Di tengah masih minimnya perhatian dan fasilitas, dua petani tebu di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, telah membuktikan bahwa komoditas tebu ini mampu mengubah ekonomi keluarga.
Haji Muhammad Nur, salah satunya, berhasil meningkatkan hasil panen tebu di lahannya dari 80 ton di tahun 2023 menjadi hampir 200 ton pada 2025.
----------------
Dengan harga bersih Rp 300.000 per ton, pendapatan kotor Haji Nur dalam sekali panen bisa mencapai Rp 50-60 juta.
"Alhamdulillah, untuk kebutuhan pokok dan biaya sekolah anak bisa tercukupi," ujar Nur saat berbincang dengan Lombok Post.
Namun, kesuksesan itu belum sepenuhnya dirasakan oleh petani lainnya di Labangka.
Menurut Nur, masih sedikit warga yang tertarik beralih ke tebu.
"Pokoknya masalah utamanya karena kan jauh tempatnya dari pabrik PT SMS di Dompu. Jauh, makanya kurang tertarik orang," keluhnya.
Selama tiga tahun berkecimpung, bantuan yang diterima Nur dan rekan-rekannya adalah bibit dan pelatihan budidaya dari pabrik.
Belum ada bantuan peralatan tani ataupun akses ke Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sesungguhnya dinantikan untuk perluasan lahan.
"Belum ada bantuan kredit. Cuma waktu bayaran, lewat bank BRI," jelasnya.
Kendati demikian, optimisme tetap terpancar. Selain Nur, hanya satu petani lain, Amaq Siman, yang sudah mencapai hasil serupa.
Kedua petani tersebut menjadi bukti nyata potensi tebu di Labangka, meski masih harus berjuang terkait dukungan permodalan diantaranya karena biaya transportasi hasil panen yang tinggi ke pabrik di Dompu.
Nur berharap adanya perhatian lebih dari pabrik dan pemerintah, terutama untuk mengatasi kendala jarak dan akses permodalan, agar lebih banyak petani di Labangka yang terbantu dan tertarik mengembangkan komoditas tebu.
Saat ini, ia fokus pada masa tanam dan berharap sebagaimana di musim sebelumnya tren peningkatan hasil panen dapat terus berlanjut.
Senada dengan hal tersebut, Abu Bakar, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Dompu, juga mengatakan, semestinya pihak pabrik tak yang hanya melihat angka produktivitas tebu yang melonjak, tetapi juga memikirkan aspek keadilan bagi setiap petani, terutama mereka yang lahannya jauh dari pabrik.
"Kalau lahannya hanya satu hektare, untuk tanam tebu hasilnya nggak cukup," ujar Abu Bakar, memulai analisisnya.
Ia membeberkan realitas di balik angka-angka indah pendapatan kotor.
Penghasilan Rp 20-30 juta per hektare per tahun, menurutnya, tak akan cukup menopang biaya hidup modern seperti kuliah anak, apalagi jika lahannya terbatas.
Baca Juga: UMMAT Tambah Guru Besar, Prof Hijril Ismail Dikukuhkan di Bidang Reading ELT
"Lahan ideal dan bisa menguntungkan harus lebih dari satu hektare. Jika kurang justru yang ada nanti justru hutang," katanya, menekankan pentingnya skala usaha.
Namun, harapannya yang paling besar justru tertuju pada sebuah konsep kebijakan subsidi silang angkutan tebu.
Di balik layar kesuksesan tebu Dompu, ternyata ada ketimpangan biaya yang menggerogoti keuntungan petani di zona terjauh.
Abu Bakar dengan cermat memetakan masalah ini. Petani di desa-desa sekitar pabrik, seperti Sorinomo dan Pekat, Kabupaten Dompu menikmati akses yang mudah dan biaya angkut yang relatif ringan.
Sebaliknya, nasib petani di zona luar, seperti wilayah Tambora atau Bima, apalagi Labangka, Sumbawa sungguh berbeda.
"Yang masih mahal memang angkutan transportasinya di zona luar. Angkutan di truknya kan mahal untuk membawa hasil panen ke pabrik," jelasnya.
Ongkos logistik yang membengkak itu, menurutnya, bisa menghapus untung dan mematikan minat petani di wilayah pinggiran. Oleh karena itu, suara Abu Bakar lantang menyuarakan solusi.
"Harapan saya, PT SMS sebaiknya mempertimbangkan untuk memberlakukan subsidi silang aspek angkutan," pintanya.
Mekanismenya sederhana, menyeimbangkan beban biaya transportasi antara petani yang dekat dan yang jauh, sehingga semua bisa bernapas legas.
"Supaya yang jauh-jauh di wilayah Bima, wilayah Tambora sana itu, tidak terlalu rugi lah karena tebu. Karena mereka memikirkan ongkos truknya," tuturnya, penuh harap.
Harapan ini bukan sekadar wacana.
Bagi Abu Bakar, ini adalah kunci untuk memeratakan keberhasilan sektor pertanian tebu, mengubah Dompu bukan hanya menjadi penghasil tebu, tetapi sentra gula yang inklusif, di mana setiap petani, di manapun lokasinya, punya peluang yang sama untuk menjadi petani yang sejahtera.
Ia yakin, dengan subsidi silang, geliat tebu tak hanya akan terdengar dari desa-desa sekitar pabrik, tetapi juga akan menggema dari lereng Tambora hingga wilayah Bima dan Labangka, Sumbawa menyatu dalam satu harmoni yaitu kemajuan yang berkeadilan(*)
Editor : Kimda Farida