Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lombok 1934 : Jejak Gemilang Bandara Rambang

Zulhakim • Jumat, 5 Maret 2021 | 17:19 WIB
Sejumlah pesawat yang berpartisipasi dalam MacRobertson Air Race 1934 yang digelar Royal Aero Club dengan rute London Melbourne.
Sejumlah pesawat yang berpartisipasi dalam MacRobertson Air Race 1934 yang digelar Royal Aero Club dengan rute London Melbourne.

Jauh sebelum Selaparang dan BIL, Lombok pernah punya Lapangan Terbang Rambang di Lombok Timur. Sebelum perang dunia kedua meletus Rambang  menjadi saksi sejarah rintisan penerbangan antar benua, yang menghubungkan  Australia, Asia dan Eropa.

______________________________________

Photo
Photo
20 Oktober 1934 mata para pecinta dunia penerbangan  tertuju ke pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) Mildenhal di Suffolk, Inggris. Mereka menanti kabar siapa yang bakal memenangkan The MacRobertson Air Race, reli udara lintas benua terbesar di masa itu.

Reli tersebut merupakan adu cepat pesawat  dari London, Inggris menuju Melbourne, Australia yang digelar oleh Royal Aero Club. Di tengah keterbatasan teknologi penerbangan di masa itu, puluhan pesawat dari berbagai negara ikut serta menempuh rute sejauh 18.200 kilometer. Hadiahnya pun sangat menggiurkan, USD 75 ribu.

Selayaknya reli udara jarak jauh panitia menyediakan lima pitstop utama antara London dan Melbourne meliputi  Baghdad Irak, Allahabad Pakistan, Singapura, Darwin dan Charleville.

Selain itu terdapat 22 bandara lain sepanjang rute  yang dapat dijadikan lokasi transit. Disini panitia menyediakan bahan bakar dan stasiun perbaikan. Satu dari 22 bandara tersebut adalah Lapangan Terbang Rambang di Lombok Timur.

Photo
Photo
Poster MacRobertson Air Race (sumber :www.sl.nsw.gov.au)

Rambang sendiri merupakan home base bagi pesawat Douglas DC-2 PH-AJU “Uiver” milik maskapai kerajaan Belanda, KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij N.V) yang ikut serta dalam kejuaraan itu. Di akhir lomba pesawat ini keluar sebagai runner-up meski sempat terjebak badai pasir di Albury, New South Wales.

Sedangkan pemenang pertama adalah pesawat DH.88 Comet  “Comet Grosvenor House” yang diawaki  Letnan Penerbang CWA Scott dan Kapten Tom Campbell Black. Mereka menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 71 jam. Sedangkan Douglas DC-2 “Uiver” milik KLM tiba di Melbourne dengan torehan waktu 90 jam 31 menit.

Selepas lomba ini Uiver pulang dari Melbourne ke Rambang. Dalam sebuah foto milik Tropenmuseum, Belanda pesawat dan seluruh kru disambut hangat oleh para pejabat pemerintah Hindia-Belanda dan tentu saja para petinggi KLM.

Baca Juga : Operasi Starfish 1945: Misi Rahasia Australia yang Gagal di Sekotong

Sayang nasib Uiver  tak berlangsung lama. Dalam perjalanan kembali ke Eropa, 20 December 1934 pesawat ini jatuh di Ar Rutba Irak. Seluruh kru dan penumpang yang hendak pulang merayakan natal tewas.

Kemegahan rely udara  ini tidak hanya ditulis dalam buku. Even bergengsi ini juga dibuat menjadi mini seri bertajuk Half a World Away (The Great Air Race) tahun1991 oleh Marcus Cole. Film ini tayang di salah  satu stasiun TV Australia dan dibintangi sejumlah aktris peran internasional seperti  Helen Slater, Robert Reynolds, Caroline Goodall, Tim Hughes dan Barry Bostwick.

Photo
Photo
Rekor : Penerbang perempuan New Zealand, Jean Batten berpose dengan latar pesawatnya di Australia. (Sumber : express.co.uk)

Rambang  Saksi Kehebatan Jean Batten

 Dua tahun selepas The MacRobertson Trophy Air Race Rambang kembali menjadi saksi sejarah penerbangan dunia. Jean Gardner Batten pilot perempuan asal New Zealand mencatatkan rekor dunia sebagai pilot pertama yang mampu terbang sendiri (solo flight) dari London menuju New Zealand.

Dengan pesawat DC 3, Jean yang kala itu berusia 27 tahun menempuh jarak 22,891 km selama 11 hari 45 menit dari Lympne, Inggris menuju Auckland. Ini adalah rekor yang bertahan hingga bertahun-tahun kemudian.

Dalam penerbangan jarak jauh ini Jean singgah di sekitar 20 bandara. Termasuk mendarat dan mengisi bahan bakar di Rambang. Dari lokasi ini ia kemudian terbang ke Kupang untuk melanjutkan ke Darwin, Brunette Downs, Longreach, Charleville, Sydney  dan berakhir di Auckland.

BACA JUGA : Lombok dan Jejak Penemuan Teori Evolusi

Sebelumnya Jean juga beberapa kali singgah di Rambang dalam upaya pemecahan rekor terbang jarak jauh. Seperti ketika ia memecahkan rekor penerbangan solo pilot perempuan tercepat dari Inggris menuju Australia  tahun 1934.

Sebelumnya rekor ini dipegang oleh pilot tangguh lainnya Amy Johnson. Jean menempuh jarak 16.900 kilometer dalam waktu 14 hari 22 jam 30 menit.

Jean Batten sendiri lahir di Rotoura, New Zealand 15 September 1909 dari pasangan  Frederick Batten, seorang dokter gigi  dan ibu Ellen Batten. Meski semasa kecil menempuh pendidikan piano dan ballet namun perkenalannya dengan duania penerbangan di usia 18 tahun membuat semuanya berubah.

Tahun 1929 ia dan sang ibu pindah ke Inggris  dan bergabung dengan London Aeroplane Club. Dari sini ia keudian mendapat izin terbang  setahun kemudian.

Pencapaiannya dalam dunia penerbangan membuatnya dikenang dunia. Di negaranya sejumlah tempat diabadikan menggunakan namanya. Pesawat Persival Gull yang ia gunakan dalam pemecahan rekor tersebut kini diabadikan di terminal Bandara Auckland.  Sedangkan dari Kerajaan Inggris ia menerima gelar kehormatan Commander of the Order of the British Empire (CBE).

Photo
Photo
PENERBANGAN : Sebuah peta rute penerbangan Imperial Airways tahun 1935. Dalam gambar tersebut nampak posisi Lapangan Terbang Rambang Lombok menjadi salah satu bandara tujuan penerbangan maskapai asal Inggris ini. (Sumber : Wikipedia)

 Rambang  dan Penerbangan Sipil Antar Benua

Dalam novel Beyond The Blue Horizon, penulis Alexander Frater tak lupa mengenang  Rambang. Pria  Inggris-Australia ini  sekilas menyebut Rambang sebagai salah satu lapangan terbang penting pada dekade 30-an.

Beyond The Blue Horizon merupakan salah satu masterpiece Frater tentang sepak tenjang maskapai legendaris Inggris, Imperial Airways.  Perusahaan penerbangan ini beroperasi antara tahun 1924  hingga 1939 yang menghubungkan Inggris dengan daerah-daerah jajahannya di Asia, Afrika dan Australia.

Posisi Rambang yang berada di tengah-tengah jalur Singapura-Australia menjadikannya sebagai persinggahan penting bagi Imperial Airways sebelum tiba di benua Kanguru.

BACA JUGA : Lombok hingga Batavia: Perburuan Rempah dan Hasrat Para Penjajah

Selain Imperial Airways, maskapai kerajaan Belanda, KLM juga menjadikan Rambang sebagai international hub dalam penerbangan-penerbangan jarak jauhnya. Tahun 1936 KLM telah membuka rute Batavia-Sydney dimana Rambang dan Kupang menjadi alternatif transit.

Lokasi  Rambang sendiri kini masuk wilayah Desa Surabaya, Sakra Timur, Lombok. Bandara ini tak jauh dari pelabuhan Labuhan Haji. Dahulu kehadiran air strip adalah dari respons pemerintah Hindia Belanda untuk memperkuat pertahanan udara serta menopang tingginya  pertumbuhan penumpang dari Eropa ke Hindia dan Australia.

Selepas merintis KLM di tahun 1919, Belanda membangun bandara pertama di Cililitan Jakarta Timur tahun 1924 bernama Vliegveld Tjililitan. Kini bandara tersebut dikenal sebagai Bandara Halim Perdanakusuma.

Photo
Photo
RAMBANG : Para kru Pesawat Douglas DC-2 PH-AJU “Uiver” milik Maskapai Kerajaan Belanda KLM berpose bersama setelah mengikuti reli udara The MacRobertson Trophy Air Race di Bandara Rambang Lombok Timur tahun 1934.( Tropenmuseum via Wikipedia)

Beberapa tahun kemudian sejumlah lapangan terbang  di wilayah lain dibangun termasuk Rambang.

Namun sejarah Rambang untuk pengangkutan udara tak berlangsung lama. Pendaratan Jepang di Lombok 1942 lekas mengusir Belanda. Jepang menduduki Rambang untuk memperkuat armada laut yang telah tiba dan membangun tangsi militer di  sekitar Tanjung Ringgit.

Belanda bersama tentara sekutu sempat kembali setelah kekalahan Jepang pada 1945.  Roger R Marks dalam Queensland Airfield WW2-50 Years On memasukkan Rambang dalam satu dari beberapa lapangan terbang aktif di Nusa Tenggara bersama Lapangan Terbang Bima dan Sumbawa Besar di masa itu.

Namun selepas proklamasi kemerdekaan kawasan ini tak dioperasikan lagi oleh pemerintah Republik. Mereka lebih memilih membangun bandara baru bernama Pelabuhan Udara Rembiga, di Mataram.

Laman resmi Lombok Airports menyebut bandara ini mulai dibangun tahun 1956 dan diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 1959. Di awal pengoperasiannya bandara ini dilengkapi landasan  1.200 m x 30 m yang diperpanjang menjadi 1.400 m x 30 m pada tahun 1958 dan 1.850 m x 40 m pada tahun 1992.

Di masa Orde Baru nama Rembiga kemudian diubah  menjadi Bandara Udara Selaparang berdasar Surat Keputusan Menteri Perhubungan tanggal 30 Oktober 1994. Kemudian pada 1 Oktober 1995  pengelolaan Bandar Udara Selaparang  diambil alih Angkasa Pura .

Tingginya jumlah penumpang dan pertimbangan lain membuat nasib Selaparang sama dengan Rambang. Ia ditinggalkan setelah bandara baru yang lebih besar rampung dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 20 Oktober 2011.

Bandara ini bernama Lombok International Airports berlokasi di Tanak Awu, Lombok Tengah. Sementara itu jejak Rambang kini hanya tersisa tanah lapang gersang, sisa pondasi dan pos TNI AU sebagai pengelola. Nyaris tak ada penanda bahwa kawasan ini dahulunya adalah bagian dari mata rantai sejarah penerbangan dunia.  (*/r2)

*) Penulis : Zulhakim, penyuka seni dan budaya tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @ kedjoule31

*) Artikel ini pertama kali terbit di Koran Lombok Post Februari 2017

Editor : Administrator
#MacRobertson Air Race #Bandara Rambang #Zulhakim #Lombok