Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pemkab Dompu Mantapkan Tebu Jadi Komoditas Unggulan Baru: Bappeda Rumuskan Langkah Nyata, Siap Berikan Dukungan Menyeluruh (1)

Lombok Post Online • Kamis, 3 Juli 2025 | 09:44 WIB

 

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

Pemerintah Kabupaten Dompu menegaskan komitmennya menjadikan tebu sebagai komoditas unggulan baru di Bumi Nggahi Rawi Pahu.

Tidak hanya karena potensinya yang besar, tapi juga karena geliat pertumbuhannya yang kini semakin nyata, terutama di Kecamatan Pekat. 

Langkah nyata ini tercermin dari berbagai kebijakan strategis. Pemkab aktif memfasilitasi pembentukan kelompok tani dan koperasi, membuka akses pembiayaan bagi petani, hingga mendorong perluasan lahan melalui kemitraan dan investasi industri.

”Kita tidak lagi bicara rencana. Tebu kini sudah bergerak maju, dan pemkab siap memastikan komoditas ini memberi dampak besar bagi masyarakat dengan memasukkan tebu dan turunannya menjadi komoditas unggulan baru di Dompu,” tegas Plt Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Dompu, Muhammad Adha, Rabu (2/7).

Di Kecamatan Pekat, geliat budidaya tebu semakin kuat. Dari potensi 11 ribu hektare lahan baku, saat ini sudah terealisasi sekitar 6.100 hektare. Itu terdiri dari 3.788 hektare lahan kemitraan petani dan 3.060 hektare lahan HGU milik PT Sukses Mantap Sejahtera (PT SMS).

Pabrik gula milik PT SMS pun telah beroperasi penuh dengan kapasitas produksi mencapai 4.000 ton Gula Kristal Putih (GKP) per musim giling, dan terus meningkat sejak 2022.

“Ini bukti bahwa industri dan petani bisa berjalan bersama. Kita sangat ingin bangun ekosistem dari hulu sampai hilir,” ujar Adha.

Komitmen Pemkab Dompu tidak hanya berhenti pada tahap awal budidaya. Dukungan menyeluruh diberikan untuk memperkuat fondasi pertanian tebu, mulai dari sisi kelembagaan, pembiayaan, hingga infrastruktur.

Melalui pembentukan koperasi tebu mitra, petani difasilitasi agar lebih siap beradaptasi dengan sistem kemitraan. Selain itu, pemkab juga mendorong perusahaan mitra menyalurkan CSR yang menyentuh langsung kebutuhan petani.

Baca Juga: Menakar Peluang Tebu Menjadi Komoditi Unggulan Dompu, Dewan Dorong Political Will Pemda dan Pihak Terkait (1)

”Akses KUR dan CSR harus dimanfaatkan. Kita pastikan tidak ada petani yang tertinggal,” ujarnya.

Namun Adha menyadari, masih ada tantangan yang harus diselesaikan. Mulai dari status lahan yang belum jelas, keterbatasan jalan produksi, hingga keraguan sebagian petani untuk beralih ke tebu karena khawatir soal harga dan risiko gagal panen.

Karena itu, strategi ke depan diarahkan pada dua hal utama: pemetaan kawasan sentra tebu berbasis spasial dan pemberian insentif untuk perluasan lahan.

Untuk mengakselerasi Kabupaten Dompu menjadi kawasan pertanian tebu nasional menjadi nyata, maka program ini sebaiknya diintegrasikan dalam RPJMD Kabupaten Dompu. Dengan demikian, program prioritas ini memiliki legasi dan mendapat kucuran anggaran baik dari APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten.

POTENSI BESAR: Hamparan kebun tebu di Kecamatan Pekat, Dompu. Komoditas ini mulai menjadi primadona baru setelah ditetapkan sebagai kawasan tebu nasional.
POTENSI BESAR: Hamparan kebun tebu di Kecamatan Pekat, Dompu. Komoditas ini mulai menjadi primadona baru setelah ditetapkan sebagai kawasan tebu nasional.

Termasuk di dalamnya subsidi benih, pupuk, alat pra panen, serta pembangunan infrastruktur pendukung seperti irigasi dan jalan produksi. Tata kelola distribusi pupuk subsidi penting dibenahi agar tepat sasaran sehingga membantu petani tebu dalam mempercepat diversifikasi tanaman di kalangan petani.

Dalam artian, petani tidak hanya menanam jagung tapi juga beralih menanam tebu. Dengan demikian sumber pendapatan dan penghasilan mereka meningkat. Dengan kata lain, pertanian dengan beragam jenis tanaman (polikultur) bisa menjadi alternatif sumber penghasilan, manakala harga jagung menurun. Dengan demikian, petani bisa menghadapi kerentanan harga di masa puncak panen komoditas jagung.

Adha yakin, jika realisasi lahan bisa tembus di atas 9.000 hektare, dampaknya akan terasa luas. Lebih dari 3.500 kepala keluarga petani akan terlibat dalam kemitraan, dan sekitar 700 tenaga kerja musiman terserap tiap musim panen dan giling.

“Tebu adalah jalan tengah kita menuju transformasi ekonomi yang berkelanjutan. Dari Pekat, kita ingin tumbuhkan harapan baru bagi Dompu,” pungkasnya. (bersambung/Baiq Farida, Mataram/r5)

Editor : Jelo Sangaji
#industri #tebu #pembiayaan #Petani #Dompu