Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BEEF Dorong Regenerasi Peternak, DPRD NTB: Ubah Kerja Sampingan Jadi Bisnis Utama

Lestari Dewi • Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB
Ketua Umum BEEF NTB Rahmat Wahyudi (podium) menyampaikan pemaparan materi tentang Akselerasi NTB Menuju Lumbung Ternak Nasional di Ilira Hotel, Penujak, Praya Barat, Loteng, Minggu (7/6). (Dewi/Lombok Post)
Ketua Umum BEEF NTB Rahmat Wahyudi (podium) menyampaikan pemaparan materi tentang Akselerasi NTB Menuju Lumbung Ternak Nasional di Ilira Hotel, Penujak, Praya Barat, Loteng, Minggu (7/6). (Dewi/Lombok Post)

 

LombokPost-Status Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai salah satu lumbung ternak nasional kembali diuji. Di tengah tuntutan modernisasi dan pergeseran pasar, sektor peternakan di Gumi Gora masih menghadapi tantangan klasik. Mulai dari kesiapan infrastruktur riil, wacana hilirisasi, hingga ancaman putusnya rantai produksi akibat krisis regenerasi peternak.

Ketua Umum Business, Education, Experts and Farmer (BEEF) NTB Rahmat Wahyudi mengatakan, infrastruktur peternakan di lapangan masih memerlukan pembenahan total dari hulu ke hilir. Selama ini, mata rantai bisnis peternakan NTB masih bertumpu pada pengiriman ternak hidup ke luar daerah, seperti Jabodetabek.

Menurutnya, NTB bisa meniru model peternakan di Vietnam. Sederhana, namun sangat memperhatikan kemajuan sistem pengolahan pakan. Seperti kemampuan melakukan fermentasi pakan saat musim hujan. Sentuhan teknologi tepat guna ini diharapkan mampu mendongkrak efisiensi kerja peternak di lapangan.

Baca Juga: Perumda Tiara Loteng Sebut SPAM Masmirah Butuh Lahan Satu Hektare

“Peternak kita tidak boleh lagi menghabiskan waktu seharian penuh hanya untuk mencari rumput seperti dulu. Dengan teknologi dan manajemen yang lebih baik, pekerjaan menjadi efektif dan masyarakat akan melihat bahwa peternakan adalah usaha yang menjanjikan,” kata Rahmat.

Di luar masalah pakan dan infrastruktur, ada bom waktu yang siap meledak di sektor ini, yakni krisis pelaku usaha. Saat ini, sektor peternakan di NTB masih sangat didominasi generasi tua. Jika tidak ada langkah antisipasi konkret, rantai produksi ternak di NTB terancam terputus.

BEEF NTB kini gencar mendorong pemerintah daerah untuk bersama-sama memicu regenerasi peternak. Khususnya memikat minat generasi milenial dan Gen Z. Rahmat tidak menampik hambatan terbesar anak muda masuk ke sektor ini, yakni masalah stigma.

Baca Juga: Dari Peristiwa Dugaan Pembakaran Tiga Santri di Lombok Tengah, Korban Berjuang Sembuh dan Berharap Bisa Sekolah Lagi di Tengah Trauma Kobaran

“Banyak anak muda enggan melirik sektor ini karena persepsi beternak itu kotor, konvensional, atau sebaliknya, dianggap terlalu rumit karena membayangkan teknologi yang muluk-muluk,” ungkapnya.

Karena itu, edukasi dan pembuktian di lapangan menjadi kunci. BEEF NTB ingin menanamkan pola pikir baru bahwa peternakan modern memiliki potensi ekonomi besar.

“Kami ingin meyakinkan generasi muda bahwa beternak adalah peluang usaha yang menjanjikan. Jika ditekuni, sektor peternakan ini bisa menjadi jalan kesuksesan dan kemandirian ekonomi bagi anak muda,” pungkas Rahmat.

Sinyal perubahan yang ditiupkan asosiasi peternak langsung direspons parlemen Udayana. Wakil Ketua I DPRD NTB Lalu Wirajaya menegaskan, para peternak di Gumi Gora sangat membutuhkan wadah kolaboratif yang melibatkan pebisnis, akademisi, peternak, hingga pakar.

Baca Juga: 25 Ritel Modern di Lombok Tengah Tutup Massal, Bagaimana Nasib 151 Karyawannya?

“Wadah ini penting untuk menghadapi tantangan bersama para stakeholder terkait, demi memajukan peternakan NTB ke depan,” ujar Lalu Wirajaya.

Selain wadah kolaborasi, politisi Gerindra ini juga menyoroti satu persoalan krusial di tingkat hilir yang selama ini merugikan peternak, yakni sistem transaksi. Hingga kini, mayoritas peternak NTB masih menjual hewan ternak berdasarkan hitungan taksiran per ekor, bukan berdasarkan bobot riil komoditas.

Merespons keluhan itu, pihak legislatif berkomitmen memfasilitasi pengadaan timbangan hewan ternak di pasar-pasar sasar.

“Sistem penjualan ini yang sedang kita arahkan agar lebih akurat dengan basis berat badan. Sebab itu, peternak sangat membutuhkan fasilitasi timbangan,” ucapnya.

Baca Juga: Akhir Pekan di Bawah Tenda Lembah Datu, Anak Muda Ikut Mengelola dan Membuka Peluang Ekonomi Baru

Sejalan dengan kekhawatiran asosiasi mengenai ancaman putus generasi, Wirajaya juga menaruh harapan besar pada generasi milenial dan Gen Z di NTB. Ia mendorong paradigma lama dalam melihat dunia peternakan segera dirombak total. Menurutnya, beternak tidak boleh lagi dipandang sebelah mata atau sekadar menjadi pekerjaan pengisi waktu luang di desa.

“Mindset ke depan ini harus diubah. Berpikir industri bisnis yang menjanjikan. Usaha beternak tidak lagi menjadi usaha sampingan, melainkan harus diposisikan sebagai usaha utama,” tegas legislator Udayana itu.

Dengan dukungan regulasi, ketepatan alat ukur perdagangan, dan kolaborasi lintas sektor, DPRD NTB optimistis sektor peternakan daerah bisa bertransformasi menjadi magnet ekonomi baru bagi anak muda lokal. 

Editor : Jelo Sangaji
#lumbung ternak nasional #bisnis utama #DPRD NTB #regenerasi #Peternakan