Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (15): Kesehatan Fir'aun Tua Memburuk

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 08:01 WIB
Patung Fir
Patung Fir'aun Amenhotep III

 

KEMENANGAN politik di Balai Malkata atas terbongkarnya pengkhianatan Sinai tidak lantas membawa ketenangan jangka panjang bagi istana. Angin musim gugur yang membawa udara dingin dari utara mulai menyelimuti Thebes, dan di dalam paviliun utama, bayang-bayang kematian kian merayap mendekati sang penguasa agung.

Kesehatan Firaun Amenhotep III merosot tajam. Penyakit persendian yang kronis, infeksi gigi yang parah, dan kelelahan fisik bertahun-tahun kini mengurung sang raja di atas ranjang peraduannya.

Di dalam kamar kerajaan yang temaram dan beraroma racikan obat-obatan herbal serta kemenyan medis, Ratu Tiye duduk setia di sisi peraduan suaminya. Di luar pintu kamar, dua sosok muda berdiri berdampingan dalam keheningan yang sarat kalkulasi: Pangeran Amenhotep IV dan Nefertiti.

Tabib istana keluar dari kamar dengan langkah perlahan, membungkuk sangat rendah di hadapan sang pangeran mahkota. Wajah sang tabib pucat, menyembunyikan kabar buruk yang sudah tak bisa lagi ditutupi oleh mantera atau ramuan terbaik.

"Bagaimana keadaan Ayahanda?" tanya Amenhotep IV, suaranya tenang namun menuntut kejujuran mutlak.

"Napas Yang Mulia Firaun semakin berat, Pangeran Muda," bisik sang tabib dengan jemari gemetar. "Tubuhnya menolak ramuan penawar rasa sakit. Kita... kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk dalam beberapa perputaran bulan ke depan."

Amenhotep IV menarik napas dalam-dalam, menatap pintu kayu cedar yang tertutup kaku.

Di saat yang sama, ia menyadari betul bahwa berita memburuknya kesehatan sang Firaun telah menyeberangi Sungai Nil dan sampai ke telinga Ptahmoses di Kuil Karnak. Bagi kasta pendeta tua yang baru saja terdesak akibat skandal Sinai, kematian Firaun Tua adalah celah emas yang mereka tunggu untuk melakukan manuver balasan—mencoba menggagalkan suksesi atau setidaknya membatasi kekuasaan penuh sang pangeran.

Ratu Tiye melangkah keluar dari kamar peraduan, membetulkan selendang linen mewahnya. Meski raut matanya menunjukkan duka mendalam bagi suami yang didampinginya puluhan tahun, binar mata politik sang ibu negara tetap tajam laksana sembilat belas pedang.

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (14): Guncangan di Balai Malkata

"Ptahmoses dan para jenderal tua mulai berkumpul di markas selatan pagi ini, Putraku," ujar Ratu Tiye tanpa membuang waktu. "Mereka sedang menyusun narasi bahwa pangeran yang belum diurapi secara penuh oleh ritual Karnak tidak berhak memegang kendali pemerintahan sendirian jika Firaun mangkat. Mereka ingin membentuk dewan wali kota yang diisi oleh kasta mereka."

Nefertiti melangkah satu tindak ke depan, sepasang matanya yang gelap memancarkan ketegasan yang matang. "Kita tidak boleh memberi mereka waktu untuk mengkonsolidasi kekuatan, Gusti Ratu. Kita harus mendesak penobatan Co-Regency—pemerintahan bersama—sekarang juga, selagi Firaun Agung masih bernapas dan mampu memberikan stempel resminya."

" Co-Regency..." gumam Amenhotep IV, menatap Nefertiti dengan binar takjub atas ketajaman intuisinya.

Pemerintahan bersama adalah mekanisme hukum tertinggi di mana sang pangeran mahkota diangkat menjadi Firaun pendamping (co-pharaoh) secara resmi saat Firaun terdahulu masih hidup. Dengan Co-Regency, Amenhotep IV akan memiliki wewenang eksekutif, hukum, dan militer secara mutlak tanpa perlu menunggu Firaun III wafat—dan yang paling krusial, tanpa perlu meminta izin atau "pemberkatan" manipulatif dari Kuil Karnak.

"Apakah Ayahanda memiliki kekuatan untuk menyatakan Co-Regency di depan dewan menteri?" tanya Amenhotep IV melangkah mendekati ibunya.

"Ayahmu adalah seorang raja agung sampai detik terakhir napasnya, Amenhotep," tegas Ratu Tiye, memegang kedua bahu putranya. "Dia tidak akan membiarkan kekaisaran ini jatuh ke tangan para serigala Karnak. Besok pagi, kita panggil Wazir Agung Ay dan seluruh jenderal yang masih setia. Kita umumkan pemerintahan bersama di hadapan publik."

Namun, di seberang sungai, di dalam Kuil Karnak, Ptahmoses yang mendengar desas-desus rencana Co-Regency itu langsung mengumpulkan para pengikutnya di Aula Hypostyle.

"Mereka ingin memotong jalur kita!" bentak Merire dengan wajah merah padam di hadapan Ptahmoses. "Jika anak itu diangkat menjadi Co-Regent besok, dia memiliki wewenang hukum untuk memecat kita dan menyita aset kuil sebelum kita sempat bertindak!"

Ptahmoses mencengkeram tongkat batunya, sepasang matanya yang rabun menyipit penuh dendam. "Maka kita cegah pengumuman itu! Kirim surat ke seluruh kuil cabang di Memphis dan Heliopolis. Umumkan bahwa dewa-dewa melarang penobatan dua Firaun dalam satu langit! Kita ciptakan tekanan publik bahwa Co-Regency adalah pelanggaran terhadap hukum Ma'at!"

Garis pertempuran politik tingkat tertinggi kini ditarik tepat di atas ranjang peraduan Firaun yang sedang sekarat. Di balik aroma obat-obatan dan helaan napas berat sang raja tua, dua kekuatan raksasa bersiap berbenturan demi memperebutkan stempel kekuasaan tertinggi Mesir Kuno.

 

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (13):Api di Tengah Kegelapan dan Penyusup!

(Bersambung)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
kuil karnak istana malkata co regancy pangeran amenhotep IV kesehatan amenhotep III