LombokPost--Wajah pertanian di sejumlah desa di Kabupaten Dompu, khususnya di sekitar pabrik gula PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Kecamatan Pekat, perlahan berubah.
Tanaman tebu kian menjadi primadona, menggantikan komoditas lain seperti jagung.
Perkembangan ini tak lepas dari beberapa faktor pendorong yang dirasakan langsung oleh petani dan penyuluh di lapangan.
-----------------
Salah satu buktinya terlihat di Desa Kadindi, Kecamatan Pekat. Menurut Abu Bakar, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat, luas lahan tebu di desanya melesat.
“Dari kosong, sekarang sudah sekitar 22 hektare. Alhamdulillah,” ujarnya.
Abu Bakar membeberkan sejumlah faktor yang menjadi magnet bagi petani. Pertama, pemenuhan janji PT SMS untuk membangun jalan usaha tani.
“Dulu petani minta-minta, respons lama. Sekarang direspons. Akses mudah, petani tertarik,” katanya.
Kedua, insentif finansial langsung. PT SMS memberikan bonus Rp 50 per kilogram tebu yang disetorkan.
“Bonusnya baru setahun ini. Cukup efektif menarik minat,” tambahnya.
Ketiga, program reward dari pabrik bagi petani berprestasi, seperti perjalanan umrah dan hadiah sepeda motor, turut memompa semangat. Keempat, peningkatan pengetahuan budidaya di kalangan petani.
“Dulu disuruh pupuk tidak dihiraukan. Sekarang petani sudah pintar, saling berbagi ilmu,” jelasnya.
Dampak ekonomi pun terasa nyata. Dengan budidaya yang baik, produktivitas bisa melonjak dari rata-rata 50-60 ton menjadi 120 ton per hektare.
Secara nominal, pendapatan kotor petani bisa berkisar Rp 30 juta hingga Rp 60 juta per hektare per tahun.
“Rata-rata petani bisa mengantongi Rp 45 juta per hektare. Biaya produksi tidak sampai Rp 11 juta, jadi masih banyak untungnya,” papar Abu Bakar.
Promosi dari mulut ke mulut tentang kesuksesan ini pun terbukti efektif menarik minat baru.
Dukungan permodalan juga mulai berjalan dengan adanya Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tebu dari beberapa bank, seperti BNI dan Bank NTB Syariah.
Meski dinamika bisnis tebu menggeliat, peran pemerintah desa dinilai masih bisa dioptimalkan.
Menurut Abu Bakar, peran kepala desa sebenarnya sangat penting untuk sosialisasi dan fasilitasi, seperti perbaikan jalan usaha tani.
“Namun, kepala desa di Dompu yang terlibat aktif mendorong pengembangan tebu masih minim,” ucapnya.
Ia menyayangkan jika sosialisasi atau bantuan dari pabrik, seperti pembagian gula, tidak disambut antusias oleh perangkat desa.
Keberhasilan tebu telah mengubah lanskap sosial-ekonomi desa-desa di sekitar pabrik. Abu Bakar menggambarkan suasana di Desa Sorinomo dan Doropeti.
Baca Juga: AC Milan Berubah 180 Derajat, Christopher Nkunku Tak Jadi Dilelang
“Kayak kota sekarang gara-gara tebu. Ekonomi jalan, toko-toko banyak, apalagi saat panen. Banyak rumah baru dibangun,” tuturnya.
Di daerah inti seperti Sori Tatanga dan Beringin Jaya, kepemilikan lahan tebu rata-rata petani bahkan bisa mencapai 3 hingga 10 hektare.
Infrastruktur dan perputaran ekonomi membaik signifikan.
Melihat potensi besar ini, Abu Bakar berharap pengembangan tebu terus masif untuk menopang ekonomi masyarakat dan kehadiran pabrik gula tidak sia-sia.
Ia mengapresiasi harga dan sistem pembayaran dari pabrik yang sudah dianggap lumayan dan lancar.
Namun, ada satu harapan krusial yang ia sampaikan terkait pemerataan keuntungan.
“Harapan saya, PT SMS memberlakukan subsidi silang untuk angkutan tebu,” pintanya.
Saat ini, petani di zona jauh seperti Tambora atau wilayah Bima terbebani biaya transportasi truk yang sangat mahal ke pabrik, berbeda dengan petani di desa yang dekat dengan pabrik.
Subsidi silang dinilainya penting agar petani di wilayah terjauh tidak merugi dan perkembangan tebu bisa merata di seluruh Dompu.
Dengan berbagai kemajuan dan tantangan yang ada, geliat tebu di Dompu menunjukkan potensi sebagai penggerak ekonomi lokal yang perlu terus didukung secara komprehensif, baik oleh korporasi, petani, maupun pemerintah desa dan daerah. (bersambung)
Editor : Kimda Farida