DERAP langkah ribuan prajurit Nubia dan dentang roda kereta perang di sepanjang tepi timur Sungai Nil mengudara bagaikan gumpalan guntur yang mendekat. Berita kepulangan rombongan ekspedisi Sinai yang mendadak telah mendahului fisik mereka, menjalar dari pasar-pasar tradisional hingga menembus benteng-benteng tebal Kuil Karnak.
Narasi yang semula disusun di ruang gelap oleh para pendeta—bahwa Pangeran Mahkota akan terkubur atau terbukti rapuh di belantara pasir—hancur berantakan. Sang pangeran tidak sekadar kembali hidup-hidup, melainkan kembali sebagai komandan yang dicintai oleh prajurit perbatasan.
Pagi itu, balai balairung Istana Malkata dipenuhi oleh riuh rendah ketegangan politik tingkat tinggi. Firaun Amenhotep III duduk di atas singgasana emasnya, ditopang oleh beberapa bantal kulit untuk menahan rasa sakit di tubuhnya yang kian lemah.
Di sampingnya, Ratu Tiye berdiri kaku, sementara Nefertiti bersiaga di sisi kanan dengan keanggunan dingin. Di seberang mereka, Pendeta Agung Ptahmoses dan Pendeta Tinggi Merire berdiri bersedekap, mencoba mempertahankan raut wajah kesucian dan ketenangan teokratis mereka, meski peluh dingin mulai membasahi dahinya yang plontos.
Pintu gerbang tembaga balairung terbuka lebar. Pangeran Amenhotep IV melangkah masuk dengan anggun.
Baju zirah kulitnya masih menampakkan noda debu merah Sinai dan bekas jelaga api. Ia berjalan kencang tanpa cela, diikuti oleh Komandan Nubia dan dua prajurit yang mengapit seorang pria yang dirantai kakinya: Paneb, pendeta muda Karnak yang tertangkap di Lembah Malam.
Di belakang mereka, Jenderal Horemheb berjalan melangkah tunduk dengan wajah pucat, kehilangan sama sekali kecongkakan militer yang dipamerkannya sebelum berangkat.
"Salam kepadamu, Ayahanda Firaun, dan kepada Ibunda Ratu," ujar Amenhotep IV, membungkuk hormat secara sempurna di depan tangga singgasana sebelum berdiri kembali dengan postur tubuh yang tegak dan berwibawa.
Amenhotep III mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang redup mendadak berbinar melihat putranya kembali tanpa cedera. "Kau kembali lebih cepat dari perkiraan, Putraku. Dan kau membawa tawanan bertudung yang dirantai di dalam istanaku sendiri. Apakah ekspedisi Sinai telah selesai?"
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (13):Api di Tengah Kegelapan dan Penyusup!
"Ekspedisi itu tidak pernah ada, Ayahanda," sahut Amenhotep IV, suaranya yang jernih dan tajam bergaung memantul di dinding-dinding pualam balairung. "Yang ada hanyalah panggung pengkhianatan yang dibeli dengan emas."
Atas isyarat jemari sang pangeran, Komandan Nubia melangkah maju dan melemparkan pundi-pundi kulit tebal ke atas lantai batu di depan tangga singgasana. Pundi-pundi itu terbelah, memuntahkan puluhan keping emas murni yang berdenting nyaring.
Kepingan-kepingan emas itu berkilauan di bawah sinar matahari pagi—dan yang paling mencolok, stempel segil resmi Kuil Karnak terukir jelas di atas permukaannya.
Suasana balairung mendadak hening mencengangkan. Ratu Tiye melangkah satu tindak ke depan, matanya berkilat bagaikan mata elang yang menemukan mangsanya.
"Emas ini," ujar Amenhotep IV sembari menunjuk kepingan di lantai, "adalah emas yang digunakan untuk membayar kelompok penyamun Habiru demi mengepung dan membakar tendaku di Lembah Wadi El-Arish. Dan pria yang dirantai di belakangku ini, Paneb, adalah utusan yang menyerahkan emas ini di tengah kegelapan malam."
Ptahmoses menegang, tongkat berkepala domba jantannya bergetar di tangannya. Namun dengan kelicikan tua yang teruji puluhan tahun, ia mencoba menyanggah. "Pangeran Muda! Ini adalah fitnah yang teramat keji terhadap Amun-Ra! Emas dari kuil kami sering dikeluarkan untuk perdagangan logistik. Pria ini mungkin mencuri emas tersebut atau disuap oleh musuh untuk menjatuhkan nama suci kuil!"
"Apakah pencuri emas kuil juga memakai jubah linen halus bermotif khusus milik kelas pendeta Karnak, Ptahmoses?" potong Ratu Tiye, suaranya menembus pembelaan sang pendeta agung bagaikan sembilat pedang.
Sang Ratu menatap langsung ke arah Ptahmoses dengan rasa jijik yang tak disembunyikan. "Atau kau ingin mengatakan bahwa Kuil Karnak begitu ceroboh hingga jajaran pendetamu bisa berkelana ke Sinai membiayai musuh negara tanpa pengetahuanmu?"
Merire di samping Ptahmoses mulai gemetar hebat, menyandarkan tubuhnya ke pilar terdekat karena ketakutan.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (12): Pengkhianatan di Lembah Malam
Amenhotep IV melangkah mendekati Ptahmoses. Tinggi tubuhnya yang unik membuat sang pangeran menatap ke bawah langsung ke arah wajah keriput sang pendeta agung.
"Pengkhianatan kalian di Sinai telah membuktikan satu hal, Pendeta Agung," bisik Amenhotep IV, suaranya tenang namun mengandung kekuatan hukum mutlak. "Kalian begitu takut pada fajar kebenaran hingga kalian bersedia bersekutu dengan para perampok gurun. Kalian mengira kegelapan gurun bisa menyembunyikan kejahatan kalian, sebagaimana kalian menyembunyikan palsunya wacana dewa-dewa di dalam ruang gelap Kuil Karnak."
Firaun Amenhotep III bangkit berdiri dari singgasananya, mengabaikan rasa sakit di persendiannya. Aura kemarahan seorang penguasa agung Mesir kembali terpancar dari matanya. Ia menunjuk ke arah Ptahmoses dan Merire.
"Lucuti seluruh hak istimewa jalur logistik Kuil Karnak di wilayah utara!" titah Firaun dengan suara menggelegar. "Dan seret pendeta pengkhianat Paneb ini ke penjara ter bawah tanah Malkata untuk diadili atas dakwaan makar terhadap Pangeran Mahkota!"
Para pengawal Nubia bergerak cepat menyeret Paneb yang meratap minta ampun, sementara Ptahmoses dan Merire membungkuk kaku sebelum mundur perlahan dengan langkah gontai, membawa kekalahan politik paling memalukan dalam sejarah teokrasi mereka.
Di atas podium, Nefertiti melangkah mendekati Amenhotep IV. Sepasang matanya yang gelap menatap jemari sang pangeran yang masih berdebu. Tanpa ragu di depan seluruh balairung, Nefertiti menggenggam jemari tersebut, menyatukan kekuatan dua jiwa yang kini berhasil meruntuhkan jaring jebakan pertama para musuh mereka.
Guncangan besar telah menghantam balai Malkata. Poros teokrasi tua di Thebes tidak hanya gagal mencelakai sang calon Firaun, melainkan kini terdesak ke sudut arena politik. Fajar revolusi yang dicita-citakan oleh sang pangeran muda telah melewati ujian darah pertamanya, dan kini bersiap melangkah menuju panggung utama kekuasaan.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : berbagai sumber