Potensi lahan kering yang membentang di wilayah Dompu, Bima dan sebagian kecil Sumbawa cukup menjadi salah satu modal utama untuk pengembangan perkebunan tebu di Bumi Gora, khususnya Pulau Sumbawa.
Tidak hanya untuk skala perusahaan tapi juga untuk tebu rakyat.
---------------------------
Sistem plasma inti dalam pengembangan tebu yang sudah berlangsung di Kabupaten Dompu dinilai sudah tepat.
Dalam pola kemitraan tersebut, perusahaan gula PT Sukses Mandiri Sejahtera (SMS) yang berada di Kecamatan Pekat bertindak sebagai inti dan petani sebagai plasma dalam pengelolaan lahan.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB melalui kepala bidang pemberdayaan masyarakat M Ilyas Salman menilai, sejauh ini potensi perkebunan tebu di Dompu berada di sisi barat Gunung Tambora yaitu di Kecamatan Pekat dan Kempo.
Namun luas lahan yang belum digarap di wilayah ini ternyata masih sangat luas.
“HKTI berharap bisa bekerja sama dengan pemda, dengan PT SMS serta masyarakat setempat agar bisa segera dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan perkebunan tebu,” ujar Ilyas.
Baca Juga: Pesta Sabu, Oknum Honorer Puskesmas di Lombok Barat Digerebek Polisi
Dia menambahkan, HKTI juga berharap diberi kesempatan bekerja sama dengan pihak terkait untuk membentuk institusi koperasi yang menaungi petani tebu.
Lembaga ini menurutnya sangat dibutuhkan kelompok petani menjadi wadah mereka untuk maju bersama-sama dan menjadi saluran komunikasi dengan pihak perusahaan, seperti yang sudah banyak terbentuk di wilayah-wilayah penghasil tebu di Pulau Jawa.
“Ini hal yang menarik buat saya apalagi program Pak Gubernur NTB sekarang kan tentang ketahanan pangan termasuk di dalamnya gula yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat kita,” jelasnya.
Selain pengembangan di sisi barat Gunung Tambora, wilayah timur juga menurut Ilyas cukup menjanjikan untuk ditanami tebu karena terdapat banyak hamparan lahan kering. HKTI akan mendorong pengembangan tebu di kawasan ini yang juga meliputi Kabupaten Bima dan Sumbawa.
Baca Juga: Jadi Tersangka Kasus Penipuan, Suhaili Upayakan Tempuh Jalan Damai
Namun hal pertama yang akan terlebih dahulu dilakukan HKTI bekerja sama dengan pemda, investor dan masyarakat adalah mensurvei potensi wilayah.
Mereka harus mengetahui luas lahan yang bisa digarap bersama petani dengan sistem kemitraan baru kemudian membentuk wadah koperasi.
“Terutama yang dekat dengan pabrik PT SMS di seberang Gunung Tambora terlihat Pulau Moyo di Kabupaten Sumbawa, di sana banyak terdapat lahan kering,” katanya.
HKTI ingin kawasan lahan kering di Pulau Moyo yang sejauh ini hanya dimanfaatkan untuk tanaman kelapa bisa dikelola juga untuk komoditas tebu.
Termasuk juga lahan di Kecamatan Labangka. Tentunya mereka harus bekerja sama dengan Pemkab Sumbawa.
Ilyas juga membenarkan jika tantangan yang dihadapi PT SMS dalam memproduksi gula adalah kurangnya pasokan tebu lokal dari petani sekitar.
Kapasitas mesin pabrik yang diketahuinya memiliki nilai investasi senilai Rp 200 miliar lebih belum bisa beroperasi optimal lantaran kendala ini.
Padahal di wilayah Jawa, mesin pabrik gula bisa beroperasi maksimal selama enam bulan saat musim panen sesuai dengan jumlah produksi dan lahan perkebunan tebu.
Baca Juga: Kolaborasi dengan GGGI untuk Pembangunan Ekonomi Hijau Sebagai Masa Depan Usaha di Ibu Kota
“Sangat memadai di sana ( Jawa, Red) karena ratusan hektar (ha) lahan tebu yang digarap, sementara di Dompu kan masih hanya 6.000-10.000 ha sehingga yang saya dengar untuk produksi mesin yang sudah disiapkan beroperasi enam bulan diambil kebijakan mengimpor gula rafinasi oleh PT SMS dari Thailand dan India,” bebernya.
Kondisi tersebut menurutnya sangat ironis, mengingat lahan potensial untuk tebu di Dompu, Bima dan Sumbawa masih sangat luas yang belum dioptimalkan.
Karena itu, HKTI sangat berkepentingan untuk menggerakkan kesadaran semua pihak termasuk pemda agar fokus mengembangkan tebu, terlebih pascapenetapan Dompu sebagai kawasan tebu nasional pada akhir tahun 2024.
Hal ini juga sejalan dengan program mandiri pangan yang tengah digalakkan Presiden Prabowo Subianto.
Ilyas mengkalkulasi, jika pihaknya diberi kesempatan maksimal menggandeng petani dalam menggarap lahan kering di tiga wilayah ini, yakni Dompu, sebagian Bima dan Kabupaten Sumbawa maka akan muncul lahan tebu baru sekitar 50-100 ribu hektar dalam jangka dua tahun.
Mesin pabrik milik PT SMS pun otomatis akan bisa dioperasionalkan secara maksimal dengan jumlah produksi panen yang meningkat sehingga impian melihat Kabupaten ber-mottokan Nggahi Rawi Pahu menjadi sentra gula di wilayah Indonesia Timur khususnya NTB akan segera terwujud.
Program lainnya yang akan dilakukan HKTI NTB adalah dengan mengintensifkan komunikasi dengan gubernur terpilih agar tebu bisa didorong menjadi produk unggulan yang dikembangkan dalam jangka waktu dua tahun ke depan.
Di sisi lain, mereka juga berkeinginan memanfaatkan lahan kering di kawasan hutan tanaman rakyat (HTR) untuk ditanami tebu bersama kelompok tani dengan izin dinas kehutanan.
“Kalau dua tahun ini kita fokus membina petani didukung ahli-ahli tebu yang disiapkan pihak perusahaan dengan pelatihan berupa motivasi, manajemen kelompok dan kemitraan dengan para stakeholder maka kami sangat yakin bisa mencetak petani yang mandiri dan target ketahanan pangan dari sisi produksi gula bisa tercapai,” tandasnya. (Baiq Farida/r5)
Editor : Kimda Farida