LombokPost - Pemkab Lombok Tengah mengusulkan pembangunan kawasan tempat ibadah terpadu bagi semua pemeluk agama di KEK Mandalika. ITDC telah menyetujui penyediaan lahan sekitar dua hektare untuk mendukung rencana tersebut.
Rencana strategis ini digulirkan guna merespons kebutuhan para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang berkunjung ke Lombok. Tempat ibadah yang disiapkan meliputi sarana peribadatan untuk umat Hindu, Buddha, Protestan, Katolik, hingga Khonghucu.
“Pembangunan tempat ibadah lintas agama ini untuk memenuhi kebutuhan fasilitas ibadah para wisatawan yang berkunjung ke Lombok,” ujar Bupati, Rabu (7/10).
Baca Juga: MotoGP Diharapkan Dongkrak Pajak Loteng, Target Pajak Naik Rp 62 Miliar Jadi Rp 320 Miliar
Pathul menjelaskan, konsep kawasan tempat ibadah terpadu ini mengadopsi model serupa yang ada di Bali. Sarana ibadah berbagai agama berdiri harmonis dalam satu hamparan. Langkah ini sekaligus menjadi simbol kuat komitmen toleransi antarumat beragama di Pulau Seribu Masjid.
Guna merealisasikan wacana itu, Pemkab Loteng telah berkoordinasi intensif dengan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) mengenai ketersediaan lahan. Hasilnya, ITDC menyetujui penyediaan lahan seluas kurang lebih dua hektare di area strategis KEK Mandalika.
Baca Juga: Pesona Tenun dan Ketak Loteng Hipnotis Panggung Kriyanusa Jakarta
Terkait pembiayaan fisik bangunan, Pemkab Loteng memformulasikan skema berbagi peran. Pemerintah daerah berfokus pada penyediaan dan fasilitasi lahan, sedangkan anggaran pembangunan gedung diserahkan kepada masing-masing komunitas umat beragama.
Ide pembangunan kompleks tempat ibadah ini, kata bupati, berawal dari masukan serta pertanyaan langsung para wisatawan nonmuslim saat gelaran event internasional seperti MotoGP maupun agenda liburan biasa di Mandalika. Banyak pengunjung dari luar daerah yang kesulitan menemukan fasilitas ibadah yang memadai di sekitar kawasan.
“Selalu ada yang bertanya di mana mereka bisa beribadah,” cetus Pathul.
Baca Juga: Sukseskan MotoGP Mandalika 2026, Bupati Loteng Ajak Perangi Praktik Pungli
Proses konsolidasi dan ikhtiar ini telah memakan waktu lebih dari satu tahun. Sebelum melangkah lebih jauh, Pemkab Loteng telah membuka ruang dialog mendalam bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Loteng, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta para alim ulama setempat guna menyerap masukan dan menjaga kondusivitas daerah.
“Setelah diskusi panjang dan penyatuan persepsi, kami mendapat dukungan serta alokasi lahan dari ITDC untuk membangun sarana ibadah dalam satu titik kawasan,” pungkasnya.
Sumber : Liputan Berita Lombok Post