Upaya mengubah cara pandang tentang keluarga berencana perlahan menunjukkan hasil di Lombok Tengah. Jika selama ini program KB identik dengan perempuan, kini tanggung jawab itu mulai bergeser menjadi urusan bersama, suami dan istri.
----
SUASANA ruang kerja Kepala Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3A2KB) Loteng sederhana, tetapi penuh aktivitas. Di atas meja, tumpukan berkas tersusun rapi berdampingan dengan komputer jinjing yang masih terbuka, menampilkan data dan laporan capaian program keluarga berencana.
Sesekali layar itu disentuh. Angka-angka kecil yang muncul menyimpan cerita perubahan, tentang suami yang mulai berani mengambil peran dalam perencanaan keluarga. DP3A2KB Loteng terus mendorong keterlibatan suami dalam program KB, terutama melalui metode kontrasepsi pria.
Hasilnya mulai terlihat. Pada 2024, jumlah peserta KB pria di Lombok Tengah tercatat empat orang. Setahun kemudian, pada 2025, jumlahnya meningkat menjadi tujuh orang.
Meski masih kecil, kenaikan ini dinilai sebagai sinyal positif di tengah kuatnya stigma bahwa KB sepenuhnya menjadi tanggung jawab istri.
DP3A2KB Loteng aktif melakukan sosialisasi dari desa ke desa. Sasaran kegiatan meliputi kelompok bapak-bapak, tokoh masyarakat, hingga pasangan usia subur.
Pesan yang disampaikan sederhana, perencanaan keluarga adalah keputusan bersama dan kesehatan reproduksi bukan hanya urusan perempuan.
Salah satu metode yang terus diperkenalkan adalah KB vasektomi. Metode ini dilakukan melalui tindakan medis sederhana dengan memutus atau menutup saluran sperma, tanpa memengaruhi hormon, gairah seksual, maupun kemampuan fisik pria.
Vasektomi tidak mengubah performa tubuh, tidak menyebabkan impotensi, dan dinilai aman serta efektif sebagai kontrasepsi jangka panjang.
“Vasektomi tidak mengganggu aktivitas laki-laki. Pria tetap bisa bekerja, berolahraga, dan berhubungan intim seperti biasa,” ucap Plt Kepala DP3A2KB Loteng Kusriadi.
Penjelasan ini kerap disampaikan petugas DP3A2KB dalam setiap sosialisasi. Metode ini juga tidak memerlukan perawatan rutin seperti kontrasepsi lain, sehingga relatif praktis bagi pasangan yang telah merasa cukup dengan jumlah anak.
Namun, DP3A2KB menegaskan KB vasektomi tidak boleh diputuskan sepihak. Metode ini disarankan setelah ada kesepakatan antara suami dan istri melalui komunikasi terbuka dan pemahaman yang matang.
Keputusan tersebut diposisikan bukan sebagai pembatasan, melainkan sebagai upaya menjaga kesehatan keluarga dan kualitas hidup bersama.
Bagi DP3A2KB Loteng, peningkatan peserta KB pria bukan sekadar angka. Lebih dari itu, ini merupakan proses panjang mengubah budaya dan membangun kesadaran bahwa peran laki-laki dalam keluarga berencana sama pentingnya dengan perempuan.
“Kami tidak mengejar target besar, tetapi perubahan pola pikir,” ujarnya.
Editor : Kimda Farida