LombokPost - Dua pembalap Indonesia, Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama, siap bersaing di MotoGP Mandalika 2026. Mario tampil di kelas Moto2, sementara Veda menjalani debutnya di Mandalika dengan motor Moto3.
Pengamat motorsport Priandhi Satria menilai, balapan di kandang sendiri menjadi momentum krusial bagi pembalap Indonesia. Namun, pengenalan lintasan dan riuhnya tribun tidak otomatis menjamin podium.
“Dalam balapan, potensi harus diterjemahkan menjadi performa nyata sejak sesi latihan, kualifikasi, hingga lap terakhir,” ujar Priandhi, Jumat (9/10).
Baca Juga: Mario Aji dan Veda Ega Siap Taklukkan Mandalika
Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) periode 2022–2026 ini menuturkan, di kelas utama MotoGP, perhatian tertuju pada duel sengit perebutan gelar juara dunia. Marc Marquez tiba di Lombok dengan modal kemenangan manis di Motegi, Jepang.
Pembalap Ducati Lenovo itu hanya terpaut dua poin dari pemuncak klasemen sementara Jorge Martin yang mengoleksi 333 poin, sedangkan Marquez 331 poin. Meski Marquez menjadi salah satu favorit kuat, catatan sejarah menunjukkan bahwa Mandalika bukanlah lintasan yang mudah ditaklukkan oleh The Baby Alien.
Sejak sirkuit ini menggelar MotoGP pada 2022 hingga 2025, Marquez belum pernah sekali pun berdiri di podium balapan utama hari Minggu. Bahkan, motornya sempat terbakar pada edisi 2024, meski ia pernah mengamankan podium ketiga saat Sprint Race 2024.
“Kemenangan Marquez akan ditentukan oleh kemampuannya mengelola ketahanan ban, strategi kualifikasi, serta menghindari risiko kesalahan di awal balapan,” tambah Priandhi.
Baca Juga: Hasil Practice Moto3 Mandalika: Veda Ega Pratama Tembus 12 Besar dan Lolos Q2
Di kelas Moto3, sorotan tertuju pada Veda Ega Pratama. Datang dengan modal kuat di posisi kedelapan klasemen sementara dengan 105 poin, pembalap asal Jogjakarta ini melakoni debut di Mandalika untuk kelas Moto3. Pengalamannya menjalani dua kali sesi latihan pada Juli 2026 lalu menjadi modal penting untuk menguasai alur titik pengereman dan karakter tikungan.
Priandhi optimistis Veda memiliki potensi besar menembus barisan terdepan. Bahkan, kesempatan menuju podium juga layak diperhitungkan. “Syarat utamanya adalah mengamankan posisi start yang bagus saat kualifikasi agar tidak terlalu banyak membuang waktu mengejar rombongan depan,” jelasnya.
Menanggapi peluang Mario, Priandhi memberikan pandangan realistis. Menurutnya, hal paling penting bagi Mario adalah membangun akhir pekan balap secara bertahap. Fokus utamanya adalah menemukan ritme kompetitif dan menyelesaikan balapan dengan baik.
“Jika mampu tampil bersih, potensi finis di zona 10 hingga 15 besar menjadi target yang sangat realistis dan menjadi titik awal momentum positifnya,” kata Priandhi.
Menghadapi tantangan angin kencang pesisir pantai dan sengatan suhu lintasan, Veda mengaku siap beradaptasi. Balapan ini merupakan kali pertama baginya tampil di Mandalika dengan motor Moto3.
“Faktor cuaca panas dan angin kencang di sekitar sirkuit pasti sangat berpengaruh pada kestabilan motor, tapi kami sudah mencoba beradaptasi,” kata Veda.
Baca Juga: Riders to School, Pembalap Dunia Ajak Pelajar Berani Bermimpi
Tantangan berbeda dihadapi Mario Suryo Aji di kelas Moto2. Pembalap Idemitsu Honda Team Asia asal Magetan ini masih berjuang menemukan konsistensi setelah hasil kurang beruntung di Motegi.
Bagi Mario, seri Mandalika adalah momen ideal untuk memulihkan kepercayaan diri. Kehadiran publik sendiri dan hasil latihan bersama Veda pada Juli lalu menjadi fondasi penting untuk merancang setelan motor yang tepat.
“Tantangan utamanya memang cuaca yang sangat panas dan suhu lintasan yang tinggi,” tegas Mario.
Editor : Pujo Nugroho
Sumber : Liputan Berita Lombok Post