LombokPost - Ketergantungan perajin perak Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah (Loteng), terhadap pertalite mulai ditinggalkan. Teknologi pembakaran berbasis Liquefied Petroleum Gas (LPG/elpiji) diperkenalkan untuk membuat proses produksi lebih cepat, hemat, dan aman.
Sentra kerajinan perak yang berkembang sejak awal 2000-an itu selama ini mengandalkan uap pertalite dalam proses pembakaran bahan baku. Sistem tersebut menggunakan pompa injak dan tabung tekan berkapasitas satu liter.
Cara lama itu mulai menghadapi kendala. Salah satunya pembatasan pertalite di pasaran. Selain itu, masih terdapat residu cairan bahan bakar dengan nilai kalor yang menurun.
Baca Juga: HUT ke-81 RI, Unram Dorong Kampus Jadi Penggerak Inovasi
Melihat kondisi tersebut, Tim Pengabdian Kemitraan Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram) memberikan edukasi dan sosialisasi teknologi pembakaran berbasis elpiji kepada UMKM Dhimas Silver.
Tim terdiri dari I Wayan Joniarta, Wiratama, Yudhyadi, Sinarep, dan Wiryajati. Mereka didampingi mahasiswa Teknik Mesin Unram Galang Aditya Saputra serta mahasiswa KKN.
Teknologi yang diperkenalkan menggunakan brander khusus elpiji yang menggabungkan pasokan udara atau oksigen, kompresor mini otomatis, tabung elpiji, serta slang penghubung bertekanan.
Baca Juga: Tak Lagi Kewalahan Tarik Perahu, Dosen Unram Modifikasi Perahu Nelayan Pakai Lunas Pipa PVC
“Dengan sistem elpiji, perajin tidak perlu lagi menginjak pompa secara manual. Cukup mengatur katup gas dan aliran oksigen dari kompresor sesuai tingkat panas yang dibutuhkan. Perajin bisa jauh lebih fokus ke detail kriya yang dikerjakan,” ujar perwakilan tim penyuluh Unram I Wayan Joniarta kepada Lombok Post, Selasa (22/9).
Meski lebih praktis, penggunaan elpiji sempat menimbulkan kekhawatiran perajin. Terutama terkait risiko kebocoran dan ledakan tabung. Untuk itu, tim Unram juga memberikan pelatihan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
Dari sisi efisiensi, satu tabung elpiji dan satu kompresor dapat digunakan secara paralel oleh beberapa perajin. Konsumsi energi pun lebih hemat.
Suhu pembakaran elpiji yang lebih tinggi dibanding uap pertalite juga mempercepat pengerjaan perak. Pembakaran lebih bersih tanpa menyisakan residu cairan. Pasokan elpiji di pasaran lokal juga relatif stabil.
Investasi awal instalasi berkisar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Suara semburan api dari kompresor memang lebih bising. Namun, efisiensi waktu dan kenyamanan kerja dinilai sepadan.
Baca Juga: Dari Buah Tak Laku Menjadi Peluang Usaha: Inovasi Sirup Semangka Unram Dorong Ekonomi Warga
Pemilik Dhimas Silver menyambut baik inovasi tersebut.
“Setelah mendapat penjelasan dan pelatihan K3 dari tim Unram, kami jadi memahami cara penggunaan yang aman. Solusi ini sangat membantu keberlangsung usaha kami karena pengerjaan perak jadi jauh lebih praktis dan tidak bergantung lagi pada Pertalite,” ungkap Dhimas.
Program ini juga mendukung SDGs poin 7 tentang energi bersih dan terjangkau serta poin 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur. Kegiatan tersebut sekaligus mendukung IKU 3 dan IKU 5 perguruan tinggi.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan Berita Lombok Post