LombokPost - Hujan ekstrem yang mengguyur selatan Lombok sejak Selasa (24/2) menjadi ujian serius bagi Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika.
Sejumlah titik di sekitar kawasan sempat tergenang, memicu respons cepat Pemerintah Provinsi NTB bersama pengelola kawasan.
Namun di balik genangan itu, pemerintah melihatnya sebagai alarm penting untuk memperkuat sistem mitigasi yang lebih tangguh dan terintegrasi.
Kepala Dinas Kominfotik NTB sekaligus juru bicara pemprov, Ahsanul Khalik, menegaskan bahwa banjir tidak bisa dibaca secara sederhana.
Intensitas hujan yang sangat tinggi memicu limpasan air dari daerah tangkapan di wilayah hulu—yang berada di luar kawasan KEK—hingga meningkatkan debit aliran ke hilir, termasuk Mandalika.
“Ini momentum evaluasi bersama. Penanganan tidak bisa parsial. Harus hulu–hilir, lintas sektor, dan permanen,” tegasnya.
Menurutnya, penguatan tidak hanya pada infrastruktur seperti drainase, tetapi juga menyentuh tata kelola daerah aliran sungai, pengendalian perubahan kontur lahan, hingga perlindungan kawasan hulu.
Pemprov NTB mendorong sinergi pemerintah pusat, kabupaten, hingga akademisi agar sistem mitigasi bencana benar-benar terkonsolidasi.
Pemprov NTB turut menyampaikan permohonan maaf kepada wisatawan dan masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi.
Namun pemerintah menegaskan, peristiwa ini bukan ruang untuk saling menyalahkan, melainkan titik tolak memperkuat ketangguhan kawasan.
Bagi NTB, Mandalika bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah etalase daerah. Karena itu, menjaga kawasan ini tetap aman, nyaman, dan berkelanjutan menjadi komitmen kolektif—agar setiap ujian cuaca justru melahirkan sistem yang semakin tangguh.
Di sisi lain, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) memastikan kawasan yang dikelolanya telah dilengkapi sistem mitigasi hidrometeorologi.
Mulai dari drainase terintegrasi, kolam retensi, konsep eco-drainage, hingga SOP tanggap darurat banjir telah diterapkan dalam pengembangan kawasan.
PGS General Manager The Mandalika, Agus Setiawan, menyatakan seluruh pembangunan di dalam kawasan telah melalui kajian AMDAL, RKL–RPL, serta mekanisme Design Committee yang melibatkan unsur pemerintah dan akademisi.
“Kami siap berkolaborasi terbuka dan konstruktif dengan semua pihak. Pengembangan Mandalika harus terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Langkah teknis pun langsung dilakukan. ITDC berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara I untuk percepatan normalisasi aliran air dan pembersihan sedimen menggunakan alat berat.
"Evaluasi kapasitas drainase eksisting juga dilakukan guna memastikan daya tampung tetap optimal menghadapi cuaca ekstrem," katanya.
Editor : Marthadi