Dalam buku-buku sejarah kerap disebut, era penjajahan bangsa Eropa atas tanah-tanah merdeka di Asia, Afrika dan Amerika karena perburuan rempah. Tapi bagaimana bisa, ragam bumbu dapur itu bisa demikian kuat mendorong orang-orang kulit putih melakukan penjelajahan lintas benua?
------------------------------
Pesona rempah (Spice) dari abad pertengahan masih lekat dalam kosakata bangsa Eropa modern. Spice dalam literatur Inggris tak sekadar bermakna bumbu masakan. Spice bisa berarti seksi, cantik nan sensual.
Semisal kata Spice pada nama Spice Girls grup vokal yang terdiri atas lima gadis seksi asal Inggris. Spice juga berkonotasi pada sesuatu hal yang menggairahkan. Tempat-tempat eksotis khayali yang menantang untuk dijamah dan ditaklukkan.
Terlepas dari itu semua rempah-rempah tropis memang menggoda bangsa-bangsa Eropa di masa lampau. Para pedagang India, Turki dan Arab telah lama memonopoli perdagangan rempah tropis di Levant, wilayah Timur Mediterania.
Dari bandar inilah, para pedagang menempuh jalur darat berisiko melintasi pegunungan Alpen membawa kantung-kantung rempah menuju jantung peradaban Eropa.
Wajar kemudian harganya demikian menggiurkan. Karena itulah status sosial kerap diukur dari seberapa kaya rempah yang ditaburkan dalam sajian di meja makan. Koleksi rempah di dapur adalah ukuran kekayaan.
Jack Turner dalam Spice. The History of Temptation menyebut Jeanne d’Evreux janda Raja Charles IV dari Prancis memiliki sejumput bunga pala, enam pon lada, 13,5 pon kayu manis, 3,5 pon cengkih dan 1,25 pon kuma-kuma.
Untuk ukuran saat ini jumlah isi dapur tersebut biasa saja. Namun di Eropa abad 14, jumlah itu hanya bisa dimiliki oleh dapur-dapur para bangsawan.
Baca Juga : Lombok dan Jejak Penemuan Teori Evolusi
Jejak kekaguman Eropa terhadap rempah ini terekam juga dalam sebuah puisi anonim dari Irlandia sekitar abad ke-13. Sajak ini bercerita soal Cockayne, pulau imajiner berisi ragam kelezatan dunia yang tiada habisnya. Tentang makanan lezat yang dibumbui rempah-rempah tropis terbaik.
Cockayne seperti surga dimana lada, pala, cengkih digambarkan berbunga sepanjang tahun. Bahkan kau tak perlu memasak karena seisinya adalah makanan yang tinggal dinikmati.
Cockayne adalah produk imajinasi bangsa Eropa abad pertengahan yang sangat menggilai rempah-rempah. Karena kelangkaan dan harganya, sejak lama bumbu-bumbu ini menjadi simbol sosial. Hanya para bangsawanan yang mengkonsumsinya. Konon dengan sekantung lada, anda sudah bisa kaya raya seumur hidup.
Di Inggris, hanya orang-orang terkaya zaman itu yang mampu menaburi ampas buah pala sebagai penghangat di bawah tempat tidurnya. Karena itu wajar jika sejumlah catatan tua Eropa menyebut rempah-rempah bukan benda bumi, namun datang dari surga.
Rempah Gairah dan Penjajahan
Harum rempah terus terjaga. Giur keuntungan yang dibawanya membuat orang-orang Eropa mulai berpikir keras darimana para saudagar di pelabuhan Mediterania mendatangkan rerupa rempah . Para pelaut China, Arab maupun India telah lama merahasiakan jalur menuju pusat perdagangan rempah di Hindia.
Karena itu ketika Eropa menemukan kembali abad pencerahannya, syahwat ini semakin tak terbendung. Abad penjelajahan dimulai. Para pelaut mulai menyebar ke penjuru bumi untuk melakukan pencarian.
Tapi sejarah memberi tempat khusus bagi Christopher Columbus, pelaut oportunis kelahiran Genoa Italia 31 October 1451. Peter Martyr dalam De Orhe Novo (1530) merekam bagaimana sesumbar Columbus tentang janji penemuan negeri rempah kepada Raja Spanyol.
Ia meminta armada, lengkap dengan awak dan semua perbekalan untuk mencapai Hindia. Tak hanya rempah Columbus menjajikan tegaknya daulat Spanyol di tanah-tanah rempah yang akan ditemukan.
Oktober 1492 penjelajahan itu bermula. Pelayaran melintasi Atlantik itu membuahkan hasil. Namun sayang, alih-alih menemukan Hindia, tiga kapal yang dibawa Columbus justru mendarat di Amerika. Namun demikianlah Columbus, ia tetap yakin tanah yang didarati di sebrang benua itu adalah Hindia, negeri rempah yang termuat dalam legenda.
Karena itulah Columbus sukses meyakinkan Raja Ferdinand dan Putri Isabella. Dalam sebuah perjamuan besar di Salo del Tinell, Barcelona ia sesumbar telah menemukan Hindia. Alhasil hingga beberapa dekade kedepan orang-orang Ispania terpedaya. Mereka percaya Columbus telah menemukan Hindia.
Baca Juga : Operasi Starfish 1945: Misi Rahasia Australia yang Gagal di Sekotong
Tak mau kalah dengan Spanyol, Raja Manuel dari Portugal juga mengirim misi pencarian. Ia mengutus Vasco da Gama untuk berlayar mencari dimana sumber rempah berada.
Selepas doa terakhir di kapel Torre do Bellem, awak kapal berangkat dari Restello, Sabtu 8 Juli 1497. Mereka mengambil rute berlawanan dari Columbus dengan dengan menyusuri pesisir barat Afrika sebelum berbelok ke Samudera Hindia.
Dalam perjalanan yang lebih panjang dan berisiko ini, Vasco da Gama rupanya lebih berhasil dari pendahulunya. Hampir setahun kemudian, Mei 1498, armada yang telah kepayahan dihantam samudera ketidakpastian ini menemukan secercah harapan.
Setelah singgah di Tanjung Harapan, mereka berbelok ke timur dan mendarat di Malabar, India. Malabar di masa itu adalah kota dagang, pasar rempah tersibuk di zaman itu. Lekas ia mencatat apa yang ditemukan dan memenuhi kapal dengan rempah untuk kemudian kembali ke Portugal.
Penemuan ini menjadi cerita luar biasa di Eropa. Da Gama menemukan apa yang tak didapat oleh Columbus lengkap dengan rempah-rempah yang dicari. Penemuan ini membuat Raja Manuel semakin bergairah.
Karena itu 8 Maret 1500 ia mengirim Pedro Alvares Cabral dengan 13 kapal besar berisi serdadu bersenjata lengkap. Dalam armada besar ini jelas tujuannya tak sekadar berdagang. Manuel ingin menaklukkan, menjajah dan membangun imperium Portugis di jantung perdagangan rempah Asia. Lekas, Malabar jatuh setelah dihujani meriam Peranggi.
Dari lokasi ini armada Portugis terus bergerak ke timur untuk melebarkan kekuasaan. 11 Tahun kemudian Bandar Melaka jatuh. Pasar rempah telah mengirim mereka jauh menjajah Nusantara di belahan bumi selatan.
Tapi tumpukan pala, lada, rempah lainnya yang mengalir ke semenanjung Iberia membuat bangsa lain tergoda. Inggris, Belanda hingga Prancis ikut serta membuka daerah jajahan.
Kelak di akhir abad ke 20, Portugis yang telah letih justru tersingkir dari persaingan global. Inilah abad-abad dimana pasar ditegakkan dengan penjajahan dan penghisapan bangsa-bangsa.
Inggris dan Belanda yang datang terakhir bisa berkuasa lebih lama. Bukan sekadar berdagang dan memonopoli hasil bumi mereka telah membangun koloni.
Belanda melalui Serikat Dagang Hindia Timur (VOC) mencaplok satu persatu kepulauan nusantara. Dari Batavia koloni itu ditegakkan mulai dari Maluku, hingga Aceh. Bahkan Kerajaan kerajaan di Bali-Lombok yang sempat berkongsi dengan Belanda akhirnya diperangi juga.
Setelah Lombok di tahun 1894 satu persatu kerajan-kerajaan kecil di Bali menunggu giliran ditaklukkan. Hingga seluruh Nusantara disatukan Hindia Belanda. Namun sejarah akhirnya berkata lain.
Perang dunia II yang berkecamuk meluluhlantakkan apa yang dibangun Belanda selama lebih dari 300 tahun. Jepang datang menyerang membuat Hindia dengan segala kemegahannya benar benar tumbang.(r2/*)
*) Penulis : Zulhakim, penikmat seni dan budaya tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @ kedjoule31
*) Artikel ini pertama kali terbit di Koran Lombok Post 24 Juli 2016 Editor : Administrator