Cegah DBD, Warga Jelantik Dilatih Jadi Pemantau Jentik

Kimda Farida • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:24 WIB
Tim Pengabmas memberikan penyuluhan pencegahan DBD kepada warga dan kader kesehatan Desa Jelantik melalui edukasi PSN dan penerapan 3M Plus.
Tim Pengabmas memberikan penyuluhan pencegahan DBD kepada warga dan kader kesehatan Desa Jelantik melalui edukasi PSN dan penerapan 3M Plus.

 

LombokPost--Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa Jelantik, Lombok Tengah, tak lagi hanya mengandalkan penyuluhan.

Masyarakat dan kader kesehatan mulai dilibatkan sebagai garda terdepan untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes melalui pemantauan jentik secara rutin.

Upaya tersebut dilakukan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) melalui skema Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM).

Mengusung metode COMBI (Communication for Behavioural Impact), program ini diketuai Nurul Inayati, S.Si., M.Sc., bersama anggota Dr. Fihiruddin, S.Si., M.Sc., dan dr. Fachrudi Hanafi, M.Kes.

Program menggandeng Pemerintah Desa Jelantik dan Puskesmas untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pencegahan DBD.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan penyuluhan pada 19 Juni 2026. Masyarakat mendapat edukasi mengenai DBD, cara penularan, pengendalian vektor, hingga langkah pencegahan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus.

Baca Juga: IJU Berpeluang Kembali Jabat Ketua, Demokrat NTB Segera Gelar Musda

Materi diperkuat dengan pamflet dan booklet berisi panduan praktis yang dapat dibaca kembali masyarakat di rumah.

Intervensi kemudian berlanjut pada 10 Juli 2026 melalui pembentukan kelompok pemantau jentik.

Kader dan warga dilatih mengenali jentik nyamuk penular DBD sekaligus menghitung Angka Bebas Jentik (ABJ).

Pelibatan warga dinilai penting agar potensi tempat berkembang biaknya nyamuk dapat ditemukan lebih cepat dan segera diberantas sebelum menjadi nyamuk dewasa.

Ketua Tim Pengabmas Nurul Inayati mengatakan, metode COMBI tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi diarahkan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.

“Kami ingin pencegahan DBD tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat melalui PSN dan pemantauan jentik secara rutin,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan kader dan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program.

Sebab, kondisi lingkungan dapat berubah setiap saat sehingga pemantauan jentik perlu dilakukan secara konsisten.

Target yang ingin dicapai cukup jelas. Tim menargetkan ABJ Desa Jelantik mencapai minimal 95 persen sesuai standar nasional.

Baca Juga: NTB Kaji Pemasukan Puluhan Embrio Beku Sapi asal Jawa Barat

Untuk mencapainya, pemantauan jentik dan penerapan 3M Plus perlu dilakukan secara konsisten dengan melibatkan pemerintah desa, Puskesmas, kader, dan masyarakat.

Evaluasi program dilakukan setiap bulan untuk melihat perubahan perilaku serta konsistensi masyarakat menjalankan PSN.

Dengan pendekatan tersebut, program diharapkan tidak berhenti pada kegiatan Pengabmas, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan.

Kepala Desa Jelantik Mariadi mengapresiasi program tersebut.

 “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan, melakukan PSN, serta memantau jentik secara rutin,” katanya.

Pemerintah desa berharap kolaborasi bersama tim Pengabmas dan Puskesmas dapat menjadi pijakan untuk membangun gerakan pemberantasan sarang nyamuk secara berkelanjutan.

Dengan lingkungan yang lebih terjaga dan pemantauan jentik yang rutin, risiko penularan DBD di Desa Jelantik diharapkan dapat ditekan.

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : siaran pers
Pencegahan DBD DBD Lombok Tengah desa jelantik demam berdarah dengue