Smelter (pabrik pemurnian,red) konsentrat milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) kini mengubah dunia pertambangan. Tranformasi digital terfokus pada keberlanjutan. Berikut catatannya!
Abdul Faruk, Sumbawa Barat
ASAP putih mengepul tinggi ke angkasa. Dari kejauhan, asap itu berasal dari cerobong smelter AMMAN.
Fasilitas setinggi 30 meter itu berdiri tepat di atas tungku dapur utama pengolahan konsentrat. Bangunannya paling mencolok, mudah dikenali, berada di tengah kompleks industri.
Kepulan itu menandakan permurnian konsentrat tembaga dan emas sedang berlangsung.
Smelter AMMAN mulai dibangun awal tahun 2018 dan diresmikan September tahun 2024.
Kawasan industri seluas 272 hektare berlokasi di Dusun Otak Keris, Kecamatan Maluk dengan nilai investasi mencapai Rp 21 triliun itu tercatat menghasilkan katoda tembaga pertamanya pada Maret tahun 2025.
Data hingga Juli tahun 2025, smelter raksasa pertama di kawasan Indonesia Timur ini berhasil memproduksi 19.805 ton katoda tembaga atau setara 44 juta pon.
Pencapaian luar biasa, mengingat mereka masih dalam tahap komisioning.
Pencetakan katoda tembaga ini menandai era baru hilirisasi industri pertambangan. Lombok Post berkesempatan melihat dari dekat pabrik pemurnian tembaga dan emas itu.
‘’Paruh pertama tahun 2025, smelter kami berhasil memproduksi 19.805 ton katoda tembaga,’’ jelas Vice President Corporate Communication AMMAN, Kartika Octaviana, Jum’at (17/10).
Menyaksikan langsung pengolahan konsentrat menjadi katoda merupakan kesempatan cukup langka.
Proses dimulai dari pengiriman konsentrat sebagai bahan baku utama, kemudian dilakukan pengeringan sebelum memasuki metode peleburan, konversi, tungku anoda, pencetakan anoda dan electrorefining.
Konsentrat tembaga kering disiapkan di area tertutup untuk menjaga kadar air, kemudian dikeringkan dengan panas yang diperoleh dari limbah boiler. ‘’Pada proses peleburan, konsentrat dioksidasi pada suhu tinggi, kurang lebih sekitar 1.200 derajat celcius,’’ papar Kartika menjelaskan secara umum.
Sejak beroperasi, produksi katoda tembaga menunjukkan lonjakan signifikan.
Jika sebelumnya hanya 635 ton pada kuartal pertama, naik menjadi 19.170 ton pada kuartal kedua tahun 2025. Ke depan, volume produksinya diperkirakan terus meningkat, seiring penyempurnaan operasional yang terus berlangsung.
‘’Pertengahan Juli tahun 2025, kami mencapai tonggak penting lainnya. Produksi emas murni pertama dari fasilitas Precious Metals Refinery (PMR),’’ katanya.
Smelter AMMAN memiliki kapasitas pengolahan 900 ribu ton konsentrat tembaga per tahun, mampu menghasilkan 220 ribu ton katoda tembaga, 830.00 ton asam sulfat, 579 ribu ons emas batangan, 1,8 juta ons perak batangan dan 77 ton selenium.
Keberhasilan hilirisasi pertambangan ini merupakan bentuk nyata tranformasi digital terfokus pada keberlanjutan. ‘’Smelter AMMAN di KSB menjadi produsen tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia yang terintegrasi penuh dari pertambangan hingga peleburan,’’ paparnya.
Rantai pasokan industri nasional dan dunia kini tertuju ke smelter AMMAN. Produk yang lahir dari daerah seluas kurang lebih 1.744 kilo meter persegi itu dipastikan mendorong peningkatan industri pengolahan produk mineral dalam negeri, meningkatkan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, operasional penuh smelter AMMAN diakuinya masih membutuhkan waktu.
‘’Kapasitas produksi dinaikan secara perlahan. Tujuannya mengevaluasi masalah tehnis, penyetelan parameter, perbaikan kualitas hingga mencapai produksi yang stabil,’’ urainya.
Mencatat kemajuan signifikan, AMMAN masih menghadapi tantangan dalam kesiapan operasional. Memastikan transisi ke fase produksi penuh, berlangsung aman dan sukses sangat krusial. Proses komisioning smelter tembaga bersifat kompleks dan memakan waktu. Tantangan ini lanjut Kartika, berpotensi mempengaruhi tingkat produksi selama sisa tahun 2025.
‘’Ini yang mendorong kami berdiskusi secara aktif dengan pemerintah terkait fleksibilitas eksport konsentrat. Penting, untuk menjaga keberlanjutan operasi, mendukung kontribusi fiscal bagi perekonomian daerah maupun nasional,’’ paparnya.
Karena masih dalam tahap komisioning, AMMAN mengambil pendekatan konservatif. Prioritas utama faktor Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). ‘’Kita tidak bisa mengambil langkah membahayakan. Terutama keselamatan peralatan maupun pekerja,’’ urainya lagi.
Langkah ini sejalan dengan target utama perusahaan dalam pengoperasian smelter. Menjalankan operasional dengan tetap mengedepankan kualitas, keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan. Selain itu, perusahaan fokus pada efisiensi produk, mengoptimalkan biaya dan hasil, serta menerapkan perbaikan secara terus menerus untuk meningkatkan kinerja secara berkelanjutan. Kata dia, kepuasan pelanggan dan pemenuhan kebutuhan stakeholder menjadi prioritas utama, diiringi dengan komitmen pada keberlanjutan dan tanggungjawab sosial kepada masyarakat sekitar.
‘’AMMAN terus mendorong inovasi teknologi dan pengembangan sumber daya manusia untuk memastikan daya saing dan pertumbuhan bisnis berlanjutan. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah mengenai berbagai kendala yang ada,’’ jelasnya.
Sejauh ini, kehadiran smelter AMMAN memberikan kontribusi terhadap hilirisasi mineral secara nasional sesuai kabijakan pemerintah. Hilirisasi akan lebih maksimal apabila ditunjang lahirnya industri turunan dalam negeri. Industri kabel dan komponen listrik, elektronik, konstruksi, otomotif, kimia dan pupuk, perhiasan, peralatan rumah tangga hingga energi terbarukan untuk menyerap produk katoda tembaga, asam sulfat dan logam mulia.
Kehadiran industri turunan ini perlu dipercepat agar tidak terjadi kelebihan produksi, pada akhirnya menyasar pasar global (eksport,red). ‘’Apabila pengembangan industri turunan ini dilakukan dengan baik, maka visi hilirisasi mineral untuk membawa nilai tambah bagi perekonomian dalam negeri akan tercapai,’’ janjinya.
Hingga saat ini, keberadaan smelter AMMAN berhasil menyerap ribuan tenaga kerja. Data AMMAN, sejak fase konstruksi dan komisioning, lebih dari 8.000 tenaga kerja terserap. Nantinya, saat memasuki fase operasi, kebutuhan tenaga kerja akan menurun, sekitar 1.000 tenaga kerja. Sebagian merupakan tenaga kerja terampil.
Meski demikian, perusahaan secara berkala menjalankan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Program tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis berkaitan dengan industri pertambangan atau smelter, tapi mencakup industri lain dengan daya serap tenaga kerja tinggi.
‘’AMMAN menjalankan program dengan tiga fokus utama. Pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi dan pariwisata berkelanjutan,’’ terangnya.
Kartika menambahkan, sejak beroperasi, paruh pertama tahun 2025, AMMAN mencatat penjualan bersih sebesar 138 juta dollar Amerika. Angka ini sebagian besar berasal dari penjualan katoda tembaga pada kuartal kedua. Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi paruh pertama tahun 2025 mencapai 86 juta dollar Amerika.
Mengalami perbaikan signifikan dari EBITDA negatif sebesar 42 juta dollar pada kuartal pertama. Peningkatan ini lanjutnya, didorong kinerja operasional yang lebih kuat pada kuartal kedua tahun 2025. ‘’Kami mencatat EBITDA positif sebesar 128 juta dollar. Rugi bersih kami juga turun signifikan, dari 138 juta dollar pada kuartal pertama menjadi 8 juta dollar pada kuartal kedua,’’ tambahnya.
Smelter ini bukan sekadar berhasil membangun atau penerapan teknologi baru dunia pertambangan. Lebih dari itu, ada catatan sejarah panjang, buah perjuangan bersama seluruh stakeholder. Pemilik lahan, pemerintah daerah hingga perusahaan. Masyarakat menyerahkan lahan produktif mereka untuk mendukung kebijakan nasional, hilirisasi sektor pertambangan melalui kawasan industri baru.
Proses pembebasan lahan jauh lebih cepat, enam tahun konstruksi smelter AMMAN jauh dari konflik. Berbanding terbalik dengan persoalan serupa di Pulau Rempang, Batam. Kini masyarakat Sumbawa Barat tinggal menunggu hasil manis, buah yang mereka tanam tinggal dipanen. Keberhasilan ini sekaligus menjadikan Sumbawa Barat sebagai poros baru ekonomi nasional. (Bersambung)
Editor : Jelo Sangaji