Dugaan Kasus Pelecehan Seksual, Wali Santri Ramai-ramai Jemput Anak, Komite Izinkan Pulang 3 Hari

Lestari Dewi • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 09:29 WIB
KEMBALI PULANG: Sejumlah wali santri menjemput anak-anak mereka di salah satu ponpes di Loteng, Selasa (22/9). Penjemputan dilakukan setelah beredarnya dugaan pelecehan seksual oleh pimpinan ponpes tersebut.
KEMBALI PULANG: Sejumlah wali santri menjemput anak-anak mereka di salah satu ponpes di Loteng, Selasa (22/9). Penjemputan dilakukan setelah beredarnya dugaan pelecehan seksual oleh pimpinan ponpes tersebut.

 

LombokPost - Puluhan wali santri mendadak menjemput anak mereka dari salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah (Loteng), Selasa (22/9). Penjemputan dilakukan menyusul kabar dugaan pelecehan seksual yang diduga melibatkan pimpinan ponpes tersebut.

Pantauan Lombok Post, para wali santri datang menggunakan sepeda motor dan mobil. Mereka langsung masuk ke asrama. Barang-barang pribadi anak dikemasi dan dibawa pulang.

Suasana asrama pun mendadak riuh. Sejumlah personel TNI/Polri terlihat melakukan pengamanan di sekitar lokasi. Penjemputan tetap berlangsung meski para santriwan dan santriwati sedang menjalani mid semester.

Baca Juga: Ada 184 Anak Jadi Korban Kekerasan di Dompu, Didominasi Pelecehan Seksual

Ketua Komite Ponpes Sahnan mengatakan, pihaknya tidak bisa membendung keinginan para wali santri. Pihak ponpes akhirnya memberikan izin kepada santri untuk pulang selama tiga hari. “Kami batasi hingga hari Kamis (24/9),” katanya.

Hanan, salah satu wali santri asal Janapria mengatakan keputusan menjemput anak dilandasi kekhawatiran. Menurutnya, orang tua ingin memastikan anak-anak dalam kondisi aman.

“Kalau sudah aman dan kondusif ya kita kembalikan lagi. Dari cerita anak-anak penjemputan ini berlangsung sejak malam hari (Senin, red),” kata Hanan kepada wartawan, Selasa (22/9).

Baca Juga: Pelaku Pelecehan Seksual di Udayana Ditetapkan Tersangka

Kekhawatiran serupa disampaikan Susanti, wali santri asal Puyung. Ia mengaku terkejut setelah mengetahui kabar dugaan kekerasan seksual tersebut. Terlebih, anaknya yang bersekolah di ponpes tersebut merupakan perempuan.

“Kaget banget saya sampai nggak bisa tidur, kalau saya jantungan mungkin sudah pingsan,” kata Susanti.

Terkait keberlanjutan pendidikan anaknya, Susanti menyerahkan keputusan kepada sang anak. Ia tidak ingin memaksakan anak tetap bersekolah jika sudah merasa tidak nyaman. Jika anak masih merasa betah, nyaman, dan aman, pendidikan akan tetap dilanjutkan di ponpes tersebut.

“Munafik ya kalau dibilang tidak (khawatir, red) pasti ada, tapi kita serahkan ke anak nanti,” katanya.

Sementara itu, Sahnan enggan berkomentar lebih jauh terkait dugaan kekerasan seksual yang menjadi alasan sebagian wali santri menjemput anak mereka. Ia menyerahkan penanganan persoalan tersebut kepada aparat penegak hukum.

“Antara percaya dan tidak, tapi saya tidak mau komentar lebih jauh soal ini,” tegasnya.

Baca Juga: Jadi Tersangka Pencabulan Puluhan Santriwati, Walid Lombok Dijebloskan ke Penjara

Kepala Desa Bunkate Maris mengatakan, dirinya mengetahui adanya penjemputan setelah mendapat informasi dari staf desa. Lokasi ponpes tersebut memang berdekatan dengan kantor Desa Bunkate. Ia kemudian datang ke lokasi bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

“Soal masalah itu yang tahu mereka, namun secara fisik tidak ada gejolak di desa, masyarakat yang datang adalah wali murid menjemput anak-anak mereka,” katanya. 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
wali santri Lombok Tengah pimpinan ponpes Jemput pelecehan seksual