Sinar matahari pagi menyiram permukaan pualam putih di Balai Arsip Istana Akhetaten.
Di ruangan yang sejuk dan terang benderang itu, ribuan lempengan tanah liat berbentuk segi empat bertuliskan aksara paku (cuneiform) tertumpuk rapi di atas rak-rak kayu cedar.
Lempengan-lempengan yang kelak dikenal dunia modern sebagai Surat-Surat Amarna (Amarna Letters) tersebut adalah garis nadi diplomasi internasional kekaisaran—jeritan, permintaan bantuan, dan intrik politik dari para raja vasal di tanah Kanaan, Byblos, hingga Suriah.
Namun, di tengah kedamaian dan keindahan seni Amarna yang mekar, badai kegelapan sedang menggulung dari arah utara.
Kekaisaran Hittite (Hatti) yang dipimpin oleh Raja Suppiluliuma I yang ambisius mulai melintasi Sungai Efrat, mencaplok kerajaan-kerajaan kecil sekutu Mesir satu demi satu.
Di Balai Surat Istana, Akhenaten berdiri di dampingi Nefertiti dan Wazir Agung Ay. Seorang diplomat berdebu yang baru saja melompati perbatasan melukut di atas lantai pualam, menyerahkan selembar tablet tanah liat yang basah oleh keringat.
"Bacakan, Ay," perintah Akhenaten, suaranya tenang namun matanya menyipit menatap gelisah ke arah utara.
Wazir Ay membentangkan tablet tanah liat itu dan membaca terjemahan aksara Akkadia dengan suara yang bergetar:
"Kepada Firaun, Tuhanku, Matahariku... Ini adalah pesan dari Rib-Hadda, penguasa Byblos. Kota Anda berada dalam bahaya besar! Pasukan Aziru dari Amurru telah bersekutu dengan orang-orang Hittite. Mereka mengepung gerbang kami! Mengapa Anda berdiam diri? Kirimkan pasukan kereta perang Anda! Jika Anda tidak mengirimkan bantuan sekarang, Byblos akan jatuh, dan panji Mesir di Kanaan akan musnah!"
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (26): Esteika Mekar di Akhetaten
Akhenaten mengepalkan jemari panjangnya. Laporan ini bukan yang pertama. Puluhan tablet serupa dari para raja kecil di Kanaan terus berdatangan selama berbulan-bulan, meminta bantuan tentara dan emas untuk mempertahankan perbatasan.
Namun, bagi Akhenaten yang sedang memfokuskan seluruh energi negara untuk revolusi tauhid, pembangunan kota suci, dan tatanan sosial yang damai, perang ekspansi militer di perbatasan luar adalah sebuah tragedi yang bertolak belakang dengan filosofi Aten.
Sang Firaun lebih percaya pada diplomasi damai dan pengiriman emas ketimbang mengalirkan darah prajurit di padang gurun asing.
"Kita tidak boleh langsung menyulut perang besar dengan Suppiluliuma, Ay," tegas Akhenaten, menatap peta perbatasan Kanaan di atas meja. "Kirimkan emas dan beras dari gudang Delta untuk membantu pasokan perbekalan Rib-Hadda. Jalur diplomasi harus tetap diutamakan!"
Wazir Ay menelan ludah dengan susah payah. "Yang Mulia... raja-raja vasal itu tidak butuh emas atau gandum! Mereka butuh tombak dan kereta perang! Aziru dan orang-orang Hittite tidak menghormati surat diplomasi, mereka hanya tunduk pada gertakan militer Jenderal Horemheb!"
Nefertiti melangkah mendekati suaminya, menyentuh lengan Akhenaten dengan tatapan mata yang sarat kecemasan strategis. "Akhenaten... diplomasi tanpa kekuatan tempur di belakangnya adalah kelemahan di mata raja-raja utara. Jangan biarkan idealisme ketenangan kita membuat perbatasan kekaisaran runtuh."
Sementara itu, ratusan mil di sebelah selatan, di kota tua Thebes yang terlupakan, berita tentang terabaikannya krisis perbatasan menjadi angin segar bagi sisa-sisa kekuatan Kuil Karnak.
Di dalam ruangan gelapnya yang berdebu, Pendeta Tinggi Merire tersenyum licik seraya membaca salinan laporan mata-mata dari Kanaan.
"Anak itu dibutakan oleh visinya sendiri, Ptahmoses!" bisik Merire dengan nada penuh kejahatan yang meluap-luap. "Dia sibuk melukis bunga dan menyanyi untuk matahari di Amarna, sementara kota-kota perbatasan kita satu per satu jatuh ke tangan Hittite! Para jenderal di barak militer utara mulai muak dan marah karena merasa dikhianati oleh Firaun yang enggan bertempur!"
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (25): Eksodus Agung Menuju Akhetaten
Ptahmoses yang makin renta mengangkat kepalanya perlahan, sepasang matanya yang rabun menyala oleh dendam yang pekat. "Inilah celah yang kita tunggu, Merire. Perang yang diabaikan di perbatasan akan menjadi api yang membakar kota cahayanya dari dalam. Temui Jenderal Horemheb secara rahasia. Katakan padanya, jika Firaun di Amarna menolak memimpin pasukan untuk membela kehormatan Mesir, maka militer harus mulai mencari pemimpin baru yang bersedia memegang pedang!"
Krisis geopolitik di perbatasan Kanaan kian memuncak. Surat-surat penderitaan dari para raja vasal terus menumpuk di Balai Arsip Amarna tanpa tanggapan militer yang nyata.
Di dalam tembok kota cahaya yang megah, isolasi idealisme sang Firaun yang bertauhid mulai retak oleh ancaman pedang dari luar dan konspirasi militer yang merayap di dalam bayang-bayang.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber