LANGIT Thebes di penghujung musim kemarau tampak pucat laksana kain linen tua.
Di dalam Paviliun Kediaman Agung Istana Malkata, hening malam terasa tebal dan menghimpit. Bau herbal pahit, minyak mur, dan dupa pelindung tidak lagi mampu menutupi aroma dingin yang paling ditakuti oleh setiap penghuni istana: aroma helaan napas terakhir seorang penguasa agung.
Firaun Amenhotep III, Penguasa Dua Tanah yang telah memimpin Mesir selama hampir empat dekade dalam puncak kemewahan, kedamaian, dan kejayaan arsitektur, kini terbaring tak berdaya.
Tubuhnya yang dahulu tegap dalam balutan perunggu dan benang emas telah disusutkan oleh penyakit persendian dan infeksi gusi yang kronis.
Di sekeliling ranjang kayu cedar berukir lion, lilin-lilin lemak sapi berkedip lambat, memantulkan bayangan panjang di atas dinding bertatahkan pualam.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (20): Pembangunan Kuil Aten Pertama di Thebes
Ratu Tiye duduk di tepi ranjang, menggenggam jemari suaminya yang telah makin dingin. Tidak ada ratap tangis yang pecah dari bibir sang ibu negara.
Sebagai perempuan yang telah menemani perjalanan politik Firaun Tua menghadapi intrik internal dan guncangan geopolitik dunia kuno, Tiye menjaga ketenangannya dengan keteguhan yang legendaris.
Di sampingnya, Pangeran Amenhotep IV—yang kini memegang penuh tongkat Co-Regency—berdiri kaku bersama Nefertiti.
Firaun Tua perlahan membuka matanya yang kusam, menatap wajah tirus putra mahkotanya di bawah temaram cahaya lilin. Dengan sisa-sisa tenaga di tenggorokannya, ia berbisik parau, "Tanah ini... tanah ini terlampau kaya untuk dikuasai oleh mereka yang takut pada cahaya, Putraku..."
Amenhotep IV membungkuk, menempelkan dahi dan jemari panjangnya pada tangan sang ayah. "Restumu telah menjadi benteng, Ayahanda. Api yang kauizinkan bertunas di dadaku tidak akan padam."
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (20): Pembangunan Kuil Aten Pertama di Thebes
Amenhotep III mengalihkan pandangannya ke arah Ratu Tiye, mengangguk pelan satu kali—sebuah isyarat perpisahan tanpa kata antara dua jiwa yang telah memindahkan gunung-gunung kekuasaan—sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya tepat saat angin utara bertiup kencang memadamkan tiga lilin di sudut ruangan.
"Penguasa Jagat telah kembali ke alam abadi," bisik tabib istana seraya berlutut, menyentuh lantai dengan dahinya.
Seketika, kesunyian di Malkata berubah menjadi sirene duka yang teratur. Para juru sembah dan dayang-dayang mulai melafalkan kidung duka.
Namun, di dalam dada Amenhotep IV, wafatnya sang ayah bukan sekadar duka keluarga, melainkan tanda berhentinya jam pasir era transisi. Pelindung utama yang selama ini menjadi penyeimbang antara radikalisme pemikirannya dan kompromi politik masa lalu kini telah tiada.
Era Co-Regency resmi berakhir; takhta kekaisaran Mesir kini sepenuhnya berada di bawah pijak tunggal sang Firaun Muda.
Berita mangkatnya Amenhotep III menyeberangi Sungai Nil laksana kilat.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (19): Visi Teologi Baru
Di Kuil Karnak, lonceng-lonceng perunggu dan gembung drum suci dibunyikan. Namun di dalam ruang dalam, Pendeta Agung Ptahmoses dan Merire tidak sedang meratapi kepergian sang Firaun Tua. Bagi mereka, kemangkatan ini adalah garis batas psikologis.
"Masa perlindungan anak itu telah habis!" ujar Merire dengan napas terengah-engah di depan Ptahmoses, matanya memancarkan kombinasi antusiasme dan kegelisahan. "Selama ini kita tertahan karena rasa hormat veteran militer kepada Firaun Tua. Kini, tidak ada lagi benteng di antara kita dan anak kurus itu. Kita harus menuntut ritual pemakaman dan penobatan tunggal dilakukan secara penuh di bawah ritus kuno Amun di Karnak!"
Ptahmoses melangkah gontai mendekati jendela tinggi yang menghadap ke arah Istana Malkata di seberang barat. Wajah keriput sang pendeta agung tampak kian kusam di bawah sinar bulan. "Kau salah menilai momentum, Merire. Anak itu tidak akan datang mengemis ritual penobatan kepada kita. Wafatnya ayahnya bukanlah masa berduka baginya untuk tunduk, melainkan kunci pintu yang selama ini menahannya untuk melancarkan serangan pembersihan total."
Perkiraan Ptahmoses terbukti presisi. Saat prosesi pengawetan jenazah (mummification) Firaun Tua sepanjang tujuh puluh hari dimulai di bawah pengawasan ketat Ratu Tiye, Amenhotep IV yang kini menjadi Firaun tunggal langsung melangkah ke panggung kekuasaan tanpa keraguan.
Ia berdiri di teras Istana Malkata, menatap matahari pagi yang terbit merayapi puncak-puncak pylon Kuil Karnak dan Kuil Gem-pa-Aten yang setengah jadi di sampingnya.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (18): Ketegangan di Jalanan Thebes
Nefertiti melangkah mendekat, menyelimutkan jubah linen hitam seremonial ke bahu suaminya.
"Masa kompromi telah dikubur bersama Ayahanda, Nefertiti," ucap Amenhotep IV, suaranya kini menjelma menjadi suara hukum mutlak penguasa tunggal Mesir. "Selama beliau hidup, aku menghormati garis ketidaktegaan beliau pada tradisi lama. Tapi kini, Thebes telah menjadi ruangan yang terlalu sempit dan pekat untuk napas tauhid ini."
Nefertiti menatap suaminya, menangkap maksud dari kilatan mata sang Firaun yang kian tajam. "Kau tidak lagi berpikir untuk sekadar bertarung memutarkan wacana di kota ini, bukan?"
"Kota ini dibangun di atas fondasi tulang-tulang politeisme dan darah upeti yang diperas dari rakyat," tegas Amenhotep IV, menunjuk lurus ke arah padang pasir luas yang membentang di utara. "Sebuah fajar yang murni tidak bisa terbit dari tanah yang telanjur tercemar oleh racun oligarki lama. Era transisi telah usai. Saatnya kita mencari tanah yang belum pernah disentuh oleh kaki-kaki pendeta Karnak."
Wafatnya Amenhotep III menjadi penutup bagi Jilid I dari narasi besar ini. Babak pertarungan defensif di dalam lorong-lorong Istana Malkata kini selesai.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (17: Pemangkasan Anggaran Kuil
Sang Firaun Muda yang bertauhid bersiap mengambil keputusan paling radikal yang akan menggoncang peradaban dunia kuno: meninggalkan Thebes dan membangun sebuah peradaban baru dari nol di atas pasir gersang.
(Bersambung)
Sumber : Beragam Sumber