LombokPost - Badan Geologi Kementerian ESDM resmi mempertahankan status Gunungapi Sangeang Api di Kabupaten Bima, NTB, pada Level II Waspada untuk periode 16-30 September 2026.
Laporan evaluasi ini ditandatangani Kepala Badan Geologi Lana Saria pada 6 Oktober 2026 dan dikirim ke BNPB, Gubernur NTB, dan Bupati Bima.
Meski secara visual terlihat kalem, data Gunung Sangeang Api tidak kalem.
Baca Juga: Catat Detailnya, Ini Jadwal Balap MotoGP Mandalika yang Perlu Diketahui Calon Penonton Sirkuit
I. Visual: Tidak Ada Asap, Tapi Kabut Tebal
Gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati sama sekali selama dua minggu itu. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur laut, timur dan tenggara. Suhu udara di sekitar pos pantau 22 – 36°C.
Foto di Lampiran 1 tanggal 30 September 2026 jam 17:42 WITA yang Lombok Post Terima menunjukkan Sangeang Api masih berdiri gagah dari arah darat, namun tanpa kepulan asap putih.
Baca Juga: Dulu Mbak Rara Coba Usir Hujan, Kini Penonton dan Pembalap MotoGP Mandalika Mungkin Berharap Hujan
II. Instrumental: Gempa Turun, Tapi Masih Tinggi
Ini yang membuat status tidak turun. Selama 16–30 September, kegempaan memang mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya, namun angkanya tetap tinggi:
- Gempa Hembusan: 32 kali
- Gempa Vulkanik Dangkal: 2 kali
- Gempa Vulkanik Dalam: 38 kali
- Gempa Tektonik Lokal: 20 kali
- Gempa Tektonik Jauh: 127 kali
Dalam laporan tersebut, Grafik Lampiran 2 dari Januari 2025 hingga 30 September 2026 menunjukkan fluktuasi tinggi, terutama vulkanik dalam yang sempat meledak di November-Desember 2025 dan kembali naik di Agustus-September 2026.Sempat ada periode carrier off (alat mati) di Februari-April dan Juni-Juli 2026.
Baca Juga: Mandalika Panas "Buanget" Penonton MotoGP Wajib Perhatikan Hal Ini
III. Potensi Bahaya: Tetap Eksplosif
Badan Geologi menegaskan, berdasarkan sejarah erupsinya, Sangeang Api punya karakter eksplosif dengan ancaman:
- Awan panas
- Aliran lava
- Lontaran batu pijar
- Gas beracun di kawasan puncak: CO2, CO, dan SO2
Yang letusan terakhir besarnya 2014 itu masih diingat warga Bima abunya sampai ke Australia.
Baca Juga: Update Lini Depan AC Milan, Endrick Berpeluang Datang, Francesco Camarda Pergi, Wort It Kah
IV. Rekomendasi Resmi yang Wajib Diperhatikan:
1. Jangan masuk radius 3 KM dari kawah, dan sektoral Timur-Tenggara sejauh 6,5 KM.
2. Dilarang keras beraktivitas di antara Lembah Sori Wala dan Sori Mantau hingga mencapai pantai, serta di Lembah Sori Boro dan Sori Oi. Ini jalur awan panas dan guguran lava.
3. Petani, pengunjung, wisatawan dilarang mendekati semua lembah sungai yang berhulu dari puncak. Antisipasi lahar hujan apalagi sekarang masuk pancaroba kemarau ke hujan.
Baca Juga: Bintang Baru AC Milan Diego Moreira Ternyata Semahal Itu
Pos PGA Sangeang Api di Desa Sangeang Darat Tawali, Kecamatan Wera, terus siaga. Informasi resmi hanya dari Badan Geologi via http://magma.esdm.go.id, IG: http://badan.geologi, dan channel WA Badan Geologi.
Status akan dievaluasi lagi secara berkala. Selama evaluasi baru belum keluar, status dianggap tetap Waspada.
Editor : Prihadi ZoldicSumber : Lombok Post