LombokPost-PT Amman Mineral Nusa Tenggara terus berkontribusi mendukung pembangunan Sumbawa Barat.
Salah satunya penanganan sampah melalui budidaya Maggot.
Untuk diketahui, persoalan sampah menjadi cukup krusial yang kini tengah dituntaskan Pemda KSB.
Sampah atau limbah rumah tangga yang dihasilkan setiap hari mencapai 64 ton.
Setengah dari jumlah tersebut belum tertangani maksimal.
Baca Juga: Waduh, Website OPD Pemkot Mataram Diserang Hacker Judol
"Masalah utama yang dihadapi masyarakat Desa Sekongkang Atas ini adalah sampah rumah tangga. AMMAN ikut berkontribusi menuntaskan persoalan ini melalui program budidaya Maggot," jelas Economic Empowerment Amman Lalu Nova Setiawan Putra, Selasa(2/7).
Sampah atau limbah rumah tangga diakuinya menjadi persoalan cukup penting dituntaskan.
Amman pun selalu memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah ini.
Khusus di wilayah Sekongkang Atas, lanjutnya, perusahaan mengambil peran aktif dengan melibatkan kelompok masyarakat setempat.
"Sampah kalau tidak diangkut cepat, akan menimbulkan bau. Ini masalah yang dihadapi, dari sini kami melakukan kajian, mencari solusi. Dari berbagai metode yang kita kaji bersama masyarakat dan kepala desa hanya melalui budidaya Maggot," paparnya.
Baca Juga: PPP Hampir Pasti Dukung Rohmi-Firin di Pilgub NTB
Budidaya Maggot menjadi solusi jangka pendek sekaligus jangka panjang yang paling mudah dilakukan. Sampah teratasi, budidaya Maggot pun bisa menguntungkan secara ekonomi.
"Masalah jangka pendek teratasi, demikian juga jangka panjangnya. Kenapa Maggot, karena hanya ini yang cocok," terangnya.
Dari budidaya Maggot yang dilakukan kelompok masyarakat Desa Sekongkang Atas, diakuinya, persoalan sampah secara perlahan mampu diatasi.
Menurut data pemerintah desa setempat, sehari sampah yang dihasilkan rumah tangga di desa ini seharinya mencapai empat ton.
"Sampah organik rumah tangga ini kami kumpulkan. Kita olah sebagai media pendukung budidaya Maggot, dan berhasil," akunya.
Produksi sampah yang melimpah menjadi bahan baku utama pendukung pengembangan Maggot.
Baca Juga: DKP Dompu Tindak Lanjuti Temuan BPK, Klaim Sudah Tak Ada Kapal Mangkrak
Lalu Nova Setiawan mengaku, dari empat ton sampah yang diolah secara khusus, mampu menghasilkan sekitar 1,3 ton Maggot fresh.
"Maggot ini bisa menjadi pakan utama ternak, termasuk pakan ikan hias maupun pecinta burung. Pangsa pasarnya juga cukup menjajikan, karena bisa mengurangi biaya produksi sampai 30 persen," bebernya.
Rumah tangga penghasil sampah pun mendapat manfaat secara ekonomis.
Sampah yang dikumpulkan dijadikan seperti tabungan.
Tabungan itu biasanya dicairkan sekali setahun, terutama menjelang hari raya.
Baca Juga: Mohan Kunci Rekomendasi Nasdem untuk Pilwali Mataram
"Rumah tangga penghasil sampah dapat insentif, biasanya keuntungan dari produksi Maggot ini kita berikan dalam bentuk sembako," katanya lagi.
Maggot memiliki nilai ekonomis cukup tinggi.
Maggot fresh yang dihasilkan per kilogramnya dijual Rp 7.000.
Sementara Maggot yang sudah memasuki pengolahan akhir (produk jadi) per 250 gram dijual Rp 25 ribu. Kalau yang gelondongan bisa dijual sampai Rp 35 ribu hingga Rp 70 ribu.
"Sebulan, rata-rata keuntungan yang bisa diperoleh sekitar Rp 7 juta lebih," paparnya.
Kepala Desa Sekongkang Atas Jayadi mengapresiasi program penanganan sampah yang diinisiasi Amman Mineral bersama kelompok masyarakat setempat.
"Programnya sangat positif, sampah teratasi, budidaya Maggot berjalan baik dan masyarakat mendapatkan keuntungan secara ekonomi," paparnya.
Ke depan, program yang diinisiasi Amman Mineral ini akan didukung penuh pemerintah desa. Dia berencana akan menjadikan budidaya Maggot ini sebagai salah usaha yang akan dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
"Nanti akan kita support juga melalui APBDes, bagaimana program ini bisa berjalan lebih baik," tambahnya. (far/r8/adv)
Editor : Kimda Farida