Teluk Saleh Punya Potensi Besar, Didorong Jadi Konservasi sekaligus Pariwisata Berbasis Masyarakat

Jelo J • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 11:44 WIB
Wabup Sumbawa Mohamad Ansori berfoto bersama usai menghadiri kegiatan The Regional Exchange di aula Sumbawa Grand Hotel, Selasa (15/9).
Wabup Sumbawa Mohamad Ansori berfoto bersama usai menghadiri kegiatan The Regional Exchange di aula Sumbawa Grand Hotel, Selasa (15/9).

LombokPost-Teluk Saleh menjadi atensi dalam forum konservasi regional. Kawasan habitat penting hiu paus itu dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pengelolaan konservasi berbasis masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Sumbawa Mohamad Ansori saat menghadiri kegiatan The Regional Exchange di aula Sumbawa Grand Hotel, Selasa (15/9). Forum tersebut menjadi ajang pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai konservasi, khususnya pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang melibatkan masyarakat.

Wabup Ansori menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang memilih Kabupaten Sumbawa sebagai tuan rumah kegiatan. "Forum ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir," katanya.

Baca Juga: Salahi Izin Tinggal, Delapan WNA China Diduga Pekerja Tambang Emas di KSB Dideportasi

Dia menyebut, Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, menjadi salah satu wilayah yang dapat dijadikan rujukan dalam pengelolaan konservasi dan wisata berbasis masyarakat.

"Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran masyarakat pesisir yang berupaya menjaga ekosistem laut sekaligus mempertahankan sumber penghidupan," jelasnya.

Dia juga mengapresiasi pendampingan Yayasan Konservasi Indonesia yang sejak awal membantu masyarakat Labuhan Jambu, mulai dari membangun kesadaran menjaga lingkungan hingga memperkuat pengelolaan wisata berbasis masyarakat.

Ansori juga mengungkapkan posisi strategis Teluk Saleh dalam upaya konservasi laut. Teluk Saleh memiliki luas sekitar 1.459 kilometer persegi dan menjadi salah satu habitat penting bagi hiu paus. "Berdasarkan berbagai penelitian, kawasan tersebut diketahui memiliki populasi hiu paus yang besar," ungkap dia.

Baca Juga: Karcis Masuk Gili Balu Diprotes Dewan KSB, Ini Penjelasan Kepala Dislutkan NTB

Sejumlah temuan ilmiah juga menunjukkan Teluk Saleh berperan sebagai kawasan pembesaran atau nursery ground bagi hiu paus.

“Penemuan tersebut menguatkan dugaan para ilmuwan bahwa Teluk Saleh merupakan salah satu tempat pembesaran anak hiu paus dan menjadi catatan penting bagi dunia ilmu pengetahuan kelautan global,” katanya.

Selain nilai ekologis, Teluk Saleh merupakan bagian dari kawasan SAMOTA (Saleh, Moyo dan Tambora) yang ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia UNESCO pada 2019.

Menurut Ansori, status tersebut menunjukkan kekayaan alam Sumbawa memiliki nilai strategis bukan hanya bagi masyarakat lokal, tetapi juga dunia. "Kami berkomitmen mendukung konservasi sekaligus pengembangan pariwisata berbasis masyarakat," jelasnya.

Dia menegaskan konservasi dan kesejahteraan masyarakat bukan dua kepentingan yang harus dipertentangkan. Dengan pengelolaan yang tepat, keduanya justru dapat saling menguatkan.

“Konservasi dan kesejahteraan masyarakat bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat, yaitu pendekatan berbasis masyarakat,” tegasnya.

Pemkab akan terus mendorong sinergi pemerintah desa, kelompok masyarakat, pelaku usaha, sektor pariwisata, mitra pembangunan, serta lembaga konservasi.

Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah daya dukung lingkungan. Jumlah wisatawan harus dikelola agar tidak mengganggu ekosistem.

Khusus wisata hiu paus, kepatuhan terhadap kode etik interaksi dengan satwa juga perlu diperkuat. Mulai dari menjaga jarak aman, tidak menyentuh satwa hingga mengatur jumlah kapal dan wisatawan dalam satu waktu.

"Masyarakat di Sumbawa maupun Timor-Leste yang mengikuti forum tersebut terus mengambil peran dalam menjaga sumber daya alam di wilayah masing-masing," pinta dia.

Menurutnya, kebijakan pemerintah dan berbagai program konservasi tidak akan berjalan maksimal tanpa keterlibatan masyarakat yang berada langsung di lapangan. “Kebijakan pemerintah, program maupun pelatihan seperti ini akan berhasil apabila masyarakat di lapangan ikut menjaga dan merasa memiliki,” ungkapnya.

Editor : Jelo J
Sumber : Lombok Post
Teluk Saleh Sumbawa Konservasi Laut