LombokPost--Silaturahmi Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) HW Musyafirin dengan 99 tokoh berpengaruh asal Tana Samawa (Sumbawa Barat dan Sumbawa) berlangsung hangat, Jumat (22/9). Moment ini dimanfaatkan bupati menawarkan konsep membangun jalan pikiran, seperti yang saat ini tengah digaungkan di KSB.
Pertemuan yang berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Dea Malela Pamangong, Kabupaten Sumbawa itu dihadiri Sultan Sumbawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV, Bupati Sumbawa H Mahmud Abdullah, Mantan Wakil Ketua DPR RI H Fahri Hamzah, Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode (2005-2015) sekaligus pendiri pondok pesentren Dea Malela Prof Din Syamsuddin, mantan Bupati KSB dua periode KH Zulkifli Muhadli, dan sejumlah tokoh penting lainnya termasuk pengurus Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.
Bupati mengatakan, konsep jalan pikiran yang kini sedang dibangun di Sumbawa Barat cocok untuk diterapkan oleh Tau dan Tana Samawa di tengah perkembangan zaman dan persaingan ekonomi saat ini. Lewat silatul qolbi, menyambung hati atau silaturahmi seperti saat ini menjadi tempat yang tepat untuk saling berbagi, berbicara dari hati ke hati untuk membangun kebaikan. Dari sini akan lahir silatul fikri atau dari hati berlanjut ke pikiran. Di mana di dalamnya terdapat proses tukar pikiran, informasi, dan pengalaman, pemikiran seseorang tentang pandangan beragam dan berbeda beda. Dengan silaturahmi tidak ada lagi pemikiran yang nanti akan menjerumuskan ke arah perpecahan.
‘’Konsep membangun jalan pikiran harus mampu kita sampaikan kepada masyarakat Tau Tana Samawa,’’ katanya.
Bupati mengaku, ke depan zaman terus mengalami perubahan dari berbagai sisi. Meski demikian, perubahan yang terjadi tak boleh melunturkan semangat, nilai budaya dan nilai luhur yang dianut dan ditanamkan para leluhur masyarakat Samawa. ‘’Dengan silaturahmi dari hati ke hati kita bisa saling berbagi informasi, menyatukan pikiran untuk kemajuan Tana Samawa ke depan,’’ harapnya.
Bupati juga menyampaikan, temu 99 tokoh berpengaruh Tana Samawa ini diharapkan dapat menghasilkan beberapa rumusan atau kesimpulan yang nantinya menjadi pegangan maupun pedoman untuk masyarakat Tau Tana Samawa. Konsep atau kesepakatan yang dihasilkan nantipun harus sejalan dengan Lawas Samawa yang berbunyi ‘’Mana Ujan Barat Siwa, Lamin Sala Si Panyomo Mu Kenang Bajarip No Kawan. Mana Si Ka Adal Subuh, Lamin Balong Si Panyomo Mu Kenang Mani Kawan Si’’ atau dalam bahasa Indonesia, ‘’Walaupun hujan deras, jika salah merangkum/mengumpul/mewadahi/menyimpan, untuk basuh mukapun tidak cukup. Walaupun hanya embun jika benar cara menyimpan/mengumpulkan untuk mandipun cukup’’.
‘’Makna lawas ini sangat jelas, walaupun banyak yang kita miliki jika salah caranya mengatur, menggunakan akan akan sia-sia. Demikian sebaliknya, walaupun sedikit yang kita miliki, jika benar cara mengaturnya maka akan bermanfaat,’’ tegas bupati.
Sebagai warga dan masyarakat Tau Samawa, HW Musyafirin mengakui ada sedikit yang membuat dirinya resah. Terutama sifat asli Tau Samawa yang terlalu dermawan. Tidak buruk, namun jika sifat ini terus diwariskan, akan sulit bagi masyarakat Samawa berkembang dan maju. ‘’Masyarakat Samawa sebenarnya sangat egaliter dan sangat terbuka. Tapi ada satu kelemahan kita dan ini membuat kita sulit maju, khususnya dalam bidang perekonomian terutama sektor pertanian holtikuktura,’’ katanya.
Ia mencontohkan, saat masyarakat mulai menekuni bidang pertanian hortikultura, masyarakat Samawa lebih dominan mengarahkan kegiatan itu ke arah sosial daripada motif ekonomi. ‘’Kita tanam sayur, buah, dan lainnya di rumah maupun di kebun kalau ada keluarga, teman yang datang minta kita berikan saja. Nilai sosialnya lebih tinggi ketimbang nilai ekonomi. Sama halnya ketika kita punya uang Rp 50 ribu itu akan habis tanpa mau berpikir bagaimana mengembangkan uang tersebut menjadi lebih produktif,’’ tambahnya.
Pimpinan Pondok Pesanteren Dea Malela Prof. Din Syamsuddin mengakui, pertemuan ini merupakan pertemuan pikiran dan hati yang nanti melahirkan sebuah maklumat untuk menjadi pegangan masyarakat dan Tau Samawa. ‘’Maklumat nanti akan mengandung beberapa butir yang meneguhkan bahwa kita semua,’’ katanya.
Tau Samawa adalah mereka yang terlahir dari orang tua asli Samawa maupun pendatang yang sudah menginjak kaki (tinggal dan menetap) dan sudah meminum air tanah samawa atau disebut juga sebagai Al Ukhuwah Assamawia. ‘’Kita pada dasarnya bersaudara. Ada ano siup dan ada juga ano rawi, dan kita harus jaga nilai - nilai keutamaan Samawa,’’ harapnya.
Khususnya tahun tahun politik, Prof Din berharap semua pihak tetap merajut persaudaraan, kekeluargaan, walaupun berbeda pilihan. ‘’Kita jangan terpecah belah karena persoalan politik,’’ tambahnya.
Shilatul fikri atau temu 99 Tokoh Samawa tersebut berlangsung sejak tanggal 22 September dan berakhir Minggu (24/9) kemarin. Adapun isu kedaerahan yang dibahas diantaranya etika lingkungan, kehidupan sosial, bahasa, dan berbagai isi kebudayaan lainnya. Hadir sebagai pemateri pada kesempatan tersebut beberapa tokoh seperti Prof Mahsun, H Fahri Hamzah, KH Zulkifli Muzadli, Muhammad Iksan Safitri, Julmansyah, Badrul Munir, Dinullah Rayes, Burhanudin Ali, Agus Irawan Syahmi, Ahmad Salim, Roy Marhandra, Adi Pranajaya, dan Merliza.
Pertemuan selama tiga hari ini menghasilkan maklumat yang ditandatangani oleh seluruh peserta temu 99 Tokoh Tana Samawa. Tiga maklumat yang dihasilkan itu antara lain, nilai luhur agama Islam. Point pertama ini sekaligus menegaskan bahwa Samawa adalah Islam yang berpegang teguh pada adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah. Kedua, mereka semua yang terlahir, tinggal dan menetap di Sumbawa-Sumbawa Barat adalah Tau Samawa, terjalin dalam satu persaudaraan ukhuwah islamiah wathoniah, insaniyah dan ukhuwah samawiah. Bukan sektarianisme dan eksklusifisme. Ketiga, sebagai Tau Samawa dalam hidupnya berorientasi pada hati dan menghargai akan pentingnya waktu. (far/r5/ADV)
Editor : Kimda Farida