MALAM terakhir sebelum keberangkatan kafilah militer menuju semenanjung Sinai menyelimuti Istana Malkata dalam kesunyian yang mencekam.
Angin gurun bertiup membawa debu tipis yang menempel di sela-sela pilar batu pasir. Di paviliun barat—sebuah teras terbuka yang sengaja dirancang tanpa atap agar piringan matahari dan bintang-bintang dapat menembus langsung ke lantainya—dua sosok berdiri berdampingan.
Pangeran Amenhotep IV mengenakan baju zirah linen berlapis kulit yang terasa kaku di tubuh rampingnya. Di sampingnya, Nefertiti berdiri dengan jubah putih polos yang melambai ditiup angin malam.
Sejak keputusan ekspedisi itu diketuk di balairung istana, tak ada raut panik di wajah sang putri dari utara. Namun, sepasang matanya yang gelap memancarkan ketajaman yang sarat akan kalkulasi politik.
"Mereka tidak mengirimmu untuk menangkap para penyamun Habiru, Amenhotep," bisik Nefertiti, suaranya tenang namun menghujam langsung ke inti masalah. "Horemheb dan para jenderal perbatasan itu diikat oleh emas Karnak. Di perbatasan yang jauh dari mata Ratu Tiye, sebilah anak panah nyasar bisa dengan mudah disalahkan pada musuh."
Amenhotep IV tersenyum tipis, menatap piringan bulan yang membayang samar di atas perairan Sungai Nil. Ia mengulurkan tangannya dengan jemari panjang, menggenggam erat jemari Nefertiti. "Aku tahu, Nefertiti. Ptahmoses dan Merire mengira padang pasir Sinai adalah kuburan bagi pemikiranku. Mereka lupa bahwa gurun adalah tempat terbaik untuk melihat betapa kecilnya berhala-berhala batu mereka di bawah luasnya langit Tuhan."
"Tetapi kau harus pulang hidup-hidup," potong Nefertiti, menatap langsung ke dalam mata tirus sang pangeran. Tatapannya tidak memancarkan ketakutan seorang wanita yang ditinggal kekasih, melainkan keteguhan seorang mitra strategis yang memahami beratnya beban sejarah di pundak mereka. "Jangan biarkan dirimu terpancing oleh provokasi Horemheb di barak militer. Biarkan mereka mengira kau hanya pangeran muda yang lugu, sementara di balik itu, kau pelajari bagaimana rantai komando militer mereka bekerja."
Amenhotep IV tertegun sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan hangatnya genggaman tangan Nefertiti yang menjadi pilar penyeimbang di dalam dadanya.
"Selama aku berada di Sinai," kata Amenhotep IV, suaranya memberat penuh penekanan, "Kuil Karnak akan berusaha mengisolasimu di dalam istana ini. Mereka akan menyebarkan fitnah bahwa kehadiranmu membawa sial bagi kesehatan ayahku. Bisakah kau bertahan di tengah gurita intrik mereka bersama ibuku?"
Nefertiti menyunggingkan senyum khasnya—sebuah senyuman konstan yang memancarkan aura ketenangan mutlak. Ia mengangkat tangannya, menyentuh lambang pelindung di dada zirah Amenhotep IV. "Ibumu adalah elang yang telah berpuluh tahun mencengkeram istana ini, Amenhotep. Dan aku bukanlah merpati penakut dari Mitanni. Selagi kau menancapkan pengaruhmu di barak militer perbatasan, kami di sini akan memastikan bahwa tidak ada selembar pun papirus hukum yang bisa disahkan oleh Ptahmoses tanpa persetujuan kami."
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (9): Perangkap di Balik Perintah Ekspedisi Sinai
Gadis dari utara itu lalu menunjuk ke arah timur, tempat piringan fajar mulai menampakkan semburat merah pertamanya di balik tebing-tebing batu Thebes. Cahaya matahari pertama menyiram wajah mereka berdua, menghangatkan udara malam yang dingin.
"Lihat fajar itu," bisik Nefertiti. "Aten tidak pernah meminta izin kepada para pendeta Karnak untuk menyinari tanah Mesir pagi ini. Begitu pula janji kita. Kau pergi membawa api perubahan ke perbatasan, dan aku akan menjaga agar rumah kita tidak gulita sampai kau kembali memegang takhta."
Amenhotep IV mengepalkan tangannya, mengunci janji dua jiwa itu di bawah tatapan cahaya matahari yang murni. Di pelataran luar, suara derap kaki kuda dan dentang perisai para prajurit pengawal mulai bergaung—tanda bahwa kafilah ekspedisi Sinai telah siap bergerak.
Perangkap yang disiapkan oleh poros teokrasi tua di padang pasir telah terbuka lebar, namun sang pangeran muda melangkah keluar menuju kereta perangnya dengan satu keyakinan: bahwa fajar revolusi yang telah dinyalakan di dalam jiwanya tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh konspirasi sekelompok elite tua.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber