Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jalan Panjang Mendorong Berkembangnya Komoditas Tebu di Kabupaten Dompu dan Sumbawa

Kimda Farida • Minggu, 26 Mei 2024 | 19:01 WIB
SENYUM MANIS: Para petani tebu di Kecamatan Pekat, Dompu saat memanen tebu, beberapa waktu lalu. (foto Istimewa)
SENYUM MANIS: Para petani tebu di Kecamatan Pekat, Dompu saat memanen tebu, beberapa waktu lalu. (foto Istimewa)

Kehadiran industri gula di Dompu ternyata belum bisa menjadi jaminan atas peningkatan kapasitas produksi gula di Bumi Nggawi Rahi Pahu.

Kegagalan para pihak dalam menjahit berbagai kepentingan yang ada di lapangan menjadi salah satu penyebabnya.

---------------

Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu mulai tumbuh menjadi sentra pengembangan perkebunan tebu yang cukup massif sejak beberapa tahun terakhir.

Masyarakat yang sebelumnya melakoni pekerjaan sebagai petani dari komoditi lain lambat laun beralih menanam tebu.

Di wilayah ini berdiri industri gula PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) yang menjalin kemitraan dengan para petani tebu setempat selaku pemilik lahan.

Miliaran rupiah telah digelontorkan investor untuk membangun pabrik gula dan infrastruktur pendukung dengan harapan kelak Dompu bisa menjelma menjadi produsen gula nasional di wilayah Indonesia Timur.

Di sisi lain, perusahaan juga mengelola lahan hak guna usaha (HGU) sekitar 5.000 hektare di Pekat untuk ditanami tebu kendati faktanya hanya bisa dimanfaatkan sebagian lantaran berkonflik dengan peternak setempat.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pekat Mukhtar mengatakan, potensi luas areal tebu yang ada di wilayahnya sebenarnya cukup besar yaitu mencapai sekitar 11 ribu hektare.

Namun baru bisa dimanfaatkan sekitar 2,9 ribu hektare.

“Baru tiga desa yang memenuhi target maksimal sasaran produksi tebu dari total 12 desa di kecataman ini. Ketiga desa ini adalah Desa Beringin Jaya, Pekat dan Sorinomo,” sebutnya.

Saat ini tengah diupayakan beberapa strategi untuk menggenjot produksi tebu dengan ekstensifikasi lahan melalui mekanisme kemitraan di Pekat terutama di sembilan desa yang belum dimaksimalkan potensinya.

Baca Juga: Dukung UMKM Go Global, BRI Berangkatkan 8 UMKM untuk Ikuti Pameran FHA Food & Beverage 2024 di Singapore

PPL Kecamatan Pekat bekerja sama dengan PT SMS menargetkan di kurun waktu 2024-2025 adanya perluasan areal perkebunan tebu sebanyak 1.000 hektare lebih di desa-desa tersebut.

Muhktar berharap sokongan pemerintah daerah untuk mendukung penuh upaya ekstensifikasi lahan yang tengah dilakukan.

Kalau semua pihak bisa bergerak bersama dengan dukungan potensi lahan yang cukup besar, ditambah animo tinggi para petani diyakini akan memberi hasil yang luar biasa.

“Petani sekitar pun otomatis akan sejahtera karena pendapatannya dari tebu lebih besar ketimbang komoditi yang lain,” ujarnya.

Muhktar yang juga mengelola lahan tebu seluas 12 hektare ini mengatakan, sejak menekuni komoditi pertanian tersebut taraf hidup rekan-rekannya di Desa Beringin Jaya, Pekat dan Sorinomo meningkat.

Selain mampu menyekolahkan anak hingga ke jenjang tinggi, mereka bisa memiliki aset berharga.

Sayangnya, hingga kini lahan pertanian tebu sistem kemitraan belum bisa dioptimalkan lantaran di Pekat masih banyak komoditi perkebunan alternatif yang dikembangkan.

Beberapa komoditi perkebunan yang ditanam selain tebu ada kopi, jagung, coklat, jambu mete dan tembakau.

Mayoritas warga menanam jagung lantaran potensi terbesar di wilayah ini berupa lahan kering.

“Dari sekitar 87 ribu kilometer persegi luas wilayah di Pekat, tahun ini yang dimanfaatkan untuk penanaman jagung musiman sebanyak 10.500 hektare lebih,” paparnya.

Mukhtar menambahkan, sekarang para petani jambu mete banyak yang beralih menjadi petani jagung dan tebu.

Pengalihan komoditi ini dipicu sebab jambu mete dinilai sudah tidak produktif.

Lahan-lahan yang secara geografis berada di kemiringan dimanfaatkan untuk jagung sementara yang berada di area datar coba dimaksimalkan untuk tebu.

Saat ini, jumlah petani komoditi tebu rakyat di Kecamatan Pekat mencapai 2.389 kepala keluarga dengan rerata produksi keseluruhan 650 ribu kilogram lebih per hektare.

Mukhtar, S.PKP
Mukhtar, S.PKP

Pendekatan dan edukasi ke masyarakat mengenai manfaat menanam tebu terus dilakukan Mukhtar dan PPL lain bersinergi dengan PT SMS selaku mitra para petani.

Peningkatan jumlah petani tebu pun cukup dirasakan setelahnya.

Namun, kendala yang dihadapi para petani tebu saat ini adalah mereka tidak memiliki alat untuk menebang ketika musim panen tiba.

Sejauh ini mereka masih melakukan cara manual untuk menebang tebu dengan bantuan tenaga buruh dari luar daerah, seperti Jawa, Lombok dan Lampung.

Akibatnya, waktu yang dibutuhkan untuk proses ini cukup lama sementara perusahaan sudah menetapkan batas waktu untuk itu.

“Andaikan ada mesin seperti ini kami optimis target areal seluas 11 ribu hektare itu bisa dikelola karena budidaya tebu ini tidak rumit, semoga pemda bisa membantu penyediaan alatnya,” kata Mukhtar.

Pemkab Dompu juga diharapkan bisa memfasilitasi para petani tebu untuk mengakses pengajuan pinjaman lunak ke bank.

Pinjaman tersebut akan dipergunakan mereka membeli prasarana pendukung seperti traktor roda empat atau dikenal dengan istilah John Deere.

Para petani juga meminta PT SMS bisa menyediakan bibit tebu yang berkualitas sehingga menunjang hasil panen yang lebih berlimpah.

Sejauh ini mereka masih menggunakan bibit lokal yang berasal dari lahan pertanian di wilayah setempat.

Di sisi lain, esktensifikasi lahan pertanian tebu melalui mekanisme kemitraan juga tengah dilakukan sejumlah petani di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa.

Salah satu yang menggelutinya adalah H Ahmad yang sebelumnya adalah petani jagung.

“Saya lihat teman petani di sini (Labangka, Red) dari luas lahan 10 are dia bisa panen tebu hingga 12 ton sehingga saya tertarik mencoba,” kata Ahmad.

Pria asal Pelambik, Lombok Tengah ini baru menanam tebu akhir 2023 lalu dan kini tengah menanti masa panen.

Lahan yang digarapnya sekitar 1 hektare dan diperkirakan dia akan memetik hasil sekitar 120 ton.

Menurutnya, saat ini ada 40 warga di kampungnya, Desa Sekokat Labangka 2 yang menanam tebu.

Mereka semua juga bermitra dengan PT SMS di Dompu. Bantuan bibit diberikan langsung perusahaan.

Sejauh ini, Ahmad mengatakan, tidak ada kendala yang dihadapi selama bercocok tanam tebu.

Hanya faktor cuaca yang membuatnya kadang risau kalau-kalau tanamannya layu.

“Tapi dari pihak PT SMS sudah meninjau dan mengatakan tidak ada masalah,” ucapnya.

Ahmad optimis tebu bisa menjadi salah satu komoditi andalan di daerahnya selain jagung.

Apalagi petani di lima desa di Kecamatan Labangka juga antusias ingin menanam tebu di areal sekitar 500 hektare.

Modal yang relatif tidak besar dengan hasil yang sangat menjanjikan menjadi daya tarik bagi mereka ramai-ramai beralih dari jagung ke tebu.

Mewakili para petani Labangka, pria kelahiran 52 tahun silam ini berharap Pemkab Sumbawa bisa menaruh perhatian untuk mengembangkan pertanian tebu.

Sejauh ini upaya kordinasi dengan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) setempat sudah dilakukan dan mendapat respons positif. (baiq farida/*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Kimda Farida
#pertanian tebu #industri gula #NTB #PT SMS #Dompu