SUMBAWA-Serapan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kanwil NTB terhadap hasil panen jagung dan gabah milik petani dinilai masih rendah. Padahal Indonesia, khususnya NTB mempunyai potensi berlimpah. Hanya saja, tidak dapat terdistribusi dengan cepat lantaran kelemahan logistik pangan.
Di sisi lain, jagung juga menjadi salah satu sumber pakan ayam ras dan ayam petelur yang saat ini harganya meroket.
"Kebijakan dari pusat (Badan Pangan Nasional, red) mengharuskan Bulog itu harus bisa menyerap hasil panen jagung dan gabah milik petani," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB H A Aziz pada wartawan, kemarin (27/6).
Gabah misalnya, sambung Aziz, masih rendahnya serapan ini karena Bulog kurang memanfaatkan saluran di daerah. Saluran yang dimaksud ini adalah potensi pembeli beras dari aparatur sipil negara (ASN) hingga TNI/Polri se NTB. Di luar saluran pengiriman ke luar daerah seperti Bali, NTT dan Sumatera Utara.
Sementara itu, pembelian beras petani oleh ASN se NTB ini telah diberlakukan setelah terbitnya Keputusan Gubernur NTB Nomor 50-394 Tahun 2021 tentang Pemanfaatan Produk dan Hasil Olahan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Melalui Bela dan Beli Produk Lokal. Terbitnya SK ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap produk lokal daerah yang diwujudkan dengan cara memproduksi, memasarkan dan membeli serta menggunakan produk lokal daerah.
"Kalau mau dia (Bulog, red) tinggi (serapan, red) maka harus ada salurannya, yaitu beras disalurkan ke PNS (pegawai negeri sipil) dan TNI/Pori," terangnya.
Seharusnya kebijakan gubernur ini dapat dimanfaatkan Bulog. Agar serapan gabah khususnya meningkat tinggi, apalagi potensi jumlah ASN di 10 kabupaten/kota se NTB sebanyak 50 ribuan lebih. Maka bisa diperoleh hasil sebanyak 500 ton sebulan beras petani diserap.
"Saat ini kabupaten/kota yang (ASN, red) sudah beli untuk bantu petani adalah Lobar, Loteng, Sumbawa dan KSB," ucap mantan staf ahli Bidang Pemerintahan dan Aparatur, Politik, Hukum dan Pelayanan Publik Setda NTB ini.
Sedangkan untuk jagung, tegas dia, diharapkan segera diaktifkannya pabrik Corn Drying Center (CDC) milik Bulog di Desa Nusajaya, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, NTB. Dengan catatan, peran Pelabuhan Badas pun harus siap.
"Ini harus segera beroperasi, tapi harus siap juga pelabuhan. Sesuai permintaan dari tenaga ahli Menteri Perhubungan yang sudah datang kesana meminta untuk mengkoordinasikan dengan pemda setempat dalam dua bulan ini sudah terpasang alat mekanisasi bongkar muat berupa penyedotan jagung yang langsung masuk ke dalam kapal. Ini yang sedang kita kejar sekarang," paparnya.
Menurutnya, dengan mekanisasi bongkar muat berupa alat sedot ini tak perlu lagi menggunakan tenaga manusia lebih banyak serta menghemat waktu. Karena hanya menghubungkan truk-truk berisi jagung langsung masuk ke dalam kapal. Jika hanya mengandalkan tenaga manusia untuk bongkar muat dipastikan memakan waktu sangat lama.
"Kapasitas kapal ini bisa 10 ribu ton jagung, dengan kapasitas angkut truk sebanyak empat hingga lima ratus ton, nah untuk bongkar muat ini butuh waktu hingga lima hari dengan tenaga manusia," jelas Aziz.
"Sedang diupayakan mekanisasi bongkar muat ini di Pelabuhan Badas, Pelabuhan Bima dan Calabai termasuk dermaga sandar bagi kapal-kapal ini karena bongkar muat kita disana masih manual dan sistem curah untuk pembelian jagungnya," tandasnya.
Kepala Perwakilan Perum Bulog NTB Abdul Muis mengatakan, Perum Bulog saat ini tengah membangun Pabrik Corn Drying Center (CDC) atau pusat pengeringan jagung di Desa Nusajaya, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu.
CDC ditargetkan akan beroperasi pada September 2022, untuk mendukung proses hilirisasi jagung sebagai komoditas unggulan yang berlimpah produksinya di Dompu dan Bima. Keberadaan CDC ini akan dioptimalkan untuk memenuhi dua kepentingan antara produsen petani dan konsumen atau peternak.
"Bulog hadir di tengah sehingga akan tercipta stabilisasi harga, saya yakin Dompu adalah daerah yang punya potensi besar dengan hadirnya Bulog di sini akan menjadi price leader dan penyeimbang ketersediaan kebutuhan Bulog," ujarnya.
"Jadi CDC ini masih dalam proses penyelesaian. Sehingga ketika sarana tersebut jadi di bulan September, maka adanya sarana ini Bulog bisa lebih optimal membeli jagung petani," sambung Muis.
Saat ini, lanjutnya, silo atau tempat penyimpanan yang dimiliki Bulog sebanyak tiga unit dengan kapasitas total 14.000 ton. Sementara untuk alat pengering kapasitas per harinya mencapai 150 ton jagung. Jika Kadar Air (KA) jagung 18 dibutuhkan waktu sekitar 1-2 jam untuk menjadi KA 15-16. Dengan KA tersebut dapat menjaga daya simpan 2 hingga 3 bulan dan menekan aflatoksin.
Selain itu, Bulog pun menyerap jagung petani dengan harga Rp 4.400 per kg, di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 3.150 per kg. Hal ini bertujuan agar Bulog menyerap jagung dengan harga standar, dapat menyelamatkan petani jagung dari kerugian, dan meningkatkan semangat petani untuk bertanam. Penyerapan Bulog ini bersinergi dengan swasta, salah satunya dengan PT Segar Agro Nusantara.
"Bulog sedang melakukan pembelian jagung PSO, rencana 5.000 ton dan sudah terealisasi 1.000 ton dengan harga Rp 4.450 per kg include pajak. Mengingat batas waktu hanya sampai akhir Juni 2022, kemungkinan Bulog akan melakukan pembelian dengan mekanisme komersil. Bulog hanya price leader (pemimpin harga, red) agar swasta ikut membeli minimal sama pembelian Bulog," pungkasnya.
Sebelumnya, Tenaga Ahli Menteri Perhubungan Andre Mulyana mengungkapkan, pihaknya akan fokus dalam membantu mengurai penyempitan-penyempitan arus keluar (bottle neck) komoditas pangan. Khususnya melalui jalur laut sebagai upaya memperlancar distribusi pangan antarwilayah.
"Di NTB ini kita banyak melakukan studi untuk pembukaan jalur supaya tidak terjadi bottle neck tadi. Selama ada pasar, selama ada sumber, selama ada barangnya kita akan optimalisasi," ungkap Andre.
Untuk mempercepat aktifitas bongkar muat khususnya komoditas jagung yang menjadi andalan wilayah ini, akan diupayakan percepatan produktivitas pelabuhan Badas Sumbawa dengan menambah jumlah crane operasional dan alat grain pump.
"Begitupula di Pelabuhan Bima dibutuhkan perluasan fasilitas pelabuhan dan penambahan frekuensi kapal," pungkas Andre. (ewi/r8)
Editor : Galih Mps