LombokPost - Pemilik Yayasan Budi Sain Mangkling, Khaeruddin, akhirnya buka suara terkait insiden keracunan massal yang menimpa 352 siswa di Lombok Tengah usai menyantap paket kebab dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (11/9).
Beralih dari tuduhan kelalaian pengolahan, pihak yayasan justru mengklaim proses masak telah sesuai SOP dan menuding keterlambatan pembagian di sekolah serta kondisi perut kosong siswa sebagai pemicu utama.
Baca Juga: Sampai Kapan MBG Memakan Korban? Diduga Keracunan, 352 Siswa di Loteng Dilarikan ke Puskesmas
Khaeruddin menjelaskan bahwa menu kebab—yang diolah sejak dini hari dan dikemas pukul 04.30 WITA—memiliki batas aman konsumsi sebelum pukul 09.00 WITA, terlebih karena menggunakan campuran saus mayones yang rentan basi.
“Terlebih campuran kebab adalah saus mayonis,” ujar Khaeruddin.
Namun, dalam praktiknya, terdapat jeda waktu pendistribusian di lapangan yang membuat beberapa sekolah terlambat membagikan makanan ke para murid.
Baca Juga: Murid dari Tiga Sekolah di Batukliang Keracunan MBG, Diduga Menu Kebab dan Daging Ayam
Tak hanya soal kendala teknis penanganan makanan di sekolah, Khaeruddin juga menyoroti kebiasaan para siswa yang mengandalkan menu MBG tanpa sarapan terlebih dahulu dari rumah.
Kondisi fisik yang kosong serta riwayat penyakit maag dinilai ikut memperparah reaksi tubuh anak-anak saat menyantap makanan yang kualitasnya mulai menurun.
“Seharusnya tetap sarapan dari rumah,” cetusnya.
Terkait desakan penutupan operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mekar Bersatu miliknya, Khaeruddin memilih menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sembari menunggu hasil uji laboratorium BPOM Mataram.
Ia meyakini kasus ini bukan murni akibat kelalaian dapurnya, mengingat dari total 2.900 porsi yang disalurkan, tidak semua penerima manfaat mengalami gejala serupa.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan Berita Lombok Post