LombokPost--Optimalisasi pertanian tebu di Dompu tak hanya menjadi atensi pemda Kabupaten Dompu, pihak swasta dan para petani.
Para wakil rakyat di kabupaten ini juga siap mengawal agar tebu bisa masuk dalam prioritas atau komoditi unggulan pertanian daerah.
-------------------
Berkah dari manisnya komoditas tebu benar-benar dirasakan Baharuddin, anggota DPRD Dompu terpilih periode 2024-2029.
Pria paruh baya ini berhasil duduk di kursi lembaga legislatif berkat hasil dari kesuksesannya menjadi petani tebu.
“Alhamdulillah, hasil tebu sudah banyak saya rasakan dan kesuksesan saya ditopang oleh Tebu ini,” kata Baharuddin kepada Lombok Post, Rabu (28/8).
Politisi yang sebelumnya berada di Partai Kebangkitan Nasional dan sekarang di Partai Persatuan Pembangunan ini pun ingin konsisten menjadi pioner yang gigih dalam menyebarluaskan informasi seluas-luasnya jika keuntungan yang didapat dari tebu itu sesungguhnya jauh lebih besar dari komoditi lain, salah satunya jagung.
Saat ini dia mengelola lahan tebu seluas 50 hektare lebih di Kecamatan Pekat, Dompu.
Potensi lahan yang masih sangat luas di Pekat untuk ditanami tebu harus dioptimalisasikan dan disuarakan oleh sebanyak mungkin pihak karena hasilnya akan berdampak pada meningkatnya pendapatan daerah.
Dia pun bertekad akan memperjuangkan terwujudnya hal ini ketika sudah resmi dilantik menjadi wakil rakyat dalam beberapa hari ke depan.
“Kalau ada peluang, saya akan minta agar ditempatkan di komisi yang menangani sektor pertanian sehingga bisa memberikan penjelasan dan masukan yang masuk akal (ke pemkab dan masyarakat) terkait apa yang saya lihat dan alami selama menjadi petani tebu,” ujarnya.
Menurut Baharuddin, tebu justru memiliki prospek cerah jika dibandingkan dengan komoditi pertanian lain di Dompu.
Efek ekonominya untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat khususnya petani sangat dirasakan.
Diketahui, saat ini tebu belum masuk dalam komoditi unggulan di era kepemimpinan Bupati Dompu H Kader Jaelani.
Pemkab setempat menggaungkan jargon Jara Pasaka yakni akronim dari jagung, porang, padi, sapi, dan ikan sebagai komoditi unggulan.
Namun seiring dengan semakin meningkatnya produktivitas pertanian tebu dan berdirinya pabrik gula PT Sukes Mantap Sejahtera (SMS) disertai infrastruktur penunjang telah mendorong pemerintah daerah lebih serius dan menaruh perhatian terhadap tebu.
Pria kelahiran 52 tahun silam ini mengungkapkan jika di Pekat masih banyak lahan tidur milik sekelompok orang yang sebenarnya bisa dioptimalkan untuk ditanami tebu.
Karena itu dia berharap, ekstensifikasi lahan tidak hanya difokuskan ke masyarakat namun bisa diperluas kepada para pejabat kabupaten dan para wakil rakyat yang memiliki lahan di sekitar pabrik sehingga para pihak tersebut terpanggil mau juga ikut serta bertanam tebu.
“Kami memang maunya semakin banyak yang menanam tebu maka hamanya akan semakin berkurang tapi semuanya pada akhirnya kembali lagi kepada kemauan si pemilik lahan,” ujarnya.
Burhanuddin menambahkan, proses penebangan tebu pascapanen sudah dilakukan sejak dua bulan lalu.
Nilai transaksi keuangan yang dibayarkan PT SMS kepada para mitra dan petani mencapai Rp 1 miliar lebih per hari.
“Penerimaan tebu dari penggilingan tebu ke perusahaan itu 2.500-3.000 ton per hari dengan harga pembelian Rp 500 per kilogram. Jadi perputaran uang sehari saat panen di wilayah Pekat bisa hingga Rp 1,5 miliar,” bebernya.
Nominal yang fantastis itu, lanjut dia, semestinya bisa lebih banyak diketahui masyarakat agar lebih banyak lagi yang tergerak untuk ikut menanam tebu.
Apalagi perusahaan sudah aktif melakukan expo kemitraan di setiap desa di Kecamatan Pekat untuk memperkenalkan komoditas tebu kepada semua segmen masyarakat, termasuk para kades dan kadus.
Hanya saja upaya massif dari sejumlah pihak tersebut menurut Baharuddin berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan pemkab Kabupaten Dompu.
Dukungan pemerintah daerah dirasa hampir tidak ada untuk mendukung pengembangan pertanian tebu di Dompu.
“Bisa dibilang pincang, petani dan perusahaan sudah berusaha maksimal sesuai programnya tapi kendala di lapangan sama sekali tidak dibantu oleh orangtua rakyat lokal yaitu pemkab Dompu,” kritiknya.
Sementara itu, Kepala Dusun Karang Sukun, Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Sahli membenarkan jika progress pertanian tebu di wilayahnya semakin terlihat pekembangannya dan dirasakan kemanfaatannya secara ekonomi.
Perluasan atau ekstensifikasi lahan terus terjadi setiap tahunnya.
“Sejak tahun 2014 saya menjadi petani hingga sekarang, saya melihat pertanian tebu perkembangannya cukup bagus di kampung kami,” kata Sahli.
Kondisi ini juga diimbangi dengan upaya sosialisasi yang rutin dilakukan pihak perusahaan ke masyarakat.
Namun para petani saat ini masih menjual tebu secara gelondongan dan diharapkan ke depan bisa dalam bentuk rendeman.
“Perbedaan nilai ketika kami jual tebu dalam gelondongan dan rendeman cukup tinggi, per hektare harganya Rp 25-26 juta kalau gelondongan. Tapi kalau rendeman bisa Rp 30-40 juta,” ucapnya.
Mewakili para petani, Sahli berharap adanya bantuan mekanisasi dari pihak terkait untuk membantu proses penebangan pohon saat masa panen agar lebih cepat tuntas.
Selama ini mereka dibelit persoalan kekurangan tenaga lokal untuk proses tersebut kendati sudah mendatangkan bantuan dari luar Dompu.
Dia juga berharap adanya bantuan pupuk sehingga bisa memompa semangat petani menanam tebu.
“Kami juga butuh jonder (traktor roda empat, Red) untuk perluasan lahan. Saat ini hanya ada satu unit yang digunakan untuk semua lahan tebu di satu kecamatan dan ini sangat kurang,” ucapnya.
Seperti halnya Baharuddin, Sahli bermimpi bahwa dalam jangka pendek, tebu akan mengangkat kesejahteraan petani Dompu dan reputasi Kabupaten Dompu tidak hanya sebatas level Provinsi Nusa Tenggara Barat namun hingga level nasional.
Dan mereka sangat yakin mimpi tersebut bukan sekedar harapan seandainya pemerintah daerah juga punya mimpi yang sama. (*)
Editor : Kimda Farida