MALAM jatuh di celah lembah Wadi El-Arish seperti tirai hitam yang dingin dan mendadak.
Di tengah gurun Sinai, suhu udara merosot tajam dari terik membakar menjadi dingin menusuk tulang. Angin malam meraung di sela-sela tebing batu kapur, menyamarkan bunyi derit kayu dan gesekan perisai dari perkemahan militer Mesir yang membentang di dasar lembah.
Di dalam tenda utama Pangeran Mahkota, sebatang lampu minyak zaitun berkedip-kedip ditiup angin yang menyusup dari celah kain linen tebal.
Pangeran Amenhotep IV duduk bersila di atas karpet wol. Jemarinya yang masih menampakkan bekas goresan kasar akibat memindahkan batu sumur tadi siang kini memegang sepotong batu tulis.
Ia sedang menggambar peta jaringan lembah, mencatat dengan teliti bagaimana rute perbekalan mereka sengaja diarahkan ke titik-titik paling rawan.
Di luar tenda, dua prajurit Nubia bertubuh tinggi besar berdiri kaku menjaga pintu. Namun, beberapa puluh meter dari sana, di dalam tenda markas komando Jenderal Horemheb, sebuah gerakan tersembunyi sedang terjadi.
Seorang pria bertudung hitam yang menyusup melewati garis penjagaan belakang berdiri di hadapan Horemheb. Pria itu mencopot tudungnya, memamerkan kepala plontos bersih tanpa rambut—ciri khas pendeta Kuil Karnak.
Ia adalah Paneb, utusan rahasia yang dikirim langsung oleh Ptahmoses dari Thebes.
"Ujian sumur air tadi siang gagal total, Jenderal!" bisik Paneb dengan nada sengit, matanya berkilat oleh amarah yang tertahan.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (11): Barisan Kereta Perang
"Pangeran itu justru berhasil merebut hati para prajurit Nubia! Jika berita ini sampai ke pasar-pasar Thebes, narasi tentang 'pangeran rapuh' yang kita bangun bertahun-tahun akan hancur!"
Jenderal Horemheb berdiri di dekat meja peta, mengasah belati perunggunya pada batu pengasah. Suara gesekan logam yang tajam bergaung di dalam tenda yang remang-remang.
"Bocah itu memiliki intuisi yang berbahaya, Paneb," sahut Horemheb tanpa menoleh. "Dia tidak bereaksi seperti pangeran manja yang panik. Dia menggunakan keringatnya sendiri untuk meruntuhkan propaganda kalian di depan mata para prajuritku."
"Sebab itulah Ptahmoses meminta tindakan yang lebih pasti malam ini," Paneb melangkah mendekat, mengeluarkan sebuah pundi-pundi kulit yang berdenting berat berisi kepingan emas murni. "Di balik tebing timur, dua ratus penyamun Habiru telah disiap-siagakan. Mereka telah diberi petunjuk mengenai posisi tenda pangeran. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menarik mundur pengawal Nubia dari garis perimeter utara selama setengah jam sebelum tengah malam."
Horemheb menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap pundi-pundi emas di atas meja, lalu beralih menatap wajah dingin sang pendeta. "Menarik pengawal dari tenda pangeran mahkota adalah pengkhianatan tingkat tinggi, Paneb. Jika Ratu Tiye membongkar hal ini—"
"Ratu Tiye berada di seberang sungai, ratusan mil dari sini!" potong Paneb dengan bisikan tajam. "Di tengah kegelapan Sinai, jika sekelompok penyamun gurun merangsek masuk dan Pangeran Mahkota tewas terkena sabetan pedang musuh, itu adalah tragedi perang. Anda akan dipuji sebagai pahlawan yang berhasil membalas kematian pangeran dan menghancurkan Habiru. Dan Kuil Karnak akan memastikan takhta jatuh ke tangan siapapun yang bisa kita kendalikan."
Horemheb terdiam sejenak.
Ambisi militer dan godaan kekuasaan yang dijanjikan oleh gurita teokrasi Karnak akhirnya melumpuhkan rasa setianya pada garis keturunan Firaun. Ia menyapu pundi-pundi emas itu ke dalam jubahnya, lalu mengangguk pelan. "Tepat tengah malam. Jangan lewat satu detik pun."
Malam semakin larut. Keheningan lembah mendadak terasa janggal ketika patroli pengawal di sektor utara perlahan-lahan ditarik mundur dengan alasan rotasi penjagaan.
Namun, dari dalam tendanya, Amenhotep IV tidak tidur. Keheningan yang terlalu sunyi di luar mendadak memicu alarm kewaspadaan di dalam pikirannya.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (10): Di Bawah Sinar Aten
Sang pangeran muda berdiri, melangkah menuju celah kain tenda, dan menatap ke arah kegelapan tebing batu. Ia melihat bayangan-bayangan hitam mulai merayap turun dari dinding tebing tanpa suara, membawa belati berkilat di bawah sinar bulan.
"Pengkhianatan..." bisik Amenhotep IV sangat lirih.
Ia tidak berteriak panik.
Dengan ketenangan otaknya bekerja sepuluh kali lebih cepat di bawah tekanan, Amenhotep IV meraih sebuah obor minyak besar di dalam tendanya. Ia tidak melarikan diri ke belakang, melainkan melangkah keluar ke tengah pelataran terbuka dan memantikkan api pada obor tersebut.
Seketika, nyala api besar membumbung tinggi, menerangi seluruh sudut perkemahan yang gelap dan membongkar posisi puluhan penyusup Habiru yang hanya berjarak belasan langkah dari tendanya.
"Musuh di dalam perkemahan! Pertahankan Pangeran!" teriak komandan prajurit Nubia yang tersentak kaget melihat nyala api obor sang pangeran.
Seketika, perkemahan yang tadinya sunyi pecah menjadi neraka pertempuran.
Dentang perisai, teriakan perang, dan sabetan pedang bergaung di seluruh Lembah Malam. Amenhotep IV berdiri tegak di tengah pusaran pertempuran, memegang obor tinggi-tinggi sebagai titik orientasi bagi para prajuritnya yang berhamburan keluar membela sang calon penguasa.
Dari balik kegelapan tenda komando, Jenderal Horemheb dan Paneb menyaksikan skenario pengkhianatan mereka berantakan di bawah pijar cahaya obor yang dinyalakan sendiri oleh sang pangeran muda.
Malam pengkhianatan di lembah gurun itu baru saja berubah menjadi panggung pembuktian baru bahwa sang pangeran tidak mudah ditundukkan oleh kegelapan konspirasi.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (9): Perangkap di Balik Perintah Ekspedisi Sinai
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber