

Editor : Jelo Sangaji
#Lombok Tengah #Satu Atap #pertambangan #KEK Mandalika #Pariwisata