Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kades Soritatanga Menjadi Juru Bicara Petani di Tengah Ambisi Dompu sebagai Kawasan Tebu Nasional

Kimda Farida • Kamis, 30 April 2026 | 10:15 WIB
PERJUANGKAN TEBU: Merafudin (kanan) saat menghadiri acara bersama beberapa kades lain di Mataram.
PERJUANGKAN TEBU: Merafudin (kanan) saat menghadiri acara bersama beberapa kades lain di Mataram.

LombokPost-- Di Desa Soritatanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, perubahan itu datang perlahan, namun pasti.

Hamparan lahan yang dulu didominasi jagung, kini mulai berganti dengan tanaman tebu.

Di balik pergeseran itu, ada peran kuat seorang kepala desa yang tidak hanya memimpin dari belakang meja, tetapi turun langsung menggerakkan warganya.

------------

Kepala Desa Soritatanga Merafudin, masih mengingat betul bagaimana awal mula masyarakat mulai melirik tebu sebagai alternatif penghidupan di desanya. 

Sekitar tiga tahun terakhir, ia melihat perubahan itu justru tumbuh dari keresahan petani sendiri.

Baca Juga: Preview Semifinal Madrid Open 2026: Mirra Andreeva vs Hailey Baptiste, Marta Kostyuk Tantang Anastasia Potapova, Siapa Tembus Final Perdana?

Kala harga jagung anjlok pada 2024—2025, harapan petani ikut meredup.

Janji harga tinggi (-oleh siapa?-)  tak sejalan dengan realita di lapangan.

Di titik itulah, Merafudin mulai mendorong warganya mencari jalan lain.

“Tanpa harus dipaksa, ternyata masyarakat mulai berpikir sendiri untuk beralih ke tebu. Karena mereka melihat perbedaannya,” ujarnya.

 

Berbeda dengan jagung yang harus ditanam ulang setiap musim, tebu menawarkan keberlanjutan.

Sekali tanam, bisa dipanen hingga lima tahun dengan perawatan yang baik tentunya.

Biaya produksi pun lebih terkendali, tidak seperti jagung yang bergantung pada fluktuasi harga bibit dan pupuk.

Namun, bagi Merafudin, perubahan itu bukan sekadar soal komoditas. Ini tentang membangun kepercayaan.

Melalui pola kemitraan dengan perusahaan, masyarakat diberi ruang untuk mengelola lahan seperti milik sendiri. 

Mereka menanam, merawat, dan menjaga tebu dengan rasa tanggung jawab yang tumbuh dari dalam.

Baca Juga: Jannik Sinner Ukir Sejarah di Madrid: Masuk Klub Elite Novak Djokovic–Rafael Nadal, Lengkapi Semifinal 9 Masters 1000


“Hakikatnya seperti merawat kebun sendiri. Itu yang membuat mereka serius bertani tebu,” katanya.

Hasilnya mulai terlihat nyata. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, taraf hidup warga perlahan meningkat.

Dari yang sebelumnya tak memiliki kendaraan, kini sebagian sudah mampu membeli sepeda motor bahkan mobil pikap.

Jujur saja, saya juga kaget melihat perubahan itu.

 Ada yang bisa beli kendaraan sampai puluhan juta,” ungkapnya.


Perubahan tersebut semakin terasa sejak Kabupaten Dompu ditetapkan sebagai kawasan tebu nasional.

Produksi meningkat, terutama di lahan yang dikelola secara langsung oleh masyarakat melalui program kemitraan.

Meski begitu, jalan menuju kesejahteraan tidak sepenuhnya berlangsung mulus.

Di beberapa wilayah, terutama yang berbatasan dengan area peternakan, tanaman tebu kerap rusak akibat ternak yang masuk ke lahan.

“Ini bukan faktor alam, tapi karena kelalaian. Kadang pagar dirusak, lalu ternak masuk dan merusak kebun dalam waktu singkat,” jelasnya.

Baca Juga: Lakukan Proses PTP, PLN UIP Nusra Pastikan Kesesuaian Tata Ruang PLTU Bima FTP1

Di sinilah peran kepala desa menjadi sangat vital. Merafudin tak hanya bertugas menggerakkan ekonomi, tetapi juga menjaga harmoni antarwarga.

Ia aktif berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan pemerintah kecamatan untuk mencegah terjadinya konflik.

“Kalau tidak dijaga, bisa memicu pertikaian. Jadi kami selalu mengedepankan komunikasi,” katanya.

Sebagai jembatan antara masyarakat dan perusahaan, Merafudin juga rutin memberikan motivasi kepada petani.

Ia meyakinkan bahwa tebu bukan sekadar tanaman, melainkan peluang masa depan bagi rakyat dan daerah mereka.

Baginya, keberhasilan sektor ini bisa membuka jalan bagi akses maupun kemajuan pendidikan anak-anak desa.

“Dari tebu ini, kita berharap bisa menyekolahkan anak-anak, bahkan hingga menjadi polisi atau tentara,” ujarnya penuh harap.

Optimisme itu bukan tanpa dasar. Ia sendiri sudah merasakan hasil dari bertani tebu. 

Dalam dua tahun terakhir, ia mengelola dua hektare lahan dan berencana menambah tiga hektare lagi.

Baca Juga: Setelah Dirobohkan, Kementerian PU Segera Lelang Pekerjaan Fisik Kantor DPRD NTB 

Fenomena serupa juga terlihat di Dusun Karyasari, desa setempat.

Banyak warga, termasuk pendatang dari Lombok, memilih beralih ke tebu.

Bahkan, salah satu kepala dusun disebut mampu meraih pendapatan hingga ratusan juta rupiah per tahun dari komoditas tebu ini.

Bagi Merafudin, meningkatnya jumlah petani tebu setiap tahun menjadi bukti nyata bahwa masyarakat merasakan manfaatnya.

Kalau tidak ada hasil, tidak mungkin mereka mau terus menanam tebu,” tegasnya.

Ke depan, ia berharap dukungan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan semakin kuat.

Ia juga meminta perusahaan lebih serius menjaga keamanan lahan, terutama di wilayah rawan gangguan ternak.

“Perusahaan ini membawa misi kesejahteraan. Jadi harus kita jaga bersama,” katanya.

Di Soritatanga, tebu bukan lagi sekadar tanaman.

Ia telah menjadi simbol perubahan, tentang harapan baru, kerja sama, dan peran kepemimpinan yang hadir di tengah masyarakat.

Baca Juga: Marta Kostyuk Menggila di Madrid Open 2026: Sikat Linda Noskova, Rekor Tak Terkalahkan di Clay Berlanjut ke Semifinal

Ekspansi tebu di Kecamatan Pekat berkembang pesat dan tidak lagi terpusat di satu wilayah.

Desa Nangakara mencatat sekitar 500 hektare, sementara Desa Sorinomo melonjak hingga 1.700 hektare. Perkembangan signifikan juga terlihat di Desa Beringin Jaya (1.200 hektare), Desa Pekat (700 hektare), Desa Karombo (500 hektare), serta Desa Kadindi yang mencapai sekitar 450 hektare.

Luasan ini menunjukkan pergeseran besar dalam pemanfaatan lahan masyarakat.

Perubahan tersebut didorong oleh meningkatnya produktivitas tebu yang bisa mencapai dua kali lipat dibanding komoditas sebelumnya, serta adanya dukungan insentif dari pabrik gula. 

Kondisi ini membuat tebu semakin diminati petani dan perlahan menggantikan jagung sebagai komoditas utama.

Kini, tebu tidak hanya menjadi alternatif, tetapi telah menjelma sebagai tulang punggung baru perekonomian masyarakat di Kecamatan Pekat. (*)

 

Editor : Kimda Farida
#tebu #swasembada gula #kawasan tebu nasional #Tebu Dompu #Dompu