LombokPost - Kerusakan fasilitas pendidikan di SMPN 5 Praya Timur mendapat perhatian serius dari Pemkab Lombok Tengah (Loteng). Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri akan memanggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) untuk mendiskusikan langkah penanganan terbaik.
Pilihan pembongkaran ulang seluruh bangunan yang diusulkan pihak kepala sekolah kini tengah dikaji secara mendalam oleh pemerintah daerah. Langkah ini diambil guna menjamin keselamatan serta kenyamanan para siswa dan guru selama proses belajar mengajar berlangsung.
Baca Juga: KDMP di Lahan Sekolah Picu Sorotan
“Usulan dibangun ulang akan kita pertimbangkan. Ini bukan berarti kita mendiskreditkan orang per orang, tetapi harus kita carikan solusi alternatif terbaik agar bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi dunia pendidikan,” ujar Bupati Pathul kepada wartawan di Sirkuit Internasional Mandalika, Jumat (14/8).
Pemkab Loteng bertekad menyelesaikan persoalan infrastruktur sekolah itu tanpa menyudutkan pihak mana pun. Pemerintah memprioritaskan fungsi utama bangunan sebagai sarana edukasi yang aman.
Di sisi lain, Bupati Pathul juga meluruskan isu terkait penggunaan sebagian lahan sekolah yang dimanfaatkan untuk gedung KDMP. Ia memastikan status pemanfaatan lahan seluas 10 are dari total satu hektare area sekolah itu tidak bermasalah karena berada di atas aset milik Pemkab Lombok Tengah.
Baca Juga: Potret Buram Sekolah Pelosok di Kecamatan Praya Timur, Perpustakaan Dipenuhi Semak Belukar
“Tidak ada persoalan mengenai status lahan. Yang sempat jadi sorotan itu bangunan rusak di bagian belakang yang dikira laboratorium atau semacamnya (hendak dirobohkan karena bangun KDMP), padahal ternyata bukan, sudah kesana kan,” tegasnya.
Dengan kejelasan status lahan, Pemkab Lombok Tengah kini berfokus pada penataan teknis dan penanganan fisik bangunan yang rusak. Langkah itu dilakukan agar aktivitas belajar mengajar di SMPN 5 Praya Timur dapat segera kembali berjalan optimal.
Baca Juga: Warga Bisa Gugat Pemerintah Soal Sekolah Rusak
Sebelumnya, Kepala SMPN 5 Praya Timur Orme Santoso sangat berharap bangunan yang berdiri sejak 2007 ini bisa dibongkar ulang dan ditata kembali secara representatif. Bagi mereka, gedung yang layak bukan sekadar tempat berteduh, melainkan magnet utama untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat setempat.
“Ketika bangunan sekolah sudah bagus kan bisa menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di sini,” tutup Santoso.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post