Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (18): Ketegangan di Jalanan Thebes

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:42 WIB
Aula Hypostyle
Aula Hypostyle

 

MATAHARI baru saja naik setinggi galah di atas langit Thebes, tetapi udara di pasar-pasar tradisional tepi timur Sungai Nil sudah mendidih oleh amarah.

Jalur pedagang gandum yang biasanya riuh oleh tawar-menawar kini berubah menjadi lautan manusia yang panik. Lapak-lapak kayu milik pedagang beras dan roti mendadak kosong.

Kain terpal yang menutupi karung-karung pasokan bahan pokok terikat rapat, ditunggui oleh orang-orang berwajah garang yang disewa oleh jaringan Kuil Karnak.

Di tengah kerumunan rakyat jelata yang memegang kantong-kantong kain kosong, seorang pendeta muda utusan Merire berdiri di atas panggung kayu pembagian jatah harian. Tangan kanannya memegang gulungan papirus maklumat pemangkasan anggaran dari Malkata, sementara tangan kirinya menunjuk ke arah langit.

"Lihatlah karung-karung gandum yang kosong ini, wahai rakyat Thebes!" teriak pendeta itu, suaranya melengking menembus kebisingan pasar. "Bukan tanah Mesir yang enggan menumbuhkan gandum, melainkan Firaun Muda kalian di Malkata yang telah menutup keran berkah! Dia mencoret nama Amun-Ra dari papirus negara, memotong persembahan suci kita, dan sekarang dewa-dewa membalasnya dengan menahan kelimpahan roti dari mulut anak-anak kalian!"

Kasak-kusuk ketakutan dan umpatan emosi mulai menjalar cepat di antara kerumunan. Wanita-wanita miskin menangis membayangkan piring yang kosong di rumah, sementara para pemuda pasar mulai terprovokasi oleh wacana bahwa krisis ini murni disebabkan oleh kesombongan sang co-regent baru.

Sabotase ekonomi yang dirancang di ruang gelap Karnak berjalan presisi: menimbun gandum di gudang rahasia kuil, meretas stabilitas harga roti, lalu menudingkan telunjuk kesalahan ke arah istana.

Namun, strategi sabotase itu tidak dibiarkan liar tanpa pengawasan. Di balik sudut gang pasar yang teduh, dua orang berkerudung linen tebal berdiri mengamati situasi.

Salah seorang di antaranya adalah Nefertiti, yang sengaja menyusup keluar dari istana didampingi oleh beberapa pengawal Nubia berpakaian preman. Dengan matanya sendiri, Nefertiti menyaksikan bagaimana sentimen publik diproduksi dan dimanipulasi secara masif oleh kasta agama tua.

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (17: Pemangkasan Anggaran Kuil

"Mereka tidak hanya menimbun gandum, Putri," bisik komandan pengawal Nubia di sampingnya. "Mata-mata kita melaporkan ada empat gudang rahasia di pinggiran distrik selatan yang dipenuhi karung gandum milik kuil yang sengaja ditahan dari pasar."

Nefertiti menyunggingkan senyum dingin di balik cadar linennya. Sepasang matanya yang gelap memancarkan ketajaman intuisi seorang penguasa sejati. "Ptahmoses mengira kita akan panik dan mengemis ampunan agar mereka membuka gudang itu. Mereka lupa bahwa logistik kekaisaran tidak hanya bertumpu pada pasar Thebes."

Nefertiti segera kembali ke Istana Malkata dan melangkah cepat menuju balai kerja Firaun Muda.

Amenhotep IV sedang berdiri di depan peta geografi Mesir ketika Nefertiti masuk dan membeberkan laporan sabotase pasar tersebut. Wazir Ay yang juga berada di ruangan itu tampak sangat cemas, memegangi dadanya yang berdebar.

"Jalanan Thebes mulai tegang, Yang Mulia!" ujar Wazir Ay dengan nada gemetar. "Jika harga roti tidak turun sebelum matahari terbenam, kerusuhan publik akan pecah, dan para jenderal sekutu Karnak akan memiliki alasan untuk mengumumkan keadaan darurat militer!"

Amenhotep IV tidak menunjukkan rasa panik sedikit pun. Tatapan matanya yang tirus tetap dingin, mencerminkan ketenangan seorang akselerator yang selalu berpikir tiga langkah di depan para musuhnya.

"Ptahmoses menggunakan taktik lama yang murahan, Ay," ucap Amenhotep IV, suaranya tenang namun mengandung kekuatan hukum yang mengikat. "Dia menimbun gandum di dalam kota untuk menciptakan kepanikan buatan. Kalau begitu, kita tidak akan membeli gandumnya. Kita bongkar kebohongannya langsung di depan mata rakyat."

Sang Firaun Muda berbalik menatap Nefertiti. "Apakah cadangan gandum kerajaan dari gudang cadangan Memphis dan Delta sudah siap dinaikkan ke kapal perahu?"

"Tiga puluh perahu kargo raksasa milik kerajaan yang membawa ribuan ton gandum segar dari Delta baru saja bersandar di dermaga barat, Amenhotep," jawab Nefertiti dengan senyum penuh kemenangan. "Aku telah memerintahkan Wazir Laut untuk mengawalnya sejak kemarin sore."

Amenhotep IV mengetukkan jemari panjangnya ke atas meja batu. "Bagus. Kita tidak akan menjual gandum itu, Ay. Kita akan bagikan gandum cadangan kerajaan itu secara gratis di seluruh alun-alun Thebes sore ini, atas nama Firaun Muda dan hukum Ma'at!"

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (16): Proklamasi Co-Regency

 

Wazir Ay terbelalak. "Dibagikan... gratis?"

"Ya!" tegas Amenhotep IV, matanya berkilat oleh api revolusi sosial. "Kita tunjukkan kepada rakyat bahwa ketika kuil-kuil pagan menyandera perut mereka demi emas, Firaun mereka justru mengenyangkan mereka tanpa meminta imbalan satu keping tembaga pun. Dan selagi pembagian gratis berlangsung, kerahkan pasukan Nubia untuk menyegel dan menyita seluruh empat gudang rahasia milik Kuil Karnak di distrik selatan atas tuduhan kejahatan penimbunan negara!"

Sore itu, jalanan Thebes berubah total dari potensi kerusuhan menjadi panggung kejutan yang memukul balik poros teokrasi tua. Puluhan kereta perunggu kerajaan meluncur ke tengah pasar, memuntahkan gandum segar secara cuma-cuma kepada rakyat yang kelaparan. Di saat yang sama, pasukan Nubia membongkar paksa pintu gudang rahasia milik kuil di depan mata warga, memamerkan karung-karung gandum yang ditimbun oleh para pendeta.

Upaya sabotase pasar yang dirancang oleh Karnak hancur berantakan dalam hitungan jam. Rakyat Thebes yang semula terprovokasi kini bersorak-sorai mengagungkan nama Firaun Muda yang adil, sementara kemurkaan mereka berbalik total menatap Kuil Karnak yang terbukti licik menyandera isi perut mereka. Dari balik menara kuilnya yang dingin, Ptahmoses dan Merire hanya bisa menggertakkan gigi menyaksikan kekalahan taktis yang teramat memalukan ini.

(Bersambung)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
sabotase pasar kuil karnak co regent amenhotep IV bagikan gandum gratis penyitaan gudang penimbunan thebes