Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kades Nangakara Berhasil Membawa Tebu Menjadi Primadona Ekonomi Desa

Kimda Farida • Selasa, 28 April 2026 | 14:22 WIB
MENUJU PABRIK: Truk pengangkut tebu mengular menuju pabrik PT SMS, menandai geliat ekonomi di Kawasan Tebu Nasional Dompu.
MENUJU PABRIK: Truk pengangkut tebu mengular menuju pabrik PT SMS, menandai geliat ekonomi di Kawasan Tebu Nasional Dompu.

LombokPost--Di bawah terik matahari Kabupaten Dompu yang menyengat, hamparan hijau daun tebu melambai tertiup angin di Desa Nangakara, Kecamatan Pekat.

Siapa sangka, wilayah yang dulunya didominasi tanaman jagung dan jambu mete ini, kini telah bertransformasi menjadi lumbung tebu seluas 500 hektare. 

---------------

Di balik manisnya hasil panen petani, ada sosok Kepala Desa (Kades) Nangakara Iryanto yang menjadi dirigen utama perubahan tersebut.

Bagi sang Kades, tebu bukan sekadar komoditas, melainkan jalan keluar menuju kesejahteraan yang lebih stabil bagi rakyat di wilayahnya. 

Ia mengisahkan bagaimana awalnya masyarakat sempat ragu untuk berpindah haluan. 
Namun, dengan memberikan bukti nyata, termasuk apa yang dilakukannya yaitu turun langsung menjadi petani tebu, keraguan itu pun perlahan luntur.

"Luar biasa perkembangannya. Sampai hari ini, area pengembangan tebu di desa kami sudah mencapai sekitar 500 hektare. Sekitar 65 persen warga kami kini telah menggantungkan hidupnya sebagai petani tebu," ujar Pak Kades saat berbincang hangat dengan Lombok Post.

Baca Juga: Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Suzuki Edukasi Pemilik Mobil: Jangan Tunggu AC Tak Dingin, Cek Filter Sekarang!

Salah satu alasan kuat sang Kades mendorong peralihan komoditas andalan ini adalah efisiensi biaya. 

Sebagaimana pengakuannya, berbeda dengan jagung yang membutuhkan modal besar di setiap musim tanam, tebu justru menawarkan skema yang lebih ringan bagi kantong petani dalam jangka panjang.

Meskipun investasi awal diakuinya cukup merogoh kocek, sekitar Rp15 juta hingga Rp16 juta per hektare,  namun tanaman tebu bisa dipanen hingga lima atau enam kali masa tebang tanpa perlu menanam ulang.

"Ibaratnya tanam liar kalau kita bisa merawatnya. Biaya besar itu hanya di awal. Masuk tahun kedua dan seterusnya, biayanya bisa berkurang hingga setengahnya karena hanya perlu perawatan, pupuk, dan herbisida saja," jelasnya dengan nada optimis.

Selain efisiensi biaya, kepastian pasar menjadi magnet utama. Kehadiran pabrik gula PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Dompu sebagai mitra strategis memastikan seluruh hasil keringat petani terserap tanpa sisa.

Kejelasan harga dan tren kenaikan harga secara berkala menjadi jaminan bagi ekonomi warga Desa Nangakara.

Selaku pemimpin wilayah, Iryanto tak sekadar duduk di balik meja. Ia berperan sebagai jembatan birokrasi, memastikan izin garapan dan surat kepemilikan lahan warga terpenuhi agar kemitraan dengan perusahaan berjalan mulus secara jangka panjang.

Namun, perjalanan menuju "Nangakara Manis" bukan tanpa hambatan. Di tengah kemajuan ini, sang Kades menyimpan kegundahan soal infrastruktur. Akses jalan pengangkutan hasil tebu kini dalam kondisi memprihatinkan.

Ia mengkritik kebijakan perusahaan yang selama ini hanya melakukan pengerasan  jalan tanpa melakukan penimbunan atau peningkatan kualitas. Alhasil, saat musim hujan tiba, jalanan berubah menjadi aliran air yang merusak akses transportasi.

"Penggerusan itu malah membuat jalan makin parah, seperti parit di tengah jalan kalau banjir. Karenanya kami sungguh berharap perusahaan ikut andil memperbaiki akses secara fisik, bukan hanya menjanjikan kebijakan yang justru membebani petani," tegasnya.

Tak hanya itu, ia juga menyentil peran pemerintah daerah yang dianggapnya masih sangat minim perhatian jika dibandingkan dengan era kepemimpinan sebelumnya.

Baca Juga: PLN Nusantara Power Unit Sambelia, Tanam Ratusan Bibit Pohon di Rinjani

Menurutnya, sejauh ini dukungan yang terasa baru datang dari pemerintah pusat melalui bantuan sosial (Bansos) penanaman tebu.

Meski harus berjuang secara mandiri dan terus melakukan lobi-lobi keras ke pihak perusahaan maupun pemerintah, sang Kades tidak surut langkah.

Baginya, melihat 65 persen warganya bisa tersenyum saat musim panen adalah kepuasan yang sungguh tak ternilai.

"Harapan saya, pemerintah dan perusahaan tetap konsisten. Kita ingin masyarakat benar-benar menikmati hasil tebu ini untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Saya akan terus mengawal agar potensi tebu di Nangakara tetap terjaga dan semakin luas," pungkasnya.

Di tangan pemimpin yang visioner, Desa Nangakara kini sedang menenun masa depan yang lebih manis.

Sebuah perjuangan yang membuktikan bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari keberanian seorang pemimpin untuk turun langsung ke lapangan mengolah tanah dan lumpur bersama rakyatnya.

Tidak hanya terkonsentrasi di Desa Nangakara yang telah mencapai luasan 500 hektare, ekspansi lahan hijau ini juga merambah ke desa-desa tetangga dengan angka yang tidak kalah fantastis.

Berdasarkan data perkembangan di lapangan, Desa Sorinomo kini mengelola sekitar 1.700 hektare lahan, disusul Desa Kadindi.

Baca Juga: Korut–Rusia Perkuat Aliansi Militer

Perluasan lahan, peningkatan produktivitas hingga dua kali lipat, serta dukungan insentif dari pabrik gula membuat tebu semakin menarik dibanding komoditas lain seperti jagung di desa ini. 

Ada juga Desa Pekat dengan luas mencapai 700 hektare, Desa Beringin Jaya 1.200 hektare, Karombo sebesar 500 hektare, serta Desa Kadindi yang mencatatkan luas pengembangan sekitar 450 hektare.

Masifnya pembukaan lahan di desa-desa tersebut membuktikan bahwa komoditas tebu telah menjadi tulang punggung baru bagi perekonomian masyarakat di Kecamatan Pekat, menggantikan dominasi tanaman palawija sebelumnya. 

 

 

Editor : Kimda Farida
#Desa Nangakara #Kecamatan Pekat #Petani Tebu #Tebu Dompu #Dompu