Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kuah Bakso Emak Seteluk Beraroma Rempah Menjelma Jadi Ruang Teduh bagi Perempuan Penyintas Badai Hidup, Sentuhan Hangat AMMAN Ubah Mindset UMKM

Nurul Hidayati • Jumat, 26 Juni 2026 | 12:13 WIB
Momen seru wisatawan mancanegara saat menikmati semangkuk kehangatan Bakso Emak Seteluk. Mereka membuktikan sendiri kalau resep kuah rempah asli warisan Emak dan full daging sapi segar dari peternak lokal kami emang beneran bikin nagih!
Momen seru wisatawan mancanegara saat menikmati semangkuk kehangatan Bakso Emak Seteluk. Mereka membuktikan sendiri kalau resep kuah rempah asli warisan Emak dan full daging sapi segar dari peternak lokal emang beneran bikin nagih!

LombokPost - Sepiring hangat rindu rumah dengan kisah Zakiah memeluk harapan bersama Bakso Emak Seteluk.

Bagi seorang anak yang merantau, aroma kuah rempah yang mengepul dari dapur rumah adalah mesin waktu terbaik. Rasa hangat, lembut, dan penuh cinta dari masakan ibu selalu menjadi penawar rindu paling mujarab.

Filosofi mendalam inilah yang didekap erat oleh Zakiah saat merintis "Bakso Emak Seteluk" pada tahun 2017 silam. Zakiah pun mulai bercerita dengan Lombok Post, bagaimana ia memulai bisnis yang kini diminati wisatawan mancanegara saat berlibur ke Sumbawa. Inilah ceritanya!

Baca Juga: Cerita Sasambo 2026 Dibuka, AMMAN Siapkan Hadiah Ratusan Juta untuk Jurnalis NTB

Aroma Dapur Ibu dan Kenangan yang Kekal

Aroma adalah mesin waktu yang paling jujur. Bagi siapa saja yang lahir dan tumbuh di tanah Samawa, embusan uap hangat yang membawa pekatnya wangi cengkih, pala, dan rahasia rempah lokal dari sebuah dapur bukan sekadar penanda bahwa makanan siap dihidangkan.

Ia adalah pelukan tak kasat mata. Ia adalah lambang kepulangan. Bagi seorang anak yang merantau jauh lintas pulau atau bahkan lintas negara, memori tentang masakan seorang ibu adalah jangkar yang menahan mereka agar tidak hanyut di tanah orang. Rasa hangat, lembut, dan penuh cinta dari masakan ibu selalu menjadi penawar rindu paling mujarab da ncari ke mana pun kaki melangkah.

Baca Juga: AMMAN Buka Beasiswa SMK Unggulan 2026, Gratis Sekolah hingga Sertifikasi Internasional

Filosofi sentimental yang mendalam inilah yang didekap erat-erat oleh Zakiah. Perempuan berusia 34 tahun kelahiran 13 Juni 1992 ini bukanlah sosok yang asing dengan riuhnya dapur adat. Tumbuh besar di Desa Seteluk Atas, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), masa kecil Zakiah diwarnai oleh sosok ibunya yang legendaris di kampung halaman.

Sang ibu adalah seorang tukang besar sebutan terhormat dalam tradisi masyarakat Sumbawa untuk juru masak utama yang memegang kendali penuh atas dapur dalam acara-acara hajatan besar atau pesta pernikahan adat.

Di tangan sang ibu, bahan-bahan mentah berganti rupa menjadi hidangan kolosal yang memanjakan lidah ratusan hingga ribuan tamu. Dari ibunyalah, Zakiah mewarisi rahasia bagaimana meramu rempah-rempah khas Sumbawa agar menghasilkan kaldu yang gurih alami, hangat di tenggorokan, dan menenangkan jiwa. Ketika Zakiah memutuskan untuk mendirikan usaha kuliner pada tahun 2017, tidak ada nama yang lebih sempurna selain Bakso Emak Seteluk.

Baca Juga: AMMAN Cetak Laba USD 163 Juta di Awal 2026, Produksi dan Penjualan Melonjak

Dalam bahasa Sumbawa, "Emak" berarti ibu. Dengan menyematkan kata tersebut berdampingan dengan identitas tanah kelahirannya, Seteluk, Zakiah sedang mengibarkan sebuah janji. Bahwa setiap mangkuk bakso yang ia sajikan adalah representasi dari masakan seorang ibu yang dibuat dengan penuh kasih sayang, jujur, dan pastinya menyehatkan.

Menolak Kompromi demi Kualitas dan Tradisi

Di tengah gempuran kuliner modern yang mengandalkan bahan instan dan penguat rasa buatan, Bakso Emak Seteluk memilih jalan yang sunyi namun terhormat. Zakiah menolak berkompromi soal kualitas bahan dasar. Sejak hari pertama kompor dinyalakan pada tahun 2017, ia berkomitmen untuk hanya menggunakan 100 persen daging sapi segar yang langsung didapatkan dari para peternak lokal di Sumbawa Barat.

Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya bangun memeluk perbukitan Seteluk, Zakiah atau timnya sudah berada di pasar daging. Mereka terjun langsung, memeriksa tekstur, warna, dan kesegaran daging sapi yang akan digiling.

"Kami tidak mencampurnya dengan daging ayam sama sekali. Ini adalah bakso yang full daging sapi segar. Kami juga memastikan tidak ada bahan pengawet kimia yang masuk ke dalam adonan, serta sangat membatasi penggunaan penyedap rasa atau micin," tegas Zakiah.

Perbedaan mendasar lainnya yang membuat kuliner ini begitu lekat di hati masyarakat adalah kuahnya. Alih-alih hanya menggunakan kaldu tulang sapi biasa, Bakso Emak Seteluk meracik kuahnya dengan ramuan rempah-rempah khas Sumbawa yang diwariskan turun-temurun dari ibunya. Karakter rempah ini kuat, menyegarkan, sekaligus memberikan efek hangat bagi tubuh. Perpaduan antara tekstur bakso yang lembut namun kenyal alami dengan kuah rempah yang kaya rasa, melahirkan sebuah harmoni kuliner yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Namun, rasa yang memikat saja ternyata tidak cukup untuk menjamin mulusnya sebuah roda bisnis. Di awal perjalanannya, Zakiah menghadapi realitas dunia usaha yang teramat keras. Kala itu, status utamanya masih merupakan seorang pegawai honorer di sebuah instansi lokal dengan pendapatan yang terbatas. Keputusan membuka warung bakso murni didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mencari pemasukan tambahan demi menopang stabilitas ekonomi keluarga.

Pada masa-masa awal itu, Bakso Emak Seteluk beroperasi seperti layaknya warung bakso konvensional pada umumnya. Fasilitas seadanya, sistem manajemen yang berjalan mengalir tanpa perencanaan matang, dan hanya dibantu oleh satu orang karyawan. Tantangan terbesar dan paling utama yang dihadapi Zakiah adalah modal yang sangat terbatas. Lebih dari itu, ia menyadari bahwa dirinya belum memiliki cukup ilmu untuk mempertahankan usaha secara profesional. Manajemen keuangan masih bercampur aduk dengan kantong pribadi, dan branding produk hampir tidak pernah terpikirkan.

Momen seru wisatawan mancanegara usai menikmati berbagai menu kehangatan Bakso Emak Seteluk.
Momen seru wisatawan mancanegara usai menikmati berbagai menu kehangatan Bakso Emak Seteluk.

Sentuhan AMMAN dan Lompatan Digital dari Seteluk ke Hong Kong

Di tengah perjuangan melawan keterbatasan itu, secercah harapan besar muncul dari program tanggung jawab sosial perusahaan. PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), raksasa tambang yang beroperasi di Sumbawa Barat, hadir membawa program pembinaan dan pemberdayaan bagi UMKM lokal. Pertemuan dengan AMMAN menjadi titik balik (turning point) yang mengubah total arah takdir Bakso Emak Seteluk.

Menariknya, bentuk dukungan yang diberikan oleh AMMAN bukanlah berupa kucuran modal uang tunai yang instan habis, melainkan sesuatu yang jauh lebih bernilai dan kekal: ilmu pengetahuan dan transformasi mindset. Zakiah dimasukkan ke dalam kelas-kelas pelatihan intensif yang komprehensif. Di sana, ia dibimbing langsung oleh para mentor profesional mengenai tata cara mengelola keuangan bisnis yang sehat, cara memisahkan modal usaha dari uang keluarga, serta bagaimana mengevaluasi kerugian dan keuntungan secara presisi.

Tidak berhenti di situ, AMMAN juga merombak total strategi pemasaran dan identitas visual Bakso Emak Seteluk. Melalui pelatihan branding, logo usaha diperbaiki menjadi lebih modern tanpa kehilangan ruh lokalnya. Manajemen media sosial diajarkan secara taktis, mulai dari cara mengambil foto produk yang menggugah selera hingga bagaimana menyusun narasi digital yang memikat konsumen muda.

"Dukungan ilmu dari AMMAN benar-benar merubah pola pikir kami dalam menjalankan bisnis. Kami diajarkan dari nol bagaimana memperbaiki kesalahan keuangan dan bagaimana melakukan branding yang tepat," ungkap Zakiah dengan mata berbinar.

Hasil dari transformasi mindset ini langsung terasa. Ilmu pemasaran digital yang didapatkan Zakiah berhasil mendobrak sekat-sekat geografis. Produk inovatifnya, yakni bakso beku (frozen food), mulai dikenal luas di luar Sumbawa Barat. Bahkan, melalui jaringan pekerja migran dan pemasaran digital yang rapi, Bakso Emak Seteluk berhasil menembus pasar internasional. Ratusan kilogram bakso frozen buatan tangan perempuan Seteluk ini terbang dan laku keras di Hong Kong, menjadi penawar rindu bagi para diaspora Indonesia di sana.

Inovasi menunya pun kian berkembang dinamis berkat pelatihan memasak bersama chef profesional yang difasilitasi dalam program tersebut. Lahirlah menu-menu unik yang adaptif dengan perkembangan zaman namun tetap mempertahankan kualitas rasa aslinya. Beberapa menu andalan yang kini menjadi magnet bagi para pemburu kuliner dari berbagai kota.

Bakso Wajan: Sensasi menyantap bakso panas langsung di atas wajan mini.

Mie Ayam Mangkuk: Mie ayam dengan mangkuk yang bisa dimakan.

Mie Goreng Level Pedas: Sajian mie dengan tingkat kepedasan yang menantang namun tetap gurih.

Bakso Termos Mini dan Dandang Mini: Produk unik yang menyasar target pasar ibu-ibu. Kemasan kreatif ini membuat pembeli bisa membawa pulang bakso lengkap dengan wadah termos atau dandang mininya yang praktis dan estetik.

Strategi membidik segmen ibu-ibu lewat produk termos mini ini terbukti sukses besar sebuah taktik yang dipelajari Zakiah langsung dari pelatihan marketing AMMAN tentang cara menentukan target pasar yang spesifik. Momen pergantian tahun menjadi saksi bisu kesuksesan ini, di mana Bakso Emak Seteluk berhasil menjual 200 pcs dandang mini dalam semalam dengan harga Rp250.000 per dandang.

Warung yang dulunya sepi kini menjelma menjadi destinasi kuliner favorit, bahkan pernah disinggahi oleh konten kreator kuliner nasional ternama, Jajago Indonesia. Bisnis ini juga dipercaya melayani pesanan 1.000 porsi untuk acara pernikahan anak Bupati Sumbawa Barat serta pesanan besar dari berbagai tokoh penting di KSB.

Dapur yang Menyalakan Lentera Hidup Ibu Tunggal

Namun, jika mengintip ke dalam dapur Bakso Emak Seteluk, keindahan sejati dari usaha ini bukan terletak pada angka penjualan atau jangkauan pasarnya yang sampai ke luar negeri. Keindahan sejati itu ada pada wajah-wajah yang bekerja di balik kepulan asap kaldu rempahnya. Bersama perkembangan usahanya, Zakiah kini mampu mempekerjakan 11 orang karyawan. Dan di sinilah letak jantung kemanusiaan dari Bakso Emak Seteluk.

Di antara belasan karyawan tersebut, terdapat empat orang ibu tunggal (single parent). Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang harus berdiri di atas kaki sendiri, membesarkan dan menyekolahkan anak-anak mereka setelah ditinggal oleh sang suami. Di daerah urban maupun rural, posisi ibu tunggal sering kali dihadapkan pada kerentanan ekonomi yang luar biasa karena ketiadaan lapangan pekerjaan yang ramah terhadap peran ganda mereka sebagai kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga.

Di Bakso Emak Seteluk, keempat ibu tunggal ini menemukan lebih dari sekadar pekerjaan; mereka menemukan ruang aman dan kepedulian. Zakiah juga merangkul para tetangga sekitar rumahnya untuk ikut ambil bagian, seperti memberikan pekerjaan tambahan berupa mengupas dan menghaluskan bumbu-bumbu rempah, sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk memperkuat ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan rumah. Selain itu, beberapa karyawan adalah remaja lulusan SMA yang harus menabung secara mandiri demi bisa melanjutkan mimpi kuliah pada tahun berikutnya.

Visi besar Zakiah ke depan adalah memperluas dampak sosial ini. Ia memimpikan Bakso Emak Seteluk bisa bertransformasi menjadi pusat produksi bakso dan cilok skala besar yang berbasis pemberdayaan komunitas. Ia ingin menciptakan sistem di mana perempuan-perempuan rentan, para janda, hingga mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau eks-Saudi yang tidak memiliki pekerjaan tetap, bisa ikut andil memperjualbelikan produknya dari rumah masing-masing.

"Kami ingin mereka bisa terima beres dari kami, berjualan dari rumah untuk menghidupi anak-anak mereka, tanpa harus pergi jauh meninggalkan tanah kelahiran lagi," tutur Zakiah menutup pembicaraan.

Dari sebuah resep rumahan yang sarat akan rasa cinta seorang ibu untuk anaknya, berkembang melalui bimbingan profesional dan visi pemberdayaan yang tulus, Bakso Emak Seteluk telah membuktikan satu hal yaitu bisnis terbaik adalah bisnis yang tidak hanya mengenyangkan perut pelanggannya, tetapi juga mampu menghidupkan lentera harapan dan memuliakan martabat manusia di sekitarnya. Sehangat kuah rempahnya, begitulah usaha ini merajut masa depan bagi bumi Seteluk.

Melalui sinergi pemberdayaan lokal dan bimbingan dari AMMAN, Zakiah berharap visinya terwujud menjadikan Bakso Emak Seteluk sebagai jangkar ekonomi bagi perempuan-perempuan tangguh, para janda, hingga mantan PMI di sekitarnya. Sehangat kuah rempahnya, bisnis ini membuktikan bahwa dari sebuah resep rindu rumah, sebuah harapan baru bisa dihidangkan untuk sesama.

Cerita Singkat “Bakso Emak Seteluk”

Nama "Emak" diambil dari bahasa Sumbawa yang berarti ibu, dipadukan dengan "Seteluk" sebagai identitas tanah kelahirannya. Resep rahasia bakso ini lahir dari tangan sang ibu seorang tukang besar atau juru masak andalan di acara adat pernikahan kampung. Menggunakan 100 persen daging sapi segar dari peternak lokal tanpa campuran ayam, tanpa pengawet, dan minim penyedap rasa, Zakiah berkomitmen menyajikan kehangatan masakan ibu yang jujur dan sehat.

Namun, perjalanan mempertahankan bisnis tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mengawali usaha sebagai sampingan saat masih menjadi pegawai honorer, Zakiah sempat terseok-seok.

Titik balik itu datang saat PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) hadir memberikan pembinaan. AMMAN menyuntikkan aset terpenting yaitu ilmu. Melalui berbagai pelatihan intensif, mindset bisnis Zakiah dirombak total. Ia diajarkan cara mengelola keuangan, strategi branding, memperbaiki logo, mengoptimalkan media sosial, hingga menentukan target pasar yang tepat. Dengan AMMAN yang memfasilitasi hal tersebut, berhasil menerbangkan produk bakso frozen miliknya menembus pasar Hong Kong hingga ratusan kilogram.

Inovasi menunya pun semakin kaya, mulai dari Bakso Wajan, Mie Ayam Mangkuk, hingga produk kreatif seperti Bakso Termos Mini dan Dandang Mini yang terjual hampir 1000 porsi saat tahun baru. Kelezatan ikonik ini bahkan sempat memikat konten kreator nasional Jajago Indonesia dan dipercaya menghidangkan 1000 porsi di acara penting daerah.

Di balik kesuksesan yang kian berkembang bersama 11 karyawannya, Bakso Emak Seteluk menyimpan misi kemanusiaan yang menyentuh hati. Tempat ini menjadi ruang aman bagi mereka yang rentan, termasuk remaja lulusan SMA yang menabung untuk kuliah, serta empat orang ibu tunggal (single parent). Di dapur penuh kepulan asap kuah rempah khas Sumbawa ini, keempat ibu tunggal tersebut merajut kembali asa yang sempat patah demi menghidupi dan menyekolahkan anak-anak mereka setelah ditinggal sang suami.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Bakso Emak Seteluk #UMKM Sumbawa Barat #Kuliner Khas Sumbawa #Pemberdayaan Ibu Tunggal #amman mineral nusa tenggara