Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Investasi Timpang Sektor Riil Terpinggirkan, Wakil Bupati Lombok Tengah: Tantangan OPD Berinovasi!

Lestari Dewi • Senin, 13 April 2026 | 10:03 WIB
BELUM OPTIMAL: Seorang nelayan menjemur hasil rumput laut di pesisir pantai beberapa waktu lalu. (Dok/Lombok Post)
BELUM OPTIMAL: Seorang nelayan menjemur hasil rumput laut di pesisir pantai beberapa waktu lalu. (Dok/Lombok Post)

 

LombokPost-Investasi di Lombok Tengah menunjukkan ketimpangan antara sektor pariwisata dan sektor riil. Di tengah pesatnya pembangunan kawasan Mandalika, sektor kelautan dan perikanan masih minim sentuhan modal.

Padahal, potensi seperti rumput laut, udang vaname, tembakau, hingga garam menjadi sektor riil yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat lokal. Namun, hingga kini sektor tersebut masih berjalan dengan skema investasi minim.

Di teluk-teluk pesisir, hamparan rumput laut menjadi tumpuan hidup ribuan nelayan. Petani lokal mampu menyuplai bahan baku industri, meski masih mengandalkan cara tradisional.

Baca Juga: Perjalanan Eks Kepala Bapperida Lombok Tengah Menuju Kursi Strategis di Pemprov NTB

Minimnya investasi pada hilirisasi membuat komoditas tersebut hanya dijual dalam bentuk mentah. Kondisi ini menyebabkan nilai tambah justru dinikmati oleh luar daerah.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Lombok Tengah Dalilah mengatakan sektor seperti tembakau, rumput laut, udang vaname dan garam belum terkelola dengan baik. 

“Tembakau, rumput laut, udang vaname dan garam menjadi sektor yang belum terkelola dengan baik. Susah-susah gampang ya, misal tembakau tidak banyak variasi produk hanya rokok namun ini kita coba hilirisasi melalui Disperindag,” ucapnya.

Setali tiga uang, budi daya udang vaname di Lombok Tengah memiliki daya saing ekspor tinggi. Namun, pengembangannya masih didominasi tambak rakyat dengan modal mandiri.

Baca Juga: Pemkab Lombok Tengah Usulkan 63 Formasi CPNS ke Pemerintah Pusat

Kurangnya investasi pada infrastruktur pendukung seperti cold storage dan akses pembiayaan membuat petambak kerap tak berdaya saat harga pasar tidak menentu.

Sementara itu, di sektor garam, petani masih bergelut dengan cara konvensional yang bergantung pada cuaca. Padahal, sentuhan investasi pada teknologi pemurnian dapat meningkatkan kualitas garam rakyat menjadi garam industri.

“Sektor-sektor ini seperti garam misalnya, memerlukan pengusaha yang memiliki pengalaman bisnis yang bagus. Tantangan pasar ini masih belum bisa, produk dibuat dengan value tinggi tetapi konsumen terbatas,” jelasnya.

Terpisah, Wakil Bupati Lombok Tengah M Nursiah menegaskan pengembangan sektor riil telah masuk dalam visi-misi pemerintahannya yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Ia menekankan pertumbuhan ekonomi daerah tidak boleh bergantung pada satu sektor.

“Ini sudah menjadi perhatian kami dalam ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Potensi sektor riil seperti pertanian, perikanan pembudidayaan, dan peternakan itu sangat besar,” ujar Nursiah.

Baca Juga: Tekanan Fiskal Bayangi Program Prioritas Lombok Tengah Masmirah

Wakil bupati meminta OPD terkait lebih maksimal meningkatkan potensi ini melalui pembinaan pelaku usaha. Ia mencontohkan rumput laut yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tinggi. 

“Jika ini maju seiring perkembangan wisata Mandalika, sektor riil ini bisa menjadi bagian dari paket wisata di Lombok Tengah,” tambahnya.

Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Pembinaan yang dimaksud nyaris tak terlihat. Penelusuran Lombok Post menunjukkan sebagian besar warga di wilayah selatan lebih tergiur mengelola jasa homestay daripada memikirkan hilirisasi produk. Kondisi ini membuat sektor budi daya seperti rumput laut, udang vaname, hingga garam seolah jalan di tempat.

Baca Juga: Dylan Wang Siap Pukau Penggemar dalam Drama Terbaru Jiang Men Du Hou, Ini Sinopsisnya!

Ironisnya, saat disinggung soal minimnya pendampingan, OPD terkait kerap berlindung di balik alasan keterbatasan anggaran. Menanggapi hal itu, wakil bupati menegaskan anggaran bukan alasan untuk tidak bekerja. Menurutnya, hal tersebut menjadi tantangan bagi OPD untuk berinovasi dalam menggaet investasi.

“Di tengah perkembangan teknologi, upaya promosi bisa gencar dilakukan melalui media sosial dan platform lainnya. Harus inovatif,” tegasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
#timpang #sektor ril #investasi #KEK Mandalika #Pariwisata