LombokPost - Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman memperkenalkan metode Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) saat meninjau persawahan di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah (Loteng), Jumat (10/7). Inovasi pola tanam terpadu itu diklaim mampu meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan petani hingga dua kali lipat.
Di hadapan petani dan penyuluh, Amran menjelaskan, metode PM-AAS dirancang untuk meningkatkan produktivitas padi nasional sekaligus memperkuat ekonomi rumah tangga petani.
“Jadi sekarang program baru ini bisa meningkatkan pendapatan petani hingga dua kali lipat,” ujar Amran kepada wartawan.
Baca Juga: Bupati Loteng Resmi 702 Atlet, Bidik 120 Emas Ajang Porprov XII NTB
Amran menegaskan, hasil panen dapat meningkat apabila petani disiplin mengikuti seluruh prosedur metode PM-AAS. Produktivitas lahan diproyeksikan mencapai minimal delapan ton dan berpotensi menembus 10 hingga 12 ton per hektare.
Menurut Amran, kunci metode PM-AAS terletak pada peningkatan populasi tanaman di lahan. Populasi tanaman yang biasanya berkisar 320 ribu hingga 360 ribu dapat ditingkatkan hingga satu juta tanaman per luasan tertentu.
Untuk menyukseskan program itu secara nasional, Kementerian Pertanian meluncurkan bantuan benih gratis dengan target satu juta hektare lahan di seluruh Indonesia. Bantuan disalurkan melalui skema Calon Petani Calon Lokasi (CPCL). Petani penerima bantuan harus berkomitmen menerapkan metode PM-AAS.
Baca Juga: Pimpinan Ponpes dan Satu Santri jadi Tersangka, Lalai Hingga Santri Tewas Terbakar di Loteng
“Ini demi memastikan efektivitas bantuan terhadap peningkatan produksi nasional,” kata Amran.
Dalam kunjungannya di Gumi Tatas Tuhu Trasna, Amran juga menyampaikan kondisi cadangan pangan nasional. Menurutnya, stok pangan nasional saat ini berada pada posisi aman.
“Alhamdulillah, stok kita sampai hari ini bertahan di angka 5,2 juta ton. Artinya, hampir pasti mudah-mudahan insyaallah sekarang kita berada dalam fase swasembada berkelanjutan,” pungkasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Loteng Zainal Arifin menjelaskan, metode PM-AAS memodifikasi sistem budidaya padi konvensional. Perbedaan utamanya terletak pada efisiensi proses awal penanaman.
Metode itu menggunakan sistem Tabela atau Tanam Benih Langsung. Benih ditanam langsung di lahan basah tanpa melalui proses persemaian. Benih ditanam rapat dalam barisan, sedangkan jarak hanya diterapkan antarbarisan.
Baca Juga: Pesona Bikin Meleyot! Ini Deretan Drama China Populer yang Wajib Kamu Tonton dari Cheng Lei
“Ini mirip dengan sistem Gogorancah, tapi kalau Gogorancah kan dilakukan manunggal pada lahan kering, nah metode baru ini diaplikasikan langsung pada lahan basah,” papar Zainal.
Proses penanaman juga dinilai lebih efektif dan efisien. Petani tidak perlu menancapkan bibit satu per satu. Mereka cukup menarik alat sederhana di sepanjang lahan untuk meratakan benih dalam barisan yang telah ditentukan.
Dinas Pertanian Loteng menargetkan penerapan metode itu pada lahan seluas 100 hektare untuk tahap awal. Realisasinya telah mencapai 51 hektare yang tersebar di Desa Perine, Desa Bunkate, dan Desa Barejulat.
Baca Juga: Infrastruktur Jalur Mandalika Beres Jelang MotoGP
“Kami akan terus berupaya dan mendampingi di lapangan agar para petani kita mau mencoba dan beralih ke metode baru yang menjanjikan ini,” tegas Zainal.
Metode PM-AAS tidak mengikat petani pada satu varietas padi. Penerapannya berfokus pada teknik pengolahan dan kerapatan jarak tanam, bukan jenis benih.
“Untuk uji coba perdana ini, pemerintah memang menggunakan varietas bibit Cakrabuana. Tapi ke depan, petani bebas mau pakai varietas apa saja, mau Ciliwung atau yang lainnya silakan. Karena yang sedang kita ubah dan optimalkan di sini adalah metode tanamnya,” kata Zainal.
Editor : Akbar Sirinawa