-------------------------
Di pertengahan abad ke-19, tepat di perairan sempit yang memisahkan Bali dan Lombok, seorang pria Inggris dengan janggut lebat dan tatapan tajam menyadari sesuatu yang ganjil. Sebuah pengamatan sederhana yang kelak akan meruntuhkan dogma lama dan melahirkan cabang ilmu baru: biogeografi.
Pria itu adalah Alfred Russel Wallace. Bagi dunia sains, ia adalah raksasa. Namun bagi warga Ampenan tahun 1856, ia mungkin hanyalah seorang tuan asing yang aneh, yang menghabiskan hari-harinya keluar-masuk hutan, menangkapi kumbang, dan menembaki burung.
Wallace menapakkan kakinya di Gumi Sasak pada 17 Juni 1856, setelah perjalanan singkat di Bali. Ia tak sendirian. Basis operasinya di kota pelabuhan Ampenan riuh oleh aktivitas.
Di sana ada Ali, asisten setianya yang tak hanya jago memasak tapi juga sigap membantu perburuan spesimen. Ada pula seorang pengulit burung profesional yang disewanya khusus untuk memastikan setiap hasil tangkapan awet sempurna.
Ampenan saat itu adalah gerbang keanekaragaman hayati yang murni. Selama lebih dari dua bulan, hingga 30 Agustus, Wallace dan timnya bekerja tanpa lelah. Mereka adalah kolektor yang rakus—dalam artian positif.
Natural History Museum mencatat sepanjang delapan tahun penjelajahannya, Wallace mengumpulkan 125.660 spesimen dan lebih dari 80.000 kumbang. Di Lombok, fokusnya unik: ia berburu varietas bebek domestik dan ayam hutan.
Ribuan kilometer jauhnya, di Inggris, Charles Darwin menunggu kiriman itu dengan sabar untuk memperkuat tesisnya tentang variasi makhluk hidup.
Namun, "wahyu" sesungguhnya bagi Wallace tidak datang dari tumpukan kumbang, melainkan dari nyanyian burung.
Baru saja meninggalkan Bali, Wallace merasakan atmosfer yang sama sekali berbeda saat memasuki hutan Lombok. Meskipun kedua pulau ini hanya berjarak sepekan pandangan mata, fauna yang menghuninya seperti berasal dari planet yang berbeda.
"Di Bali, saya melihat burung-burung yang biasa saya temui di Jawa atau Kalimantan. Mereka adalah wakil dari benua Asia," mungkin begitu pikirnya. Burung pelatuk, oriole, dan barbet meramaikan tajuk pohon Bali.
Namun di Lombok? Suasananya berubah drastis. Wallace tersentak. Alih-alih pelatuk, ia justru menemukan kakatua berjambul, burung madu yang eksotis, dan burung gosong (megapode) yang aneh—burung-burung yang justru berkerabat dekat dengan fauna Australia dan Maluku.
Seketika, Selat Lombok yang sempit itu terasa seperti jurang yang memisahkan dua peradaban zoologi yang agung.
Gelisah oleh temuannya, Wallace menulis surat kepada agennya, Stevens, pada Januari 1857. Surat yang kemudian dipublikasikan di jurnal The Zoologist itu menjadi peledak sains. Wallace menyatakan dengan tegas bahwa Bali dan Lombok berasal dari dua provinsi zoologi yang sepenuhnya berbeda.
Batas imajiner yang ditemukannya itu—kini abadi sebagai "Garis Wallace"—secara sah memisahkan Nusantara bagian barat yang berafiliasi dengan Asia, dan bagian timur yang berafiliasi dengan Australia.
Lombok, Ampenan, dan Selat Lombok tak lagi sekadar nama di peta perdagangan. Mereka telah bertransformasi menjadi titik balik sejarah sains dunia.
Pengamatan di tanah Sasak inilah yang mengasah intuisi Wallace tentang mekanisme alam. Setahun kemudian, saat menggigil karena demam malaria di Ternate, ia merumuskan tesis fenomenalnya tentang seleksi alam: "On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely From the Original Type".
Ia menyimpulkan bahwa individu yang paling mampu beradaptasi dengan lingkunganlah yang akan bertahan dalam "struggle for existence".
Esai ini, yang dikirimkan kepada Darwin, kemudian dipresentasikan bersama di Linnean Society of London pada 1 Juli 1858, menandai lahirnya teori evolusi modern.
Kini, berkat jejak kaki Wallace, Lombok diakui dunia sebagai bagian vital dari "Wallacea"—kawasan transisi biogeografi yang sangat unik, kaya akan spesies endemik, yang membentang dari Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Maluku.
Hingga hari ini, nama Alfred Russel Wallace abadi sebagai "Bapak Biogeografi". Dan Ampenan, kota tua yang kini tenang, harus bangga. Sebab di sanalah, kekayaan alam Indonesia memegang kunci utama untuk memecahkan misteri terbesar di bumi: dari mana kita, dan semua makhluk ini, berasal.
*Penulis : Dr Zulkarnaen atau akrab disapa Guru Zul, merupakan warga Lombok Diaspora di Jakarta, ASN di Kemendesa PDT
Editor : Redaksi Lombok Post