Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (28): Byblos Jatuh ke Tangan Musuh!

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:03 WIB
Byblos
Byblos

 

Malam membungkus Kota Cahaya Akhetaten dalam hening yang mengancam. Di Balai Perang Istana Utama, pilar-pilar batu Talatat yang biasanya disiram cahaya matahari kini tampak samar dipayungi temaram lampu minyak zaitun. Di atas meja peta strategis, tumpukan lempengan tanah liat dari Kanaan berserakan. Bau debu perbatasan membaur kental dengan ketegangan yang mendidih di antara empat sosok paling berkuasa di kekaisaran.

Jenderal Horemheb berdiri menghentakkan kakinya ke lantai pualam. Baju zirah perunggu yang melekati tubuh tegapnya berdenting keras. Wajah sang jenderal veteran yang biasanya keras bak batu cadas kini memerah, dipenuhi amarah yang tak lagi mampu ia bendung.

"Tiga kota pelabuhan di Byblos telah jatuh sore ini, Yang Mulia!" bentak Horemheb, suaranya menggelegar memantul di dinding-dinding ruangan, mengabaikan tata krama istana. "Aziru sang pengkhianat itu secara terbuka telah mengibarkan bendera Raja Hittite! Para raja vasal yang dulu bersumpah setia pada ayah Anda kini dibantai karena kita hanya mengirimkan surat-surat diplomasi manis tanpa sepasang pun kereta perang!"

Akhenaten berdiri tenang di ujung meja, jemari rampingnya mengelus permukaan salah satu Surat Amarna. Tatapan matanya yang tirus tetap dingin, namun ada gurat duka yang mendalam di balik wajahnya.

"Perang hanya akan melahirkan lingkaran darah yang tak pernah usai, Horemheb," sahut Akhenaten dengan suara rendah namun tajam. "Jika aku mengirim seluruh garnisun militer ke perbatasan Kanaan, kita hanya akan masuk ke dalam jebakan Raja Suppiluliuma. Dia ingin kita menguras emas dan pasukan di sana, sementara gerbong-gerbong pengkhianat di Thebes menunggu kesempatan untuk menusuk kita dari belakang."

"Tapi kita kehilangan kekaisaran ini, Akhenaten!" potong Horemheb seraya menunjuk lurus ke wajah sang Firaun. "Prajurit-prajuritku di barak utara mulai membuang tameng mereka! Mereka bertanya-tanggung, untuk apa mereka bersumpah setia pada Firaun yang membiarkan darah saudara mereka mengering di padang pasir Kanaan demi menyanyi untuk piringan matahari?!"

"Jaga lidahmu, Horemheb!" geram Wazir Agung Ay, melangkah maju mencoba menengahi. Namun matanya sendiri tak bisa menyembunyikan rasa cemas atas situasi geopolitik yang kian membusuk.

Di sudut ruangan, Nefertiti berdiri mengamati pertengkaran itu dalam kesunyian yang mencekam. Untuk pertama kalinya sejak eksodus dari Thebes, sang Ratu melihat retakan yang sangat nyata di dalam lingkaran dalam mereka sendiri. Wazir Ay mulai ragu pada filosofi pasifisme sang Firaun, sementara Horemheb—benteng pertahanan militer utama mereka—berada di ambang batas kepatuhan.

"Jenderal Horemheb," Nefertiti melangkah maju, suaranya yang halus namun penuh wibawa seketika memotong ketegangan. "Istana tidak pernah melupakan darah para prajurit. Namun menyerang tanpa perhitungan di tanah Kanaan di saat kekuatan pasokan gandum kita baru saja pulih adalah tindakan bunuh diri."

 

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (27): Krisis Geopolitik di Perbatasan Memuncak

Horemheb menatap Ratu Nefertiti, lalu beralih menatap Akhenaten. Ia menarik napas panjang yang sarat kekecewaan, lalu menyarungkan belati perunggunya dengan dentangan keras.

"Hamba adalah seorang prajurit, Gusti Ratu," bisik Horemheb dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Hamba mengerti cara memenangkan perang, tapi hamba tidak mengerti cara membiarkan negara ini runtuh demi sebuah garis keyakinan. Jika istana menolak bergerak... maka jangan salahkan hamba jika para jenderal perbatasan mengambil tindakan sendiri untuk menyelamatkan leher mereka."

Tanpa menunggu izin Firaun, Horemheb membalikkan badannya dan melangkah keluar dari balai perang dengan derap langkah yang membara.

Wazir Ay mengusap wajahnya yang pucat. "Kita kehilangan Horemheb, Yang Mulia. Dan jika militer berbalik arah, Kuil Karnak akan menggunakan tangannya untuk mengakhiri Amarna."

Akhenaten menatap pintu yang terbuka lebar tempat Horemheb menghilang ke dalam kegelapan malam. Sang Firaun mengepalkan tangannya di atas meja peta, menyadari bahwa kota cahaya yang ia bangun dari pasir suci kini mulai dikepung oleh dua badai yang mematikan: ancaman pedang Hittite dari perbatasan luar, dan retaknya fondasi kesetiaan dari dalam dinding sarat idealisme miliknya.

(Bersambung) 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
Jenderal Horemheb Firaun Akhenaten Krisis Militer Perbatasan Kanaan Konflik Internal Istana Amarna