LombokPost-Suasana di wilayah Gubuk Sape, Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, mendadak pecah oleh isak tangis haru pada Selasa (12/5) malam.
Kabar yang selama 19 tahun dianggap mustahil, tiba-tiba menjadi nyata.
Ihsan alias Esan, Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang hilang tanpa jejak sejak 2007, memberi kabar bahwa dirinya masih bernapas.
Kisah pilu ini bermula saat Esan berangkat mengadu nasib ke Negeri Jiran, Malaysia, hampir dua dekade silam.
Setelah 10 tahun merantau dengan status non-prosedural, keluarga sempat mendapat angin segar bahwa Esan akan pulang melalui jalur laut Malaysia-Batam.
Namun, takdir berkata lain. Di hari yang seharusnya menjadi momen pertemuan, Esan justru hilang kontak total.
Paman Esan, Jhoni Sutangga menceritakan bahwa selama sembilan tahun terakhir, keluarga hidup dalam bayang-bayang duka.
Berbagai spekulasi pahit muncul, termasuk kabar mengenai tenggelamnya kapal bot penyeberangan yang konon tidak menyisakan satu pun korban selamat.
"Saat mau pulang dulu itu, tiba-tiba hilang kabar total. Kami sempat mengira dia sudah tiada karena ada kabar kapal yang ditumpanginya tenggelam," ujar Jhoni kepada Lombok Post, Rabu (13/5).
Baca Juga: Pemkab Loteng “Bersih-bersih” Indomaret dan Alfamart, Diminta Tutup Mandiri Paling Lambat 16 Mei
Meski sebagian besar kerabat sudah mengikhlaskan dan menganggap Esan telah meninggal dunia, sang ibu, Keberaq, tetap teguh pada pendiriannya.
Naluri seorang ibu tak pernah meleset; ia yakin putra tercintanya masih hidup di suatu tempat.
Mukjizat itu akhirnya datang melalui sebuah pesan di media sosial.
"Keponakan berhasil menghubungi saya (Jhoni Sutangga, red) lewat mesengerr. Karena nama saya aja yang diingat ruan itu," ucap Jhoni.
Esan menghubungi Jhoni menggunakan akun milik rekannya karena ia tidak memiliki ponsel.
Saat melakukan panggilan video (video call), tangis keluarga pecah seketika melihat wajah Esan yang tampak linglung dan gelisah.
Terungkap fakta mengejutkan bahwa selama masa hilang kontak tersebut, Esan ternyata mendekam di penjara Malaysia.
Beruntung, di balik jeruji besi, ia bertemu dengan warga asal Desa Montong Ajan, Lombok Tengah, yang membantunya kembali terhubung dengan keluarga.
Baca Juga: Puskesmas Batujangkih Jadi Sarang Tawon dan Rawan Roboh, Jaksa: Bukti Nyata Niat Jahat Koruptor!
Kabar kepastian hidupnya Esan menyebar secepat kilat ke pelosok desa. Di rumah keluarga besar, tangisan massal tak terbendung.
Adik Esan bahkan jatuh pingsan karena syok, sementara sang ibu terus memanggil nama anaknya dengan histeris, seolah tak percaya penantian panjangnya berakhir manis.
Namun, kepulangan Esan nantinya akan diwarnai duka mendalam. Ia harus menerima kenyataan pahit bahwa sang ayah telah berpulang ke Rahmatullah. Sang ayah meninggal dunia dalam kondisi sakit-sakitan, dengan ingatan yang terus tertuju pada sosok Esan hingga napas terakhirnya.
Baca Juga: Soal Kereta Gantung Rinjani, Pemkab Loteng Ikuti Sikap Pemprov NTB
Saat ini, Esan dilaporkan sudah berada di Batam, menunggu proses pemulangan oleh pihak imigrasi menuju Jakarta sebelum akhirnya terbang kembali ke tanah kelahiran, Lombok.
"Kami masih menunggu prosesnya di Batam. Nanti akan kami kabari lagi kapan kepastian Esan tiba di rumah," pungkas Jhoni.
Editor : Kimda Farida