LombokPost-Tenggelamnya tongkang pengangkut batu bara di Pelabuhan Benete, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), pekan lalu masih menyisakan tanda tanya.
Insiden tersebut kini mendapat perhatian serius dari DPRD KSB karena dikhawatirkan berdampak terhadap lingkungan pesisir dan aktivitas nelayan.
Anggota Komisi III DPRD KSB Santri Yusmulyadi meminta aparat keamanan dan instansi pemerintah yang berwenang di bidang lingkungan melakukan investigasi menyeluruh terkait insiden tersebut.
"Insiden ini menyebabkan muatan batu bara itu tumlah ke laut. Ini memunculkan kekhawatiran terhadap potensi dampak bagi lingkungan pesisir. Masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut, khususnya para nelayan," tegas Santri, Kamis (13/8).
Baca Juga: Pilkades Serentak di KSB Siap Gunakan Sistem Digital, Bupati Amar Uji Coba E-Voting
Tongkang tersebut diketahui mengangkut batu bara untuk kebutuhan operasional PLTU Kertasari. Menurut Santri, investigasi diperlukan untuk mengungkap penyebab tenggelamnya tongkang sekaligus memastikan pihak yang bertanggung jawab.
Bagi dia, investigasi juga perlu mencakup pemilik dan pengelola tongkang hingga perusahaan yang menggunakan jasa pengangkutan tersebut.
"Kami minta aparat keamanan maupun instansi pemerintah yang bertanggungjawab terhadap lingkungan melakukan investigasi menyeluruh guna mengungkap penyebab tenggelamnya tongkang tersebut," katanya.
Baca Juga: Kartu Sumbawa Barat Maju Pendidikan, 11.189 Siswa Terima Biaya Awal Masuk Sekolah
Dia juga meminta hasil investigasi nantinya dibuka kepada publik. "Ini agar lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Santri menilai penanganan insiden tersebut tidak cukup hanya dengan melakukan evakuasi terhadap tongkang.
Hasil investigasi harus memberikan kepastian kepada masyarakat mengenai penyebab insiden sekaligus menjadi dasar untuk menentukan langkah pemulihan apabila ditemukan dampak terhadap ekosistem laut maupun aktivitas masyarakat pesisir.
"Kalau dalam proses penyelidikan ditemukan adanya unsur kelalaian atau pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku, maka aparat penegak hukum diharapkan menindaklanjutinya sesuai mekanisme dan peraturan perundang-undangan yang berlaku," tambahnya.
Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) KSB Abas Kurniawan menyampaikan kekhawatiran serupa. Dia menyebut, tenggelamnya tongkang hingga batu bara tumpah ke laut sebagai puncak dari berbagai persoalan yang selama ini mereka soroti.
"Mereka ini sudah beroperasi selama tiga tahun. Insiden tenggelamnya tongkang hingga batu baranya masuk ke laut itu adalah puncak dari semua persoalan yang kami khawatirkan selama ini," tegas Abas.
Baca Juga: Polisi Tangkap Warga Mataram Pemilik 5,6 Kg Ganja di Sebuah Kafe di Sumbawa Barat
Menurut Abas, persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele. Selain insiden tongkang tenggelam, masyarakat selama ini juga mengeluhkan aktivitas pengangkutan batu bara menggunakan truk di jalur Benete menuju Kertasari.
Dia mengaku, muatan batu bara yang jatuh dari truk di sepanjang jalan telah mengganggu keselamatan pengguna jalan.
"Muatan yang jatuh sepanjang jalan ini banyak menimbulkan korban jiwa. Terbaru, ada insiden kecelakaan akibat tergelincir di jalan yang dipenuhi tumpahan batu bara," sesalnya.
Atas kondisi tersebut, Abas meminta izin pengangkutan batu bara dievaluasi, bahkan jika ditemukan pelanggaran, izin perusahaan diminta dicabut. "Kontrak mereka ini sebaiknya diakhiri saja. Karena selama ini mereka hanya mementingkan bisnis tapi abai terhadap keselamatan. Baik itu pengguna jalan maupun lingkungan," tegasnya.
Baca Juga: Wabup Hanipah Pimpin Intervensi Percepatan Penurunan Stunting di KSB
Belakangan diketahui, perusahaan pengangkutan batu bara tersebut adalah PT Elang Indo Perkasa. Abas mengklaim jumlah batu bara yang jatuh ke laut akibat tenggelamnya tongkang tidak sedikit. Berdasarkan perkiraan pihaknya, material batu bara yang masuk ke laut mencapai ratusan ton.
"Kalau perhitungan kami, sejak insiden itu ada sekitar 500 sampai 1.000 ton batu bara yang jatuh ke laut di Pelabuhan Benete. Ini bukan angka sedikit, dan sangat membahayakan ekosistem setempat," sesalnya.
Editor : Jelo SangajiSumber : Lombok Post