’’El Nino ini berimbas pada perubahan jadwal tanam. Seharusnya bulan Oktober-Maret (Okmar) kita sudah masuk Masa Tanam (MT) I, kita undur November hingga Desember,’’ jelas Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian KSB Idrus di ruang kerjanya, kemarin.
Tak hanya KSB, hampir semua wilayah di NTB juga merasakan dampak yang sama akibat El Nino. Karena El Nino memicu suhu udara yang lebih panas dan menyebabkan sumber air untuk irigasi pertanian menjadi kering.
’’Perubahan cuaca ini tentu saja berimbas pada jadwal tanam yang sudah kita rencanakan sebelumnya,’’ katanya.
Kecamatan Brang Rea dan Kecamatan Brang Ene adalah wilayah paling pertama memulai MT 1. Karena fenomena alam ini, petani di dua kecamatan itu juga tak bisa berbuat banyak.
Idrus meminta agar petani tak memaksakan diri menanam pada bulan ini, dikarenakan sampai saat ini belum ada tanda-tanda El Nino ini berakhir.
’’Kita imbau jangan tanam dulu. Karena cuaca saat ini masih sulit diprediksi. Ikuti jadwal atau arahan dari pemerintah,’’ harapnya.
Tak hanya berimbas pada sektor pertanian, El Nino juga berimbas pada kekeringan di sejumlah wilayah. Saat ini, beberapa desa mulai mengalami krisis air bersih. Data BPBD KSB, saat ini total desa yang mengalami kekeringan dan krisis bersih sebanyak 11 desa. (far/r8)
Editor : Redaksi Lombok Post