LombokPost - Kebakaran hebat yang melanda kawasan Desa Wisata Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) menyisakan duka mendalam sekaligus kerugian material yang fantastis. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mencatat total kerugian akibat insiden tersebut diperkirakan mencapai Rp 34 miliar.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengungkapkan, berdasarkan pendataan sementara, dampak kerusakan mencakup 75 unit rumah adat serta 20 rumah warga di sekitar kawasan kampung adat. Tidak hanya permukiman, kobaran api juga merusak tempat ibadah dan fasilitas penunjang ekonomi masyarakat setempat.
“Kebakaran merusak bangunan masjid, berugak, lumbung padi, 69 lapak UMKM atau artshop, fasilitas toilet, hingga gerbang kampung adat,” ujar Pathul, Senin (24/8).
Ia menambahkan, dampak sosial dari musibah ini menyentuh 320 jiwa dari total 120 kepala keluarga (KK). Hasil pendataan ini akan segera dibawa untuk dibahas bersama Pemerintah Provinsi NTB dan pemerintah pusat, terutama guna merumuskan skema pemulihan mata pencaharian warga yang kehilangan tempat usaha.
Sementara itu, proses penyelidikan penyebab pasti kebakaran masih terus berjalan. Kapolresta Lombok Tengah KBP Heriyanto menyatakan, pada hari kedua pascakebakaran, tim Inafis gabungan Polda NTB dan Polresta Lombok Tengah bersama Laboratorium Forensik (Labfor) Bali turun kembali melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
“Pagi tadi, tim Labfor dari Bali, Polda, dan Polresta melaksanakan penyelidikan. Untuk hasilnya masih menunggu,” ungkap Heriyanto.
Baca Juga: Suasana Mencekam Saat si Jago Merah Melalap Desa Wisata Sade di Lombok Tengah
Olah TKP difokuskan pada satu titik yang diduga menjadi lokasi awal kemunculan api, yakni rumah adat di posisi paling atas yang dihuni warga bernama Rembun. Sejauh ini, polisi telah memeriksa sekitar lima orang saksi.
Heriyanto meminta masyarakat tidak berspekulasi mengenai penyebab kebakaran sebelum ada laporan resmi berbasis scientific crime investigation dari tim Labfor.
Guna menjaga kelancaran proses investigasi, area TKP di garis polisi dan dijaga ketat. Masyarakat baru diperbolehkan mendekat secara hati-hati setelah seluruh rangkaian penyelidikan lapangan selesai.
Sebagai langkah awal penanganan pascabencana, pembersihan puing-puing sisa kebakaran dijadwalkan segera dilakukan secara gotong royong. “Gabungan Forkopimda rencananya melakukan pembersihan pada hari Rabu (26/8) yang dipimpin langsung oleh Bapak Bupati,” tutup dia.
Sebelumnya, Rembun warga setempat, adalah sosok yang pertama kali menyadari musibah tersebut. Rumah adat miliknya diduga kuat menjadi titik awal kemunculan kobaran api.
Baca Juga: Pulihkan Desa Wisata Sade, The Dudas-1 Gelontorkan Bantuan Donasi Rp Satu Miliar
Kepada Lombok Post Rembun menuturkan, usai melaksanakan salat Isya, istrinya langsung tertidur lelah setelah seharian beraktivitas. Sementara dirinya masih terjaga di dalam rumah sembari menonton pertandingan sepak bola. Tak lama ia pun mengisi daya handphone (dicas), pesan sang istri sebelum tertidur pulas.
“Usai menerima telepon, saya colok isi daya hape. Lalu saya masuk ke dalam kelambu sekitar pukul 22.05 WITA untuk tidur. Belum lama terpejam, saya merasa hawa sangat panas. Pas saya cek, tembok bambu tempat charger hape sudah terbakar hebat. Tembok bagian belakang sudah habis,” beber Rembun.
Dalam kepanikan luar biasa, Rembun spontan berteriak membangunkan istrinya, lalu berlari keluar rumah sambil berteriak sekuat tenaga memberi peringatan kepada para tetangga. Api dengan sangat cepat merembet dan melahap tiga rumah beratap ilalang di sekitarnya. Merembet ke ratusan bangunan lain yang berbahan serupa.
Baca Juga: UMKM NTB Bersiap Panen Cuan di MotoGP Mandalika, Penjualan Tiket Sudah Capai 50 Persen
“Kaki saya yang awalnya sakit spontan saya paksakan lari keluar. Cuma pakai sarung dan baju yang terpasang di badan. Semua isi rumah terbakar—sertifikat, surat-surat penting, dan lain-lain habis semua karena api sudah terlanjur membesar,” pungkas Rembun.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan