Kawasan utara Lombok Tengah menyimpan sejumlah destinasi wisata alam yang cocok dikunjungi saat libur panjang. Salah satu yang banyak direkomendasikan warga lokal adalah pemandian alami Kolam Aik Bukak, yang dikenal dengan airnya yang jernih dan suasana sejuk khas pegunungan.
----
DERU kendaraan di jalan menuju kawasan utara Lombok Tengah meningkat sejak Lebaran Idul Fitri. Tujuannya beragam. Namun banyak yang mengarah ke Kolam Aik Bukak.
Di balik perbukitan hijau Batukliang Utara, kolam itu menjadi oase bagi warga. Tempat ini dipilih untuk melepas penat usai Ramadan dan silaturahmi Lebaran.
Air jernih mengalir tanpa henti dari mata air pegunungan. Sensasi dingin langsung terasa saat kaki menyentuh permukaan kolam.
Pemandian Kolam Aik Bukak merupakan peninggalan kolonial Belanda yang dibangun ratusan tahun lalu. Awalnya dikenal sebagai "Aik Tutup". Tempat ini menjadi pemandian eksklusif bagi pejabat dan noni Belanda sebelum direnovasi pemerintah pada 1970 dan 1977.
"Pemerintah daerah pun mengubah fungsi pemandian eksklusif menjadi taman wisata publik," cetus Kepala Desa Aik Bukak Hamdan, Rabu (25/3).
Perubahan mulai terasa ketika pemerintah desa bersama masyarakat menata kawasan. Kolam diperlebar. Akses jalan diperbaiki. Fasilitas sederhana seperti gazebo dan tempat parkir dibangun. Sejak itu, Aik Bukak bertransformasi menjadi destinasi rekreasi keluarga.
Saat libur Lebaran tahun ini, suasana di sekitar kolam tampak hidup. Anak-anak berlarian di tepian air. Mereka sesekali melompat ke kolam dangkal sambil tertawa. Di sudut lain, orang tua duduk santai di bawah pepohonan. Mereka membuka bekal atau menikmati sate Bulayak.
Gemericik air berpadu dengan suara serangga dan kicau burung. Suasana tenang terasa. Pepohonan tinggi membuat udara tetap sejuk meski matahari meninggi.
Kunjungan ke Aik Bukak menjadi tradisi tahunan. Lokasinya tidak jauh dari Kota Praya. Tempat ini cocok untuk berkumpul tanpa harus ke pantai selatan atau Kawasan Mandalika.
“Karena cuaca sedang panas, pemandian kolam Aik Bukak menjadi salah satu pilihan keluarga untuk berlibur sambil berendam di air dingin,” cetus Sigit Widodo salah satu pengunjung dari Kota Mataram.
Di tengah ramainya pengunjung, keasrian lingkungan tetap terjaga. Bebatuan alami dipertahankan. Aliran air dari mata air pegunungan dibiarkan mengalir.
Warga setempat bergotong royong menjaga kebersihan kawasan. Mereka menyediakan tempat sampah dan mengingatkan pengunjung agar tidak merusak lingkungan.
Editor : Jelo Sangaji