Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (9): Perangkap di Balik Perintah Ekspedisi Sinai

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 07:53 WIB
Istana Malkata
Istana Malkata

 

ANGIN pagi bertiup kencang melintasi pelataran Istana Malkata, menerbangkan debu-debu halus dari padang pasir. Di dalam balai balairung utama, suasana terasa begitu menekan.

Firaun Amenhotep III duduk di atas singgasana emasnya yang megah. Wajah sang penguasa agung tampak pucat dan guratan keletihan akibat sakit persendian yang kian parah tak lagi bisa disembunyikan.

Di samping kanan singgasana, Ratu Tiye berdiri dengan postur anggun, namun sepasang matanya menatap tajam ke arah dua pria yang berdiri di tengah ruangan.

Pria pertama adalah Jenderal Horemheb, seorang perwira militer yang tangguh dengan perawakan tegap dan kulit terbakar matahari, mewakili kekuatan garis keras pasukan Mesir. Pria kedua adalah Pendeta Tinggi Merire, yang pagi itu datang membawa utusan resmi dari Kuil Karnak.

"Yang Mulia Firaun yang Agung," ujar Jenderal Horemheb seraya membungkuk hormat dengan kepalan tangan di dada. "Laporan dari pos perbatasan timur menunjukkan gerakan mengkhawatirkan dari kelompok penyamun Habiru di semenanjung Sinai. Mereka mulai mengganggu jalur perdagangan batu pirus dan tembaga kita. Pasukan perbatasan butuh inspeksi langsung dari pimpinan tertinggi untuk mengembalikan moral prajurit."

Ratu Tiye menyipitkan matanya, langsung mengendus sesuatu yang janggal dari nada suara jenderal itu. "Dan sejak kapan seorang Jenderal senior seperti Anda membutuhkan kehadiran Firaun Tua yang sedang memulihkan kesehatan untuk sekadar mengurus kelompok penyamun gurun, Horemheb?"

Merire melangkah maju satu tindak, membungkuk sangat rendah di hadapan Firaun dan Ratu sebelum memberikan sanggahannya yang halus namun menjerat. "Bukan Firaun Agung yang kami minta untuk turun ke medan pasir yang berdebu, Gusti Ratu. Namun Kuil Karnak dan dewan jenderal memohon agar Pangeran Mahkota, Amenhotep IV, yang dikirim memimpin inspeksi ekspedisi ini."

Mendengar nama putranya disebut, Ratu Tiye mengepalkan tangannya di dalam lipatan jubah linennya. "Pangeran Mahkota?" potong Tiye, suaranya dingin menembus keheningan balairung. "Amenhotep sedang fokus pada pendidikan kenegaraan di istana. Mengapa tiba-tiba seorang pangeran yang belum diurapi harus memimpin prajurit ke wilayah konflik?"

"Justru demi nama baik Pangeran dan keutuhan takhta, Gusti Ratu," jawab Merire dengan wajah penuh kesucian palsu. "Di luar sana, di pasar-pasar Thebes dan di antara barak-barak prajurit, berkembang bisik-bisik yang meragukan ketahanan fisik Pangeran Muda. Mereka menyebut beliau terlalu lemah untuk memegang tongkat kepemimpinan. Jika Pangeran hadir di Sinai, berdiri di tengah-tengah prajurit dan mempersembahkan kemenangan di bawah naungan Amun, maka seluruh desas-desus jahat itu akan musnah seketika."

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (8): Bisikan di Ruang Gelap Karnak

Firaun Amenhotep III menghela napas berat, jemarinya yang gemetar mengetuk-ngetuk sandaran tangan singgasana yang diukir membentuk kepala singa. "Skenario ini terdengar sangat rapi, Merire. Siapa yang menanggung biaya perbekalan ekspedisi masif ini di saat kas istana sedang terbagi untuk proyek-proyek pembangunan?"

Merire tersenyum tipis, sebuah gestur yang sudah diperhitungkan dengan matang. "Kuil Karnak telah bersedia membuka gudang rahasianya, Yang Mulia. Kami menyumbangkan seratus talenta emas untuk mendukung langkah Pangeran Muda. Ini adalah bentuk komitmen dan kesetiaan kami kepada calon penguasa Mesir."

Ratu Tiye hampir saja menyuarakan penolakannya secara terbuka ketika tiba-tiba langkah kaki yang tenang terdengar memasuki balairung.

Pangeran Amenhotep IV berjalan masuk. Di belakangnya, tampak Nefertiti berjalan dengan jarak beberapa langkah, memilih untuk bersiap di balik pilar besar sambil terus mengamati situasi dengan sepasang mata gelapnya yang cermat. Sang pangeran muda mengenakan jubah linen polos tanpa ornamen berlebihan. Postur tubuhnya yang tinggi ramping tegak lurus, memancarkan aura ketenangan yang membuat Merire maupun Jenderal Horemheb mendadak merasa risih.

"Aku menerima perintah ekspedisi itu, Ayah," tegas Amenhotep IV, suaranya jernih bergaung di balairung tanpa ada keraguan sedikit pun.

Ratu Tiye menoleh kaget ke arah putranya. "Amenhotep! Jangan terburu-buru. Ini adalah—"

"Ini adalah sebuah panggung yang telah mereka siapkan dengan susah payah, Ibu," potong Amenhotep IV dengan tatapan mata yang terarah langsung pada Merire dan Horemheb. Sang pangeran tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang membuat Merire merasa seolah-olah rencananya telah dibaca luar dalam. "Pendeta Merire dan Kuil Karnak begitu dermawan menyumbangkan emas mereka agar aku pergi jauh dari Thebes. Sangat tidak sopan jika aku menolak niat baik yang begitu 'tulus' ini."

Amenhotep IV melangkah mendekati Jenderal Horemheb. "Aku akan pergi ke Sinai, Jenderal. Aku akan melihat sendiri bagaimana pasukan Mesir bertugas di garis depan. Tetapi ingat satu hal: aku pergi ke sana bukan untuk membawa mantera-mantera ketakutan dari Kuil Karnak, melainkan untuk membawa hukum Ma'at yang sejati kepada para prajurit di perbatasan."

Horemheb menundukkan kepalanya, menyembunyikan keterkejutannya atas keberanian sang pangeran muda. Sementara itu, Merire yang berdiri di sampingnya berusaha keras menutupi napasnya yang tertahan. Skenario jebakan yang dirancang di ruang gelap Karnak untuk mengisolasi dan mencelakai sang pangeran di belantara gurun pasir baru saja disetujui, namun sikap tenang Amenhotep IV justru menebarkan firasat buruk bagi sang pendeta.

Di balik pilar balairung, Nefertiti saling bertukar pandang dengan Ratu Tiye. Keduanya tahu, badai perlawanan dari elite lama telah melancarkan serangan fisiknya yang pertama: memisahkan sang akselerator dari pusat kekuasaan di Malkata. Perangkap di padang pasir Sinai telah terbuka, namun sang pangeran muda siap melangkah masuk tanpa rasa takut.

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (7): Debat Teologis di Sekolah Istana

(Bersambung)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
kuil karnak cerbung firaun Akhenaten ekspedisi sinai pangeran amenhotep IV intrik istana malkata